Alam Papua Adalah Petani Yang Meninggal

Oleh: Ever Otniel Asentowi

Tanah dan darah memutar sejarah dan dari sini nyalah api,  dari sini damai abadi. Dia jatuh tersungkur, satu peluru dalam kepala, ingatannya melayang  di sikap tapi tersiksa, hanya tersisa bangkai. Wajah suram dan hitam  seperti malam.

Rakyat  Papua memandang dan  berkata kepada yang berkuasa tetapi dibalik itu, membunuh rakyat Papua sampai  akhir napas.

Rakyat Papua  berkata dalam hati nurani yang berkuasa, tapi merampas di negara dan negerinya sendiri.  Keringat tertumpah, kaum petani bekerja kebun, sagu, buah merah, api nyawaku, ini darah jantungku dan negeri mengucap negara merdeka atau bumi yang merdeka ini, dalah kapitalisme.

Semua sama lelaki dan wanita, petani Papua meminta tanah tidak dikuras menggunakan alat- alat berat untuk membongkar hutan dan lahan wilayah- wilayah di muka bumi Cenderawasih. Pada tanah di negeri Papua adalah demi perusahaan-perusahaan besar dan kebebasan bagi rakyat tidak ada. Maka petani rakyat Papua berkata, tanah adalah kebahagian kita asli orang Papua dan anak, cucu kita nanti.

Rakyat Papua dari lelaki hingga wanita berjuang demi tanah  Papua, mereka meninggal di atas tanah ini.Di tanah kita dilahirkan mentari dari Indoesia timur itulah petani, ombak di laut itu nelayan. Petani selalu berjuang membela negeri Papua yang penuh emas, mengapa? tanah air selalu di hati.

Demi tanah air, tanpa korupsi di PT yang besar ataukah, pegawai negeri sipil?Tetap bisa dikhianati dengan biji peluru. Matahari adalah matahari, tanah untuk petani, sudah ditakdirkan sebelum kita ada di bumi ini. Semua sama tanah tercinta, hidup tercinta di negeri masing-masing, tetapi ada apa dengan negara ini ? kami orang Papua sudah banyak yang meniggal karena peluru- peluru.

kami orang Papua rela meniggal demi mempertahankan sagu, kebun,  buah merah, emas, alam, dan lain-lainnya. Tidak mungkin ada kebun, sagu, buah merah tanpa tanah! Kami dilahirkan dan dibesarkan oleh sagu, kebun, buah merah dan lain-lainnya. Kami keluar masuk penjara demi mempertahankan makanan lokal dan alam Papua. (**)

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...