22.7 C
Special Region of Papua
Sunday, June 13, 2021

Antara Pikiran dan Perasaan

Oleh: Ever Otniel Asentowi

Pada saat kita membaca buku seperti sekarang ini, apakah kita menggunakan pikiran atau perasaan? jika kita mendegarkan pidato atau mengikuti lokakarya, apakah kita menggunakan pikiran atau perasaan? semua itu adalah kegiatan belajar. Apakah kita belajar dengan berpikir atau merasa?

Cobalah kita rinci berbagai perbuatan pada  waktu belajar. Yang kita lakukan adalah memperhatikan, membandingkan , menyukai, meragukan, mengingat, dan segala macam perilaku. Belajar itu dapat digolongkan atas beberapa ranah atau satuan perilaku.

Pertama, ranah kognitif (kognisi= pengenalan) yang terdiri dari perilaku seperti mengidentifikasikan, menemukan, mengenali, menyetujui, menolak, membagi, menjumlah , memperkirakan dan sebagainya. Semua ini berkaitan dengan kegiatan kognisi atau kegiatan berpikir.

Kedua ranah efektif (afek atau efeksi= perasaan halus, rasa kasih sayang) terdiri  dari perilaku seperti: mengagumi, mengakui, menyesali, mempersoalkan, peduli, mengasihi diri dan sebagainya. Semua ituberkaitan dengan minat atau kehendak.

Ranah efektif nyata bahwa kita belajar menggunkan perasaan. Manusia adalah makhluk yang berpikir dan berperasaan. Sebab belajar dengan cara lebih menarik atau unik adalah berpikir dan berperasaan.

Oleh karena itu, cukap menyajikan bahan belajar atau ajaran, bukan melalui ranah kognitif melainkan efektif agar jangan salah mengerti.

Sayang sekali, pendekatan yang seimbang antara ranah kognitif dan efektif belum banyak digunakan terutama di Papua. Disayangkan banyak yang bersifat kognitif. Belajar dan mengajar secara utuh menjadikan nilai-nilai yang melekat pada diri kita. Kita bukan hanya tahu melaikan juga melakukan. Acuan hidup kita bukan hanya pikiran tetapi juga perasaan.

Generasi Papua mari kita belajar melihat dan merasakan kondisi  yang sekarang kita jalani atau mengalami di negeri, pedalaman dan berbagai tempat di mana kita berada. Agar kita tidak ditipu karena sudah belajar dan merasakan hal-hal yang benar maupun salah yang sudah tertanam dalam diri kita.

Seorang pepatah mengatakan “buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Dengan kita belajar dan merasa, kita bisa menghindar dari pohonnya, kita tumbuh, berkembang biak dan menghasilkan buah atau butir-butir yang  berguna di Negeri tercinta Papua, dari gunung, lembah hingga pesisir. (**)

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

Jubir TPNPB-OPM Perintah Warga Sipil Imigran Agar Segera Meninggalkan Daerah Konflik Bersenjata

DIPTAPAPUA - Obor Untuk Papua - Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (Jubir TPNPB-OPM), Sebby Sambom mengeluarkan peringatan keras...

Bupati Tambrauw Menandatangani SK Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat Marga Tafi Suku Miyah

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Bertepatan dengan hari lingkungan hidup pada 5 Juni 2021, Bupati Tambrauw, Gabriel Asem menandatangani surat keputusan (SK) Penetapan...

Kontak Senjata di Ilaga, Tiga Warga Ditembak Mati dan Tiga Lainnya Terluka

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Pasukan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan Aparat gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali melakukan kontak senjata...

AMP & Pembebasan Kupang: Bebaskan Victor Yeimo dan Tolak Otsus Jilid II Papua

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -  Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Kupang dan Pembebasan Kolektif Kota Kupang mengeluarkan tujuh (7) tuntutan merespon situasi di Tanah...

Orang Papua Kota Malang Mengecam Keras Tindakan Kelompok yang Menyerang serta Merusak Sekretariat IPMAPA

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Orang Papua Kota Malang yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA), mengecam keras penyerangan dan pengrusakan...