30.4 C
Special Region of Papua
Tuesday, May 11, 2021

Kesekian Kalinya, Mahasiswa dan Rakyat Papua di Manokwari Turun Jalan Menolak Otsus Jilid II

DIPTAPAPUA.com – Bertepatan dengan hari lahirnya Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat, pada era Presiden Megawati Soekarno Putri, November 2001 yang lalu kebijakan Otsus diberikan kepada dua provinsi di ujung timur Indonesia tersebut. Lantaran kebijakan tersebut dinilai gagal, berkali-kali mahasiswa serta rakyat Papua melakukan bermacam aksi untuk menolak keberlanjutan Otsus.

“Otonomi Khusus Papua, kebijakan Jakarta sebagai gula-gula manis untuk menghancurkan tanah, gunung, adat isti-adat, bahasa, suku, pemusnahan etnis dan penumpasan darah rakyat Papua. Otonomi Khusus Papua, kehancuran Bangsa Papua,” dikutip dari tulisan yang tertera pada poster seruan aksi yang disebarkan.

Kali ini, Sabtu (21/11/2020) Front Mahasiswa dan Rakyat Papua di Kabupaten Manokwari, kembali turun ke jalan untuk menyerukan penolakan Otsus Jilid II bagi Provinsi Papua dan Papua Barat. Aksi yang dimulai pada pukul 08.30 waktu Papua tersebut, rencananya dilakukan long march dari Kampus Unipa, Amban, menuju Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Papua Barat.

Berdasarkan informasi yang diterima reporter diptapapua.com, bahwa aksi long march tersebut tidak sempat sampai pada titik tujuan, yaitu kantor DPRD Provinsi Papua Barat. Lantaran, massa aksi diblokade di depan Kantor Polisi Sektor (Polsek) Amban. Hal tersebut dibenarkan oleh Septi, salah satu mahasiswa Unipa yang ikut dalam aksi tersebut.

“Aksi tadi tidak sempat menuju kantor DPRD Provinsi Papua Barat, karena dibatasi oleh aparat kepolisian di depan Kantor Polsek Amban. Sehingga massa memilih duduk dan berorasi serta membacakan pernyataan sikap hingga pada pukul 12.00 waktu Papua, massa membubarkan diri,” terangnya.

Mahasiswa Unipa ini menegaskan bahwa kebijakan Otonomi Khusus harus ditolak, karena pada kenyataannya gagal, tak menyentuh langsung pada kehidupan orang Papua.

“Saya tegas menolak Otsus, karena sudah 20 tahun berjalannya Otsus, pada kenyataannya gagal, implementasinya tak menyentuh orang Papua, saya minta Referendum (menentukan nasib sendiri),” pungkas Septi.

"Obor Untuk Papua"

Maksimus Syufi
Maksimus Syufi
Jurnalis Dipta Papua

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

Sikapi Situasi Nduga, Intan Jaya & Puncak Papua, Mahasiswa Lani Jaya Keluarkan 9 Poin Tuntutan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Melihat peristiwa pengungsian di Kabupaten Puncak Papua saat ini, bahkan sebelumnya di Kabupaten Nduga dan Intan Jaya, mahasiswa...

Komnas HAM Menolak Label Teroris dan Mendesak Dialog Damai Selesaikan Konflik Papua

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Isu label teroris yang ditujukan kepada kelompok pro kemerdekaan Papua, yang ditetapkan Pemerintah Pusat belum lama ini, menimbulkan pro...

Setelah Dilabeli Teroris, Ini Sikap Dewan Diplomatik Gerakan Papua Merdeka

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Tak lama setelah Kepala BIN Daerah Papua, ditembak mati oleh kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM), Pemerintah...

Sikapi Situasi di Kabupaten Puncak, IPMAP Korwil Malang Minta Pemerintah Pusat Hentikan Operasi Militer

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Situasi kontak senjata antara pihak TNI/ Polri dan TPNPB di Kabupaten Puncak, pasca penembakan Kepala BIN daerah Papua,...

TPNPB Akan Kaji dan Buktikan Bahwa TNI/ Polri adalah Teroris yang Sebenarnya

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Isu penetapan organisasi pro kemerdekaan Papua, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) sebagai organisasi teroris belum lama ini,...