Jujur Sejati dan Jujur Semu

Oleh: Roberth Yewen

Justus fide vivit (orang yang jujur hidup dalam kepercayaan). Demikian sebuah ungkapan dari Bahasa latin yang mempunyai makna yang mendalam tentang kejujuran merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kepercayaan.

Zaman sekarang atau istilah keren bagi anak-anak muda sekarang, yaitu zaman “now” sulit sekali menemukan adanya orang berhati domba dan berbulu domba. Artinya orang jujur berhati mulai atau jujur sudah jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang selalu mengobar janji dalam dunia politik, bisnis, dan bahkan dunia percintaan bahwa dirinya paling jujur, namun teryata “menjilat kembali ludahnya”. Artinya dia adalah pelaku utama ketidakjujuran atau hanya “jujur semu” di depan panggung sandiwara, namun di belakang menjadi aktor dari ketidakadilan di dunia ini.

Misalnya mereka berjanji untuk menjadi politisi yang bersih tanpa korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), tetapi nyatanya tak sedikitpun aktor politik yang terlibat KKN, bahkan Indonesia dinyatakan sebagai darurat “KKN”. Tidak hanya itu, banyak pria dan wanita yang awalnya berkata jujur terhadap pasangannya untuk hidup sampai mati, tetapi justru berpaling dan mencari peganti yang baru.

Inilah kehidupan nyata yang dialami sehari-hari bahwa, memang menurut pakar sosiolog modern Erving Goffman, hidup adalah sandiwara untuk mempertahankan kesan. Ada “back stage” dan “front stage” ( setting dan front personal (penampilan dan gaya). Setiap orang bisa bersandiwara berkata jujur, tetapi teryata kejujurannya hanya semua dan bersifat sementara.

Di zaman now ini sulit secara mencari orang yang “jujur sejati”, bahkan jarang ditemukan orang-orang seperti begini. Namun demikian, kita harus optimis bahwa kejujuran yang sejati tidak bisa datang dari mana-mana dan dari siapa-siapa, tetapi harus datang dari setiap pribadi masing-masing.

Jujur “Hebat” dan Jujur “Harus Dari Diri Sendiri”

Slogan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang keren setiap hari di dengar, bahkan anak Taman Kanak-Kanak (TK) pun bisa menjawab, yaitu jujur itu hebat. Slogan ini tentu memberikan makna yang mendalam tentang kejujuran yang sejati melambangkan kehebatan seseorang dalam kehidupannya sehari-hari.

Hanya orang-orang jujur sajalah yang berhak mendapatkan predikat dan apresiasi dari KPK sebagai orang hebat, karena dapat menolak segala bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang justru menghancurkan reputasinya sebagai penegak kejujuran dalam kehidupannya sehari-hari.

Untuk mencapai kejujuran yang sejati tidak bisa datang dari mana-mana (seperti yang dijelaskan di atas), tetapi harus datang dari diri sendiri untuk komitmen dan konsisten dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya dengan berkata dan berbuat yang jujur serta tidak pura-pura menjadi pelaku jujur semu yang teryata di belakang panggung menjadi penjilat bagi orang lain.

Membangun kultur atau budaya jujur yang sejati harus dimulai dari diri sendiri, karena tanpa diri sendiri perubahan tentang sikap dan perilaku serta tindakan sehari-hari sebagai pelaku-pelaku kejujuran yang sejati akan semakin sulit ditemukan dalam dunia yang dewasa ini.

Dalam teori sosiologi ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu efektif (ilmu pengetahuan), kongnetif (sikap), dan psikomotorik (perilaku). Ilmu pengetahuan yang tinggi tidak dapat menjamin orang akan jujur. Oleh karena itu, sikap dan perilaku harus dibangun dengan budaya yang jujur, sehingga orang tidak hanya mempunyai intelektual dan pengetahuan yang tinggi saja, tetapi mempunyai sikap dan perilaku jujur yang siap untuk membangun negeri ini, tanpa sandiwara.

Bangun Budaya Jujur Sejati Untuk Membangun Bangsa

Bangsa ini tidak bisa dibangun oleh orang-orang yang memakai topeng kejujuran yang semu, sedangkan aslinya adalah menjadi maling bagi rakyatnya sendiri. Budaya kejujuran yang ditanamkan sejak nenek moyang kita di kampung-kampung harus dibangun dan digelorakan kembali.

Kejujuran harus dibangun mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, perkantoran, perusahaan, dan petugas parkir di jalan rayapun harus membangun budaya kejujuran yang sejati, karena inilah cerminan bangsa. Jika jujur adalah budaya, maka akan menjadi cerminan sebagai bangsa yang jujur, tetapi jika budaya ketidakjujuran yang ditonjolkan, maka akan memberikan dampak yang buruk terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penulis novel berkebangsaan Indonesia, Tere Liye, mengatakan bahwa “kejujuran itu seperti cermin. Sekali dia retak, pecah, mak jangan harap dia akan pulih seperti sedia kala. Tidak hanya itu, “kejujuran itu seperti susu yang putih, jika diteteskan kopi sedikit, maka akan berubah warna. Hal ini mengajarkan kita tentang pentingnya membangun budaya jujur tanpa kebohongan dengan pencederai dan melukai budaya jujur yang telah ditanamkan sejak kita lahir.

Jika kita jujur, maka kata William Fulker, bahwa jangan takut untuk mengangkat suara tentang kejujuran, dan kebenaran serta kasih sayang untuk melawan ketidakjujuran atau ketidakadilan, kebohongan, dan keserakahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di manapun kita berada.

Kejujuran yang sejati akan melahirkan cinta yang sejati untuk membangun negeri ini dengan sungguh-sungguh demi tanah air dan tanpa adanya tindakan-tindakan penyimpang atau ketidakjujuran atau ketidakadilan yang justru berdampak kepada kehancuran bangsa dan negara.

Pemeran film senior Indonesia era 80-an, Yati Octavia, mengungkapkan bahwa “jika rumah tangga dilandasi cinta, kejujuran, dan keterbukaan, rumah tangga tak akan mudah goyah di terpa angina”. Rumah tangga bangsa ini tak akan tergoyahkan, bahkan akan diakui oleh negara-negara di dunia, jika pemimpin dan rakyatnya mulai belajar dan harus dilandasi dengan kekuatan cinta, kejujuran, dan keterbukaan.

Jangan berharap dan bermimpi bangsa ini akan maju, jika kita tidak mempunyai rasa cinta, kejujuran, dan keterbukaan di dalam rumah bangsa ini untuk mewujudkan rumah dengan budaya yang jujur dan selalu membangun rasa cinta dan terbuka sebagai sesame anak bangsa di negeri ini. (**).

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...