Kesekian Kalinya, Mahasiswa dan Rakyat Papua di Manokwari Turun Jalan Menolak Otsus Jilid II

DIPTAPAPUA.com – Bertepatan dengan hari lahirnya Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat, pada era Presiden Megawati Soekarno Putri, November 2001 yang lalu kebijakan Otsus diberikan kepada dua provinsi di ujung timur Indonesia tersebut. Lantaran kebijakan tersebut dinilai gagal, berkali-kali mahasiswa serta rakyat Papua melakukan bermacam aksi untuk menolak keberlanjutan Otsus.

“Otonomi Khusus Papua, kebijakan Jakarta sebagai gula-gula manis untuk menghancurkan tanah, gunung, adat isti-adat, bahasa, suku, pemusnahan etnis dan penumpasan darah rakyat Papua. Otonomi Khusus Papua, kehancuran Bangsa Papua,” dikutip dari tulisan yang tertera pada poster seruan aksi yang disebarkan.

Kali ini, Sabtu (21/11/2020) Front Mahasiswa dan Rakyat Papua di Kabupaten Manokwari, kembali turun ke jalan untuk menyerukan penolakan Otsus Jilid II bagi Provinsi Papua dan Papua Barat. Aksi yang dimulai pada pukul 08.30 waktu Papua tersebut, rencananya dilakukan long march dari Kampus Unipa, Amban, menuju Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Papua Barat.

Berdasarkan informasi yang diterima reporter diptapapua.com, bahwa aksi long march tersebut tidak sempat sampai pada titik tujuan, yaitu kantor DPRD Provinsi Papua Barat. Lantaran, massa aksi diblokade di depan Kantor Polisi Sektor (Polsek) Amban. Hal tersebut dibenarkan oleh Septi, salah satu mahasiswa Unipa yang ikut dalam aksi tersebut.

“Aksi tadi tidak sempat menuju kantor DPRD Provinsi Papua Barat, karena dibatasi oleh aparat kepolisian di depan Kantor Polsek Amban. Sehingga massa memilih duduk dan berorasi serta membacakan pernyataan sikap hingga pada pukul 12.00 waktu Papua, massa membubarkan diri,” terangnya.

Mahasiswa Unipa ini menegaskan bahwa kebijakan Otonomi Khusus harus ditolak, karena pada kenyataannya gagal, tak menyentuh langsung pada kehidupan orang Papua.

“Saya tegas menolak Otsus, karena sudah 20 tahun berjalannya Otsus, pada kenyataannya gagal, implementasinya tak menyentuh orang Papua, saya minta Referendum (menentukan nasib sendiri),” pungkas Septi.

"Obor Untuk Papua"

Maksimus Syufi
Maksimus Syufi
Jurnalis Dipta Papua

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...