Coretan Hatiku Untuk Senopi

Oleh: Yoseph Mathias Teniwut

Oh… Senopiku yang jauh di Sana. Kaulah kampungku yang suci nan permai. Letakmu jauh di sana, di rimba lembah Tambrauw yang banyak menyimpan susu dan madu. Kaulah rintihan hati anak negeri. Di sanalah batinku terukir.

Tanah lembah yang subur ada di Sekelilingmu. Bukitmu bagaikan mahkota emas yang tak bersulaman. Air hening memberikan dahaga sukacita bagi bekalian bangsamu. Hawamu dingin menembus jantung dan sum-sum tulangku. Oh… Senopiku yang indah dan terpesona.

Burung Cenderawasih indah bulumu. Warna bulumu memukau hatiku. Mutu dirimu menembus langit. Kau adalah permata emasku (Teniwut, 1970).

Senopi merupakan surga yang jatuh ke bumi. Senopi adalah surga Papua bagi manusia di lembah hijau. Senopi berada di Papua Barat. Letaknya di Kabupaten Tambrauw. Di sana ada banyak susu dan madu. Singkat cerita tentang Senopi (Teniwut, 1970).

Senopi juga merupakan salah satu Kampung di lembah hijau selain kampung-kampung lain seperti Anjai. Senopi terdapat hutan rimba yang luas. Ditutupi awan dan pepohonan serta terdapat udara yang segar. Di sana mengalirnya air, sungai Kamundan yang biru dan dingin. Ada banyak ikan yang kutemukan  sepanjang ruas sungai kamundan.

Senopi diapit oleh beberapa gunung. Gunung-gunung itu adalah Gunung Vitakur, gunung Tokiri, Bukit Serbut dan Pegunungan Tambrauw. Di sinilah tempat bermain sang permata emas. Dan tak Kusangka bahwa masih banyak keunikan di lembah hijau.

Sebelum Mengakhiri Cerita Ini, Senopi Juga Mempunyai Jalan Cerita yang Panjang dan Rumit, Bagaikan Sungai Kamundan yang Berliku-liku.

Awal dibukanya Kampung Senopi pada tahun 1957-1985. Tepat 16 Maret tahun 1949 yang silam, kedatangan para misonaris Katolik Roma atau Gereja Barat oleh pater Willem Rombouts, OFM dan guru Josep Mathias Teniwut. Tempat yang pertama mereka tiba adalah Sururem. Mereka menetap di Sururem semenjak tahun 1949-1951 atau satu setengah tahun mereka berada di Sururem. Setelah mereka pindah dari Sururem ke Tintum pada tahun 1951-1957 atau kurang lebih enam tahun mereka berada di Tintum (Kathino, 2009: 33).

Di Tintum pada tahun 1951-1957 para pastor, guru-guru dan umat membangun kampung, mendirikan gereja dan sekolah. Setelah mereka tinggal di Tintum kurang lebih enam tahun lamanya, para pastor, guru-guru dan umat bergegas berjalan menuju wilayah timur. Wilayah ini dikenal dengan tempat matahari terbit (bapak Yohanes Teniwut, Wawancara 28 April 2020 di Kampung Senopi).

Tujuan mereka ke arah timur adalah untuk membuka lapangan terbang. Tempat yang dituju dan akan dibuka lapangan adalah Kebar.  Kebar terdapat hutan sabana yang luas dan dengan dataran yang cukup panjang dan lebar. Karena itu membantu mempermudah para pastor, guru-guru dan umat untuk membuka lapangan terbang.

Karena pada masa itu ketika kebutuhan pokok para pastor dan guru-guru habis maka umat harus memikul barang-barang seperti beras, kopi, teh dan gula harus melewati Saukorem dan menyimpan di salah satu toko milik missi yang ditempatkan di missi lama. Setelah itu baru dipikul ke tempat di mana para pelayan dan tenaga pengajar berada.

Kondisi geografis yang tidak memungkinkan manusia untuk harus terus melakukan aktifitas yang sama, yakni berjalan kaki, tidur di hutan berminggu-minggu untuk membawa makan para misionaris yang bertugas di sana. Maka itu menjadi desakan untuk secepatnya harus dibuka bandar udara agar semua yang menjadi kebutuhan pokok bagi para misionaris dan guru-guru penginjil bisa cepat disalurkan dan diantar oleh umat.

Dengan harapan yang besar dari pastor, bapak guru dan umat sekalian bahwa mereka akan bisa diterima di sana (Kebar) dan di sana mereka akan bisa membangun lapangan. Pada tahun 1958 pater bersama rombongannya harus meninggalkan Tintum dan berjalan menuju Anjai. Setibanya di sana mereka meminta lahan untuk membuka lapangan. Tapi nyatanya kedatangan mereka di sana ditolak oleh jemaat di Anjai dengan alasan bahwa sending sudah masuk (bapak Yohanes Teniwut, Wawancara 28 April 2020 di Kampung Senopi).

Terjadinya penolakan oleh jemat di Anjai maka para pastor, bapak guru dan umat harus berbalik ke bagian barat atau tempat matahari terbenam yakni kembali ke Tintum. Berbalik dari ke tempat yang sama karena impian dan harapannya tidak tercapai itu bukan sesuatu yang mudah. Itu adalah sesuatu yang sangat berat. Karena semua yang menjadi harapan mereka bahwa ketika ke Anjai dan di sana kami akan membuka bandara tetapi semuanya telah sirna. Kini mereka harus kembali seperti dulu. Di mana umat harus memikul bahan makanan (Bama) para pastor dari Sausapor melalui darat hingga satu minggu di tengah hutan belantara barulah tiba di tempat tujuan.

