ESAI IV: Mereka Hilang di Hutan

DIPTAPAPUA.com – Obor Untuk Papua –

Oleh: Maksimus Syufi)*

Mereka terpaksa harus kuat. Menangis di pelukan Mama, tahan dingin, kena hujan, tahan lapar, tahan haus, sembunyi di balik pohon, di balik batu. Telinga mereka harus dengar bunyi senjata, mata mereka harus lihat bapa dan mamanya ditembak, hidung mereka harus cium aroma darah yang mengalir, kulit mereka harus merinding saksikan kekerasan militer. Ahhk syg,  anak-anak kecil di Pengungsi Nduga, Wamena, Intan Jaya, Timika, Puncak, Maybrat, Papua.

Suatu sore yang bersahabat, sebuah gang panjang lurah di Kota Metropolitan, dan sa ada di sudut tembok gang itu. Ada satu gelas kopi dengan pisang goreng  di plastik merah. Ini sore yang terlalu indah, menurut saya! “Kaka dari Papua kh?” spontan pertanyaan itu terdengar dari seorang pria dengan celana panjang dan baju kemeja rapi, pasti ini mahasiswa. Sa jawab singkat “Ohhh iyaa”.

Sepertinya ini adalah pertemuan paling seru di sore yang bersahabat itu. Anak-anak umur 4 hingga 10 tahun asyik main, teriak sana sini, baku kejar, main bola di gang panjang itu, ahkk bahagia sekali nikmati masa kecil mereka. “Kaka di Papua bagaimana, aman kh?” lantang Mahasiswa di Metropolitan itu bertanya. Singkat saja “Yaaah begitulah”.

Sa diam pada beberapa detik jarum jam berputar, hari sudah semakin sore, adzan berkumandang, sedikit lagi malam datang dan anak-anak kecil di tengah Mama Kota Negara ini masih sibuk saling rebut bola. Kopi di gelas sudah dingin, pisang goreng di plastik pun hampir basih. Sa punya pikiran melayang dan bayangkan anak-anak kecil di Pengungsian. Sore mereka yang gelap di antara pohon besar, di antara gunung, di antara batu besar, mereka juga saling memberi senyum kh? Mereka saling merebut bola kh? Mereka saling kejar-kejaran dengan tawa kh?

Tidak! Mereka dikejar aparat dari rumahnya, diusir dengan bunyi tembakan, disusul timah panas. Rumahnya dibakar, sekolahnya hangus, gerejanya dijadikan markas om polisi dan om tentara. Masa kecil mereka terpaksa harus begitu! Anak kecil Nduga itu harus lari ke hutan, masing-masing berlindung di goa batu yang gulita, saling mencari “mama di mana?, bapa di mana?, salah kami apa?”. Mereka saling menghibur dengan tangis, saling belajar dari kenyataan, saling mengobati dari darah. Anak kecil itu rela meneteskan air matanya, untuk memoles sepatu papa presiden di Istana agar makin kilau.

Pemuda Indo umur 20-an tahun dengan badan gagah itu, berdiam diri di samping saya, entah apa yang dia pikir tentang saya! Apa mungkin, dia bisa merasakan apa yang saya pikir? Paling tidak dia tahu dengan kondisi pengungsian di Nduga? Ahk pasti tidak! Tidak mungkin. Nuraninya sudah diperkosa oleh informasi media massa. Derita pengungsian justru menjadi senyum manis ribuan media untuk menghibur penguasa. “Akhirnya ada pengungsian di Papua, yes kita akan jual berita ini untuk dapat bayar dari Papa Presiden”.

Anak-anak kecil di sana (Nduga) sedang menangis lapar, kedinginan, haus, takut tentara, bahkan mereka mati di pelukan Mama. Sementara, para wartawan Metropolitan sedang berpesta pora di club malam dengan gelas bir dan daging panggang panas, karena barusan dapat bayar 40 juta setelah menjual 40 ribu nyawa orang Papua di pengungsian Nduga. Luput dari mata publik, hilang dari media, haus hingga lapar dari menteri sosial, terpuruk dan mati dari kebijakan papa presiden. Mereka! Anak-anak kecil di pengungsian Nduga yang terlupakan.

Isya telah mengusir sore di gang panjang Ibu Kota itu, lampu kota Jakarta mulai benderang, orang-orang sibuk pulang kantor, pedagang kaki lima mulai menyalakan api gas, yang mapan sibuk mencari restoran untuk makan malam, orang-orang di istana sibuk menyimpan kertas-kertas putih berisi tanda tangan kontrak perusahaan asing, apakah ada nama pengungsian Nduga di antara 1X24 jam mereka?. Tidak, nama Nduga tak muncul dari mulut mereka. Media tidak memberitahu mereka bahwa di Nduga Desember 2018 silam ada pengungsian hingga detik ini.

Pemuda gagah tadi berpamitan, lalu pergi! Pelan-pelan ayunan kaki saya menuju kos kecil di gang sebelah. Ragaku lemah, jiwaku runtuh! sore ini hening di antara keramaian. Perlahan aku berjalan melewati beberapa gang, orang-orang dengan sarung sutra sedang ngopi dan bercerita tentang kehidupan. Adakah nama pengungsi Nduga di dalamnya? Mungkin? Ahk itu tidak mungkin! “Papua itu bukan soal nyawa manusia yang ditembak, tetapi soal bangun jembatan, jalan aspal, rumah mewah, bandara juga uang,” Papa Presiden bilang begitu.

Penulis adalah Mahasiswa Jalanan di Kota Rasis yang Selalu Mengemis Cinta dan Revolusi di Kiri Jalan)**

"Obor Untuk Papua"

Maksimus Syufi
Maksimus Syufi
Jurnalis Dipta Papua

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...