23.5 C
Special Region of Papua
Friday, December 4, 2020

Hutan Sagu di Abar, Warisan Nenek Moyang

Penulis: Viktoria Kandam

Sagu merupakan kebutuhan primer atau pokok bagi masyarakat Papua, terutama di kampung-kampung. Sagu dapat menggantikan beras. Oleh karena itu, menjaga hutan sagu, merupakan bagian yang harus dilakukan oleh masyarakat di Papua, seperti yang telah dilakukan oleh masyarakat di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Sabtu, 14 November 2020, sekitar pukul 11.15 Wit, kami dari Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN) bersama-sama dengan para peneliti dari Balai Arkeologi Papua, bergegas dari Dermaga Yahim, Distrik Sentani menuju ke Kampung Abar Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura.

Untuk sampai ke Kampung Abar, kami harus menggunakan perahu motor dan menyelusuri Danau Sentani. Kali ini kami menggunakan perahu motor yang dikemudikan oleh bapa Naftali Felle. Bapa Naftali adalah Kepala Suku di Kampung Abar, sekaligus Ketua Kelompok Pengrajin Gerabah Tradisional Titian Hidup.

Sagu merupakan salah satu makanan khas Papua. Tak heran, jika sampai saat ini mayoritas masyarakat Papua, khususnya yang ada di kampung-kampung masih menjadikan sagu sebagai makanan pokok mereka setiap harinya.

Hutan sagu sendiri mayoritas tumbuh di wilayah Indonesia Timur, misalnya di Maluku dan Papua. Meskipun demikian, hutan sagu di Papua mulai berkurang. Hal ini disebabkan oleh pembangunan yang semakin pesat. Selain itu, hutan sagu sebagian besar digantikan dengan perusahaan kelapa sawit.

Meskipun demikian, masih ada sebagian besar masyarakat Papua, terutama yang berada di kampung-kampung masih mempertahankan dan menjaga dengan baik hutan sagu mereka.

Salah satunya di Kampung Abar. Di mana, sampai hari ini masyarakat masih menjaga hutan sagu, peninggalan nenek moyang mereka sejak dahulu kala dengan baik.

Hutan sagu yang ada di Abar, merupakan peninggalan dari para nenek moyang yang kini dinikmati oleh anak cucu saat ini. Sedangkan, generasi saat ini tidak menanam pohon sagu.

Dipinggiran Danau Sentani terdapat 24 kampung. Setiap kampung dan setiap keluarga memiliki dusun sagunya masing-masing. Dengan kepemilikan yang beragam. Ada juga dusun sagu milik pribadi.

Dusun sagu ini dikuasai oleh ondofolo dan kepala suku. Ada sagu yang bisa bisa diambil dan dikonsumsi oleh masyarakat, tetapi ada juga sagu yang tak boleh diambil dan dikonsumsi oleh masyarakat.

Viktoria Kandam, Santi Tuu, dan Valentino Mafiti, saat melihat pohon sagu yang berada di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Sabtu (14/11). (Foto: Roberthus Yewen).

Cara mengelola sagu bagi masyarakat Sentani adalah meramu sagu. Sagu merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat di pesisir Danau Sentani. Selain itu, di setiap daerah memiliki cara pengolahan sagu yang berbeda-beda.

Untuk menghasilkan sagu, terlebih dahulu pohon sagu ditebang, kemudian dibelah menjadi dua bagian. Setelah itu, para laki-laki akan memangkur sagu  secara tradisional menggunakan kapak batu, berbentuk seperti angka tujuh. Sedangkan, para wanita akan meramas  sari sagu menggunakan air, sehingga sagu menjadi seperti tepung.

Namun sayang, saat ini benda-benda seperti kapak batu untuk memangkur sagu sudah jarang digunakan, karena digantikan dengan mesin pemarut sagu, mesin pengayak sagu, mesin pengedap sagu, mesin pemeras sagu, oven pengering sagu, mesin peniris air sagu dan mesin penepung sagu.