Walaupun ada penolakan dan nada tantangan  seperti itu, para misionaris dan bapak guru tidak merasa bosan dan jenuh untuk menghadapinya. Mereka berdua dan umat sekalian, tetap membangun sikap komitmen mereka untuk harus menantang itu dengan menerobos kembali ke Tintum dan ke pelosok-pelosok yang lebih jauh dan rumit lagi.

Inilah suatu pergumulan hidup bagi para misionaris, bapak guru dan umat Tuhan di Seantero Sururem dan Tintum (Senopi) pada zaman itu. Setelah mereka kembali ke Senopi di sana mereka bertemu dengan salah seorang bapak yang juga adalah tokoh besar pada zaman itu di daerah itu yakni bapak Pumaya Asiar (bapak Yohanes Teniwut, Wawancara 28 April 2020 di Kampung Senopi).

Pumaya Asiar adalah pemuda di Wilayah itu. Dia adalah orang gunung yang kemudian dibaptis secara kristen protestan dan diberi nama Thomas Asiar. Pumaya bukan sekedar pemuda ‘liar’ seperti dalam pemahaman sekarang bahwa banyak anak muda yang bermabuk-mabukan dan lain-lain, tetapi Pumaya adalah pemuda yang mempunyai pengaruh pada masa itu.

Seperti dalam paham orang Melanesia bahwa ketika seseorang mempunyai harta yang banyak, punya tanah yang luas dan punya klesn atau suku yang luas yang terkadang disegani oleh suku-suku lain, maka dia itu pantas mendapat pengangkatan dari tua-tua adat setempat sebagai kepala suku dan juga sebagai pemegang kuasa tertinggi di tempat itu untuk mengatur segala hal apa saja yang berkaitan dengan kehidupan di wilayah tersebut (bapak Yohanes Teniwut, Wawancara 28 April 2020 di Kampung Senopi).

Oleh karena itu ketika para pastor dan rombongannya pulang ke Senopi di sana mereka langsung bertemu dengan Thomas Asiar dan meminta kesediaan bapak Thomas Asiar untuk memberikan mereka lahan untuk dibuka dan mereka bisa tinggal. Dalam perbincangan dan canda tawa yang juga menghiasi, pada akhirnya bapak Thomas pun memberikan tanah bukan miliknya itu kepada para misonaris dan bapak guru untuk membuka lahan. Lahan itu dibuka dengan tujuan akan dibuka lagi penerbangan Ama di tempat ini supaya mempermudah para pastor dan para guru yang hendak melayani umat di wilayah pedalaman.

Pada saat mereka memulai membuka lahan di situ, mereka mulai memanggil umat-umat yang lain yang berada di beberapa titik yang telah dijamah oleh para misionaris sehingga mereka semua datang untuk bergotong royong membersihkan lahan tersebut. Dan bukan saja sekadar membersihkan, tetapi sampai pada akhirnya membukanya dan membuatnya menjadi lapangan penerbangan bandara Thomas Villanova Senopi, yang bisa dilihat, dinikmati dan dirasakan oleh semua umat di daerah Senopi dan juga di daerah misi Katolik dan sending.

Ketika dibuka lahan dan pada tahun 1958, gereja dan sekolah dibangun dan dengan hasil yang ada, banyak membantu manusia di wilayah setempat bisa tahu dan mengenal baca serta menulis dan juga tahu tentang bagaimana berdoa yang baik dan benar dan tindakan-tindakan konkret lain yang dibuat pada saat bandara sudah dibuka (bapak Yohanes Teniwut, Wawancara 28 April 2020).

Sebagai orang beriman kita perlu untuk tunduk dan hormat kepada Tuhan karena atas rahmat berkat-Nya, dia mampu menggerakan hati hambamu bapak Thomas Asiar yang memberikan lahan orang kepada para misionaris untuk membuka kampung, lapangan terbang dan gereja yang pada akhirnya memberikan rasa sukacita yang besar bagi kami, umat Tuhan di lembah hijau yang penuh kaya akan susu dan madu.

Senopi yang dulu dikenal dengan Tintum yang notabene adalah umat Katolik yang pernah diusir oleh Jemat di Anjai karena sending, kini telah menjadi terang kasih Kristus bagi semua umat, tidak memandang siapa engkau dan dari mana engkau datang dan apa agamamu. Malahan, umat Tuhan di wilayah setempat dengan membagikan kasihnya dengan membuka sekolah-sekolah Katolik dan yang sekolah di Sekolah Katolik itu bukan saja yang beragama Katolik tetapi semua umat manusia yang ada itu sama-sama datang sekolah. Entah itu yang beragama Protestan maupun yang beragama Katolik semuanya datang sekolah.

Hal itu terungkap demikian karena dalam paham ajaran Katolik bahwa Katolik itu universal. Karena dia universal maka Katolik dapat berlaku dan terbuka bagi siapa saja. Dengan tujuan yang sangat mulia adalah memanusia yang secitra dan segambar dengan Allah, supaya dengan itu manusia bisa dapat mengatur dirinya dan sesamanya yang lain dengan baik dan benar. Tujuan yang mulia ini telah tertulis dalam Kitab Hukum Kanonik no. 1752 yang berbunyi: “memperhatikan keselamatan jiwa-jiwa, yang dalam Gereja harus selalu menjadi hukum yang tertinggi (Konferensi Wali Gereja Indonesia, 2015: 476).”  (**)

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...