23.5 C
Special Region of Papua
Friday, December 4, 2020

Iman Yang Menyatukan Persaudaraan

Penulis: Roberthus Yewen

“Tak ada perbedaan, hanya ada sebuah persatuan dan persaudaraan”. Demikian ungkapan kata bijak yang patut disemayatkan kepada persaudaraan yang dibangun oleh para mahasiswa-mahasiswi katolik, yang ada di kota studi Jayapura. Meskipun berbeda-beda suku, daerah, dan keuskupan, tetapi iman menyatukan persaudaraan mereka, sebagai mahasiswa katolik di negeri matahari terbit, Kota Port Numbay.

Minggu, (22/11/2020) sekitar pukul 10.30 Wit, halaman Gereja Katolik Paroki Gembala Baik Abepura, dipadati oleh para mahasiswa-mahasiswi dari Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) Se-Jayapura. Nobene mahasiswa katolik yang hadir ini berasal dari KMK Uncen, KMK USTJ, KMK Poltekkes Kemenkes Jayapura, dan beberapa KMK dari Perguruan Tinggi di Jayapura.

Langit Jayapura terlihat cerah dan biru. Matahari yang semakin menjulang tinggi, membuat beberapa mahasiswa harus berlindung dibalik pohon dan di halaman gereja, sambil menunggu pintu gereja dibukakan.

Sekitar 30 menit menunggu, kami kemudian masuk dan duduk di kursi yang berada di dalam gereja. Di dalam gereja, terlihat dua pastor sudah berada di dalamnya, yaitu Pastor Moderator Mahasiswa Keuskupan Jayapura, Yohanes Kayeme, Pr dan Pastor John Bunai, Pr.

Para petugas dari Gereja Gembala Baik mengarahkan kami, untuk duduk dan memperhatikan protokol kesehatan. Hal ini lantaran masih menyebarnya virus Corona atau Covid-19.

“Ayo duduk di kursi dan perhatikan protokol kesehatan. Duduk sesuai dengan tempat yang sudah tertera di kursi,” kata salah satu petugas kepada kami di dalam gereja.

Para Mahasiswa Katolik yang tergabung dalam KMK se-Jayapura, saat mengikuti ceramah yang disampaikan Pastor John Bunai. Pr, di Gereja Katolik Gembala Baik, Abepura,  Jayapura, Minggu (22/11/2020). (Foto: pastor Yohanes Kayame) 

Di setiap kursi sudah ditandai dengan tanda silang dan tanda bertuliskan “silahkan duduk di sini”. Tanda silang ini memberikan simbol bahwa tidak boleh duduk, sedangkan tanda tulisan ini memberikan isyarat untuk duduk, sambil memperhatikan jarak antara satu dengan yang lainnya.

Nampaknya, dalam satu kursi hanya boleh diduduki oleh 2-3 orang. Hal ini merupakan, protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh Gereja Katolik Gembala Baik Abepura, sejak pemerintah memperbolehkan untuk beribadah kembali di gereja, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Tak hanya itu, dari depan mimbar terdengar juga pesan yang sama mengenai pentingnya menjaga protokol kesehatan. Terutama di tengah-tengah masa Pandemi Covid-19 saat ini.

“Teman-teman semua, kami dari petugas gereja menghimbau untuk tetap menjaga jarak dan patuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker dan mencuci tangan, karena kalau tidak nanti kami yang ditegur,” demikian pesan Gima melalui mikrofon di depan altar dan didengar oleh kami semua yang berada di dalam gereja tersebut.

Tak lama kemudian, giliran Pastor Yohanes menyampaikan beberapa hal dari mimbar. Salah satunya, mengenai kegiatan ceramah yang disampaikan oleh Pastor John Bunai dengan tema “Spritual Tertentu”. Tak hanya itu, ceramah ini akan diakhiri dengan perayaan ibadah Misa bersama yang dipimpin langsung oleh Pastor Yohanes dan Pastor John.

Kemudian, Pastor Yohanes mempersilahkan Pastor John, untuk menyampaikan ceramah kepada para mahasiswa katolik. Tak lama kemudian, Pastor John yang duduk di bangku keempat di bagian depan langsung berdiri dan menuju ke mimbar tempat mikrofon berada.

Pastor John memakai jubah berwarna putih, dengan gaya humoris yang dimiliki selama ini mulai memperkenalkan diri dan membawa ceramah. Ceramah yang disampaikan Pastor John sangat realistis dengan kondisi mahasiswa katolik saat ini.