Memang semua sudah berubah banyak. Di mana benda-benda tradisional dalam mengolah sagu sudah digantikan dengan cara modern, cuma cara tradisional yang masih digunakan adalah pola meramas sagu.

Di Danau Sentani ada sekitar 29 jenis sagu yang berkualitas dan hasilnya berbeda-beda. Sagu yang paling bagus adalah sagu duri yang isinya berwarna merah. Sagu merah ini biasanya dikhususkan untuk anak perempuan yang sudah berkeluarga.

Sagu yang telah diolah, akan dijual dengan harga  perkarung berukuran kecil seharga 200.000,- sampai 300.000,-. Namun jika memasuki bulan Desember, harga sagu perkarung bisa mencapai 500.000,- sampai 600.000,-. Tingginya penjualan sagu ini, disebabkan juga karena hutan sagu yang semakin berkurang.

Pembangunan infranstruktur yang begitu cepat saat ini di wilayah Sentani, dikuatirkan dapat menganggu, bahkan menghilangkan hutan sagu yang ada disepanjang pinggiran Danau Sentani.

“Diharapkan agar hutan sagu tetap dijaga dengan baik, sehingga menjadi salah satu makanan pokok bagi masyarakat disepanjang pinggiran Danau Sentani,” harap Naftali. (**).

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

Pemerintah Anggap Remeh Deklarasi Benny Wenda, Ini Kata Aktivis HAM!

DIPTAPAPUA.com - Pada peringatan 1 Desember 2020 atau 59 tahun kemerdekaan Papua (1 Desember 1961), United Liberation Movement for west Papua (ULMWP) mendeklarasikan pemerintah...

Berita Hoax Terkait Dirinya, Veronica Koman Ancam Bakal Lapor ke Dewan Pers

DIPTAPAPUA.com - Dua media tanah air yakni Kompas TV dan detik.com pada Kamis (03/12/2020) memberitakan bahwa Veronica bersama sejumlah warga negara asing lakukan demonstrasi...

ULMWP Tunjuk Benny Wenda Jadi Presiden Papua Barat, TPNPB-OPM: Kami Tidak Akui

DIPTAPAPUA.com - Pada moment peringatan hari kemerdekaan Papua (1 Desember 1961-1 Desember 2020), United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menunjuk Benny Wenda sebagai...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

Pemerintah Anggap Remeh Deklarasi Benny Wenda, Ini Kata Aktivis HAM!

DIPTAPAPUA.com - Pada peringatan 1 Desember 2020 atau 59 tahun kemerdekaan Papua (1 Desember 1961), United Liberation Movement for west Papua (ULMWP) mendeklarasikan pemerintah...

Berita Hoax Terkait Dirinya, Veronica Koman Ancam Bakal Lapor ke Dewan Pers

DIPTAPAPUA.com - Dua media tanah air yakni Kompas TV dan detik.com pada Kamis (03/12/2020) memberitakan bahwa Veronica bersama sejumlah warga negara asing lakukan demonstrasi...

ULMWP Tunjuk Benny Wenda Jadi Presiden Papua Barat, TPNPB-OPM: Kami Tidak Akui

DIPTAPAPUA.com - Pada moment peringatan hari kemerdekaan Papua (1 Desember 1961-1 Desember 2020), United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menunjuk Benny Wenda sebagai...

Polisi Pamer Tulisan “Cinta Damai”, Massa Aksi: Stop Pencitraan

DIPTAPAPUA.com - Dalam aksi peringatan 59 tahun hari Papua Merdeka (1 Desember 1961), yang dilakukan oleh mahasiswa Papua serta solidaritas orang Indonesia untuk Papua...

Peringati Hari Kemerdekaan Papua, Mahasiswa Papua se-Jawa Timur Aksi di Surabaya

DIPTAPAPUA.com - Sejak 1 Desember 1961 atau 59 tahun yang lalu, di Hollandia atau kini Jayapura rakyat Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora dan mendeklarasikan...