Inspirasi dan Motivasi

Kisah Jhon Yewen, Dari Dorong Gerobak Menjadi Komika Nasional

Komika Nasional asal Papua, Jhon Yewen, saat memberikan stand up Comedy di salah satu acara di Hotel Horison Kotaraja Kota Jayapura, belum lama ini (Foto: Roberth).

Oleh: Robert Yewen

Ambillah resiko yang lebih besar dari apa yang dipikirkan orang lain aman. Berilah perhatian lebih dari apa yang orang lain pikir bijak. Bermimpilah lebih dari apa yang orang lain pikir masuk akal.    

             -Claude T. Bissell-

Yohanes Fransiskus Gabriel Yewen atau yang populer disapa Jhon Yewen atau juga Mas Yewen adalah satu-satunya Komika Asli Papua yang berhasil keluar sebagai juara tiga (3) lomba Stand Up Comedi Nasional Suca 3 yang diselenggarakan oleh salah satu stasion televisi nasional pada tahun 2017 yang lalu. Perjuangannya untuk menuju final tidak mudah, sebab membutuhkan proses perjuangan yang panjang, sebab Yewen harus bertarung melawan 34 kontestan lainnya dari seluruh Indonesia, mulai dari sabang sampai merauke yang mempunyai kemampuan dan kualitas tak kalah hebat.

Sebelum dipilih menjadi 34 finalis Stand Up Comedi Nasional Suca 3, Yewen harus mengikuti audisi di Bandung. Sebagai satu-satunya perwakilan dari negeri matahari terbit Papua, Yewen tahu bahwa ini beban yang tak mudah, apalagi harus bertarung merebut tiket dengan para komika di wilayah barat yang notabene mempunyai kemampuan stand up comedi luar biasa dibandingkan dengan komika-komika dari wilayah timur, khususnya dari Papua. Setelah mengikuti audisi Yewen kemudian dinyatakan lolos menjadi satu-satunya perwakilan Papua dalam kompetisi Stand Up Comedi Suca 3 Indonesia.

Lahir Dari Keluarga Sederhana

Yewen lahir di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat pada tanggal 15 April 1995 dari keluarga yang sederhana. Ayahnya (bapak) bernama Willbrodus Yewen yang sehari-hari adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) dari Dinas Perikanan Kabupaten Manokwari, sementara ibunya (mama) bernama Bertha Hay adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari berjualan di pasar untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Yewen menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar (SD) 76 Inggramui Manokwari, kemudian Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 5 Manokwari, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Manokwari. Setelah menyelesaikan studinya di SMA, Yewen kemudian melanjutkan studinya ke Universitas Brawijaya Malang, namun karena di waktu yang bersamaan ibunya meninggal dunia dan kondisi ekonomi keluarga, sehingga Yewen memutuskan untuk kembali ke Manokwari dan selanjutnya pada tahun 2015 resmi masuk dan diterima sebagai mahasiswa Jurusan Perencanaan dan Tata Kota (Planologi) Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih.

Di Kota Port Numbay (Jayapura) menjadi tempat di mana Yewen menemukan bakat yang sebenarnya. Dari lomba Stand Up Comedi yang diselenggarakan di Kota Jayapura teryata membawa Yewen sebagai sang juara di Kota Jayapura. Tidak hanya itu, dorongan dan dukungan dari berbagai pihak, sehingga membuatnya menjadi satu-satunya keterwakilan Papua dalam mengikuti lomba Stand Up Comedi Cuca 3 Nasional.

 Masa Kecil Yewen Dihabiskan Di Atas Kolam Ikan

Yewen adalah anak ketujuh dari tujuh orang bersaudara. Artinya Yewen adalah anak bungsu di dalam keluarganya. Sebagai anak bungsu masa kecil Yewen tentu seperti anak kecil pada umumnya, yaitu sehari-hari menghabiskan waktu untuk bermain. Masa kecil Yewen dihabiskan di Kompleks Tamanria dekat Bandara Rendani Kota Injil Kabupaten Manokwari. Tidak hanya menghabiskan masa kecil di Manokwari, Yewen juga menghabiskan masa kecilnya di Kampung Anjay Lembah Kebar (sekarang Kabupaten Tambrauw). Hal ini lantaran bapaknya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Perikanan Darat di Distrik Kebar.

Rumah Yewen di Kompleks Tamanria Manokwari sendiri berdekatan dengan Balai Benih Ikan (BBI) Kabupaten Manokwari. Selain itu, di Distrik Kebar rumah Yewen bersebelahan dengan kolam ikan