Pastor John Bunai. Pr, saat memberikan ceramah kepada para Mahasiswa Katolik yang tergabung dalam KMK se-Jayapura, di Gereja Katolik Gembala Baik, Abepura, Jayapura, Minggu (22/11/2020). (Foto: Roberth)

Tak hanya itu, di dalam ruangan kami sesekali tertawa, lantaran ceramah yang disampaikan oleh Pastor John dengan cara dan gaya anak muda. Sehingga, tak heran kami selalu tertawa berbehak-behak, ketika ada hal-hal yang lucu dari ceramah yang disampaikan tersebut.

Dalam ceramah ini ditekankan bahwa mahasiswa katolik harus mengenali diri sendiri, kenali cara berpikir secara masing-masing, lihat diri sendiri dan jangan samakan dengan orang lain, hidup selalu mempunyai batas dan yang terpenting harus selalu berdoa sebelum dan sesudah tidur.

Tak terasa sudah sekitar 30 menit Pastor John menyampaikan ceramah. Namun, dengan gaya humoris ini membuat para mahasiswa ingin ceramah dilanjutkan, tetapi karena waktu membatasi, sehingga ceramah kemudian diakhiri oleh Pastor John dengan sebuah cerita mob. Mob yang diceritakan ini sangat memberikan makna terhadap kehidupan mahasiswa saat ini.

“Lakukanlah pekerjaan-pekerjaan kecil di kampusmu masing-masing, tetapi dengan cinta yang besar,” pesan terakhir dalam ceramah yang disampaikan Pastor John. sebelum turun dari mimbar.

Setelah ceramah, acara kemudian dilanjutkan, dengan perayaan ibadah misa secara bersama-sama yang dipimpin oleh kedua Pastor tersebut. Kami kemudian, mengikuti perayaan ibadah misa dengan seksama mulai dari awal, pertengahan sampai berakhirnya perayaan ibadah ekaristi tersebut.

Ceramah dan ibadah misa ini, benar-benar menyatukan persaudaraan dan kekeluargaan kami, terutama sebagai keluarga besar mahasiswa katolik di berbagai perguruan tinggi yang ada di kota studi Jayapura.

Meskipun, kami berbeda-beda suku, daerah, keuskupan, dan berbeda kampus, tetapi iman kekatolikan dapat menyatukan persaudaraan kami, sebagai para mahasiswa katolik di Jayapura. (**).

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

Pemerintah Anggap Remeh Deklarasi Benny Wenda, Ini Kata Aktivis HAM!

DIPTAPAPUA.com - Pada peringatan 1 Desember 2020 atau 59 tahun kemerdekaan Papua (1 Desember 1961), United Liberation Movement for west Papua (ULMWP) mendeklarasikan pemerintah...

Berita Hoax Terkait Dirinya, Veronica Koman Ancam Bakal Lapor ke Dewan Pers

DIPTAPAPUA.com - Dua media tanah air yakni Kompas TV dan detik.com pada Kamis (03/12/2020) memberitakan bahwa Veronica bersama sejumlah warga negara asing lakukan demonstrasi...

ULMWP Tunjuk Benny Wenda Jadi Presiden Papua Barat, TPNPB-OPM: Kami Tidak Akui

DIPTAPAPUA.com - Pada moment peringatan hari kemerdekaan Papua (1 Desember 1961-1 Desember 2020), United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menunjuk Benny Wenda sebagai...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

Pemerintah Anggap Remeh Deklarasi Benny Wenda, Ini Kata Aktivis HAM!

DIPTAPAPUA.com - Pada peringatan 1 Desember 2020 atau 59 tahun kemerdekaan Papua (1 Desember 1961), United Liberation Movement for west Papua (ULMWP) mendeklarasikan pemerintah...

Berita Hoax Terkait Dirinya, Veronica Koman Ancam Bakal Lapor ke Dewan Pers

DIPTAPAPUA.com - Dua media tanah air yakni Kompas TV dan detik.com pada Kamis (03/12/2020) memberitakan bahwa Veronica bersama sejumlah warga negara asing lakukan demonstrasi...

ULMWP Tunjuk Benny Wenda Jadi Presiden Papua Barat, TPNPB-OPM: Kami Tidak Akui

DIPTAPAPUA.com - Pada moment peringatan hari kemerdekaan Papua (1 Desember 1961-1 Desember 2020), United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menunjuk Benny Wenda sebagai...

Polisi Pamer Tulisan “Cinta Damai”, Massa Aksi: Stop Pencitraan

DIPTAPAPUA.com - Dalam aksi peringatan 59 tahun hari Papua Merdeka (1 Desember 1961), yang dilakukan oleh mahasiswa Papua serta solidaritas orang Indonesia untuk Papua...

Peringati Hari Kemerdekaan Papua, Mahasiswa Papua se-Jawa Timur Aksi di Surabaya

DIPTAPAPUA.com - Sejak 1 Desember 1961 atau 59 tahun yang lalu, di Hollandia atau kini Jayapura rakyat Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora dan mendeklarasikan...