23.3 C
Special Region of Papua
Sunday, December 5, 2021

Berburu Pasti Butuh Proses Untuk Mencapai Sasaran

Oleh: Ever Otniel Asentowi

Dalam lingkup dunia, kita sering kali mendengar istilah ‘membutuhkan  proses untuk mencapai sasaran atau tujuan’.  Kita sebagai anak terdidik harus mengetahui hal ini dalam diri kita  dan jangan ada patokan alias fokus pada satu hal  tetapi harus fokus pada berbagai hal mengenai perjalanan hidup kita di bumi Cenderawasih. Dalam lembaga pemerintahan, masyarakat, pendidikan, maupun kanak-kanak, semuanya  mulai dari proses agar mencapai tujuan/ sasaran tersebut melalui aktivitas sehari-hari yang kita lalui. Harus siap melakukan sesuatu yang sulit demi mencapai sasaran.

Perjuangan Papua untuk referendum  atau memberikan kebebasan kepada orang  Papua sudah terpahat dalam diri kita, namun proses untuk melihat  bahwa kita orang  Papua, apakah benar-benar mengiginkan kebesaan? maka sepatutnya proses perjuangan itu jangan pernah terhalang oleh ‘godaan’. Perjuangkan akan lalui pengorbanan, darah tumpah basahi tanah Papua, air mata menetes membasahi rerumputan dan dedaunan, mengeluarkan pikiran, keringat banjir di badan, apakah kita orng  Papua bersatu dari berbagai penjuru untuk melawan rasisme atau  penindasan yang   ada saat  ini?. Apakah kita orang  Papua benar-benar melindungi alam semesta serta ratu dan pangeran  Cenderawasih yang sedang menari di hutan Papua?.

Kita selalu ingat bahwa kita sebagai rumpun Melanesia di timur Indonesia ini, telah menyatakan merdeka pada tahun 1961 , yang dipenuhi oleh Bangsa Belanda, maka yang kita tagih adalah hak kami menentekuan nasib sendiri atau memintah refrendum  seperti kata Cisco pada diskusi Blacklivesmatter dan Papua melalui chanel youtube pada Minggu (31/05/2020)  “Mereka harus mengetahui apa keinginan orang Papua”.

Yang pasti adalah referendum alias bebas dan menentukan nasib sendiri di tanah Papua.  Trasmigran, trasportasi dan lain-lain, kita orang Papua merasa jauh dari kemakmuran, mengapa?  karena pangan lokal, tempat berburu, dusun, gunung, air, hutan dan tempat burung menari akan hilang. Karena mereka akan datang kuasai dan hancurkan hutan dengan perusahaan besar tanpa memikirkan kehidupan orang Papua. Apakah perusahaan mampu menjawab kesejahteraan masyarakat Papua di negerinya sendiri ?.

Misalnya di daerah Moskona, Kabupaten Bintuni dan Aifat Timur, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat, terdapat PT. Wanagalang  yang mengakibatkan penebangan pohon secara besar-besaran (jumlah yang banyak) tanpa memikirkan keberlangsungan kehidupan masyarakat sekitar dengan hutan yang menjadi tempat interaksinya.

Sangat disayangkan dan harus dipahami secara jernih, karena merusak hutan untuk masyarakat dapat mengembangkan pangan lokal serta untuk mempertahankan hidup. Juga di daerah Kebar, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, dengan kehadiran PT. Bintuni Agro Prima Perkasa  (BAPP)  menggusur sekian hektar tanah adat orang Papua khususnya orang Kebar. Buktinya, tidak menjamin ekonomi atau kehidupan warga setempat.

Hal ini yang membuat kita orang Papua butuh proses dalam sebuah perjuangan, yaitu refrendum bagi Papua. Mengapa ? sasaran hidupnya adalah kebebasan menentukan nasibnya sendiri.

Dalam kehidupan, selalu ada pasangan yang menemani atau mendampingi, yaitu “kalau ada suami pasti ada istri”. Begitu pula, “penindasan ada pada kita orang Papua, pasti ada perjuangan yang tumbuh dalam diri kita”. Maka pasti ada proses yang mengahampiri diri kita orang Papua untuk mencapai sasaran dalam hidup dan akhir kata REFERENDUM. (**)

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

SEJARAH (I): Latar Belakang Lahirnya IPMT Surabaya

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Melalui Musyawarah Besar (Mubes) pada Sabtu, 20 November 2021 di Asrama Papua Kamasan III Surabaya, secara resmi Organisasi...

ESAI: Noken Mama Papua

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Louis Kabak)*"Noken Mama Papua". Tidak bisa kita pungkiri bahwa noken tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Papua....

ESAI (III): Cinta di Kiri Jalan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Maksimus Syufi)*Pada sebuah sore yang jahat, langit di Kota Rasis itu memerah dan membakar mawar berduri di...

ESAI (II): Anak Itu Sudah Mati

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Maksimus Syufi)*Besi panas yang dikirim Presiden Jokowi dari Istana itu, menembus perut dan membunuh Nopelinus Sondegau, anak...

ESAI (I): Sa Punya Nama Pengungsi

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Maksimus Syufi)*Desember 2018 di Nduga, saat itu sa ada di dalam Mama punya perut. Hingga 2019, sa...