ESAI (I): Sa Punya Nama Pengungsi

DIPTAPAPUA.com – Obor Untuk Papua –

Oleh: Maksimus Syufi)*

Desember 2018 di Nduga, saat itu sa ada di dalam Mama punya perut. Hingga 2019, sa lahir pun dalam pengungsian dan sa punya nama PENGUNGSI. Sa bisa rasakan getaran di perut mama karena dia harus lari ke hutan, mama lari untuk mengungsi.

Mama pikul sa di dalam perut, tambah lagi dengan pikul noken kasbi, keladi dan petatas di belakang. Mama naik dan turun gunung, menyebrang sungai, lewati semak belukar tanpa alas kaki dan sembunyi di balik batu besar. Jika saat itu sa bisa keluar dari mama punya perut, maka sa pilih untuk bantu mama pikul noken kasbi dan lari ke hutan.

Bunyi senjata paksa sa dengan mama untuk lari dari Distrik Mugi, Kabupaten Nduga, Papua 2018 silam. Ribuan mulut senjata, ribuan kali bunyi tembakan, ribuan timah panas usir sa dengan mama dari rumah kami sendiri. Sa pikir kami orang asing, bukan orang Nduga!. Sa tanya dari rahim Mama “Mama, kenapa kita harus lari dari rumah?”. Mama terdiam, menangis sambil terus lari untuk berlindung di hutan. “Anak, sudah 60 tahun kami diburu dan ditembak di rumah kami sendiri seperti binatang buruan,” mama kasih tau sa dengan gemetaran.

Di tengah hutan Nduga, sa lahir tanpa dokter, tanpa lampu, tanpa kain untuk hangatkan sa punya tubuh yang kecil mungil ini. Mama alas daun di atas tanah untuk sa lahir dan berbaring. Saat itu angin kencang, bunyi guntur dan senjata di barat hingga timur, kilat menembus hutan lebat, hujan mulai turun, bumi Papua menangis.

Dan sa lahir. Sa lahir dengan diam! mama suruh sa diam “jangan menangis nanti mereka dengar dan tembak kita mati,” bisik mama dengan air mata di sa punya telinga. Lima jari tangan kanan mama tutup sa punya mulut, dan tangan kirinya peluk sa dengan cinta. Sa dingin, tidak ada kain! Sa haus, air susu mama sudah kering. Sa yang masih kecil, tidak tau! Kenapa sa harus lahir dalam situasi ini?.

Anak-anak kecil di Pengungsian, mereka tak bisa memilih harus lahir dari Mama Amerika, Mama Belanda ataupun Mama Indonesia. Mereka tak bisa memilih, harus lahir di rumah sakit, harus lahir dalam tangan dokter ataupun harus lahir dengan peralatan medis yang lengkap. Terlahir dari rahim Mama Papua, di atas timah panas berlumur darah, adalah resiko lahir sebagai bayi Papua.

Penulis adalah Mahasiswa Jalanan di Kota Rasis yang Selalu Mengemis Cinta dan Revolusi di Kiri Jalan)**

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...