23.3 C
Special Region of Papua
Sunday, December 5, 2021

Antara Pikiran dan Perasaan

Oleh: Ever Otniel Asentowi

Pada saat kita membaca buku seperti sekarang ini, apakah kita menggunakan pikiran atau perasaan? jika kita mendegarkan pidato atau mengikuti lokakarya, apakah kita menggunakan pikiran atau perasaan? semua itu adalah kegiatan belajar. Apakah kita belajar dengan berpikir atau merasa?

Cobalah kita rinci berbagai perbuatan pada  waktu belajar. Yang kita lakukan adalah memperhatikan, membandingkan , menyukai, meragukan, mengingat, dan segala macam perilaku. Belajar itu dapat digolongkan atas beberapa ranah atau satuan perilaku.

Pertama, ranah kognitif (kognisi= pengenalan) yang terdiri dari perilaku seperti mengidentifikasikan, menemukan, mengenali, menyetujui, menolak, membagi, menjumlah , memperkirakan dan sebagainya. Semua ini berkaitan dengan kegiatan kognisi atau kegiatan berpikir.

Kedua ranah efektif (afek atau efeksi= perasaan halus, rasa kasih sayang) terdiri  dari perilaku seperti: mengagumi, mengakui, menyesali, mempersoalkan, peduli, mengasihi diri dan sebagainya. Semua ituberkaitan dengan minat atau kehendak.

Ranah efektif nyata bahwa kita belajar menggunkan perasaan. Manusia adalah makhluk yang berpikir dan berperasaan. Sebab belajar dengan cara lebih menarik atau unik adalah berpikir dan berperasaan.

Oleh karena itu, cukap menyajikan bahan belajar atau ajaran, bukan melalui ranah kognitif melainkan efektif agar jangan salah mengerti.

Sayang sekali, pendekatan yang seimbang antara ranah kognitif dan efektif belum banyak digunakan terutama di Papua. Disayangkan banyak yang bersifat kognitif. Belajar dan mengajar secara utuh menjadikan nilai-nilai yang melekat pada diri kita. Kita bukan hanya tahu melaikan juga melakukan. Acuan hidup kita bukan hanya pikiran tetapi juga perasaan.

Generasi Papua mari kita belajar melihat dan merasakan kondisi  yang sekarang kita jalani atau mengalami di negeri, pedalaman dan berbagai tempat di mana kita berada. Agar kita tidak ditipu karena sudah belajar dan merasakan hal-hal yang benar maupun salah yang sudah tertanam dalam diri kita.

Seorang pepatah mengatakan “buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Dengan kita belajar dan merasa, kita bisa menghindar dari pohonnya, kita tumbuh, berkembang biak dan menghasilkan buah atau butir-butir yang  berguna di Negeri tercinta Papua, dari gunung, lembah hingga pesisir. (**)

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

SEJARAH (I): Latar Belakang Lahirnya IPMT Surabaya

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Melalui Musyawarah Besar (Mubes) pada Sabtu, 20 November 2021 di Asrama Papua Kamasan III Surabaya, secara resmi Organisasi...

ESAI: Noken Mama Papua

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Louis Kabak)*"Noken Mama Papua". Tidak bisa kita pungkiri bahwa noken tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Papua....

ESAI (III): Cinta di Kiri Jalan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Maksimus Syufi)*Pada sebuah sore yang jahat, langit di Kota Rasis itu memerah dan membakar mawar berduri di...

ESAI (II): Anak Itu Sudah Mati

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Maksimus Syufi)*Besi panas yang dikirim Presiden Jokowi dari Istana itu, menembus perut dan membunuh Nopelinus Sondegau, anak...

ESAI (I): Sa Punya Nama Pengungsi

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Maksimus Syufi)*Desember 2018 di Nduga, saat itu sa ada di dalam Mama punya perut. Hingga 2019, sa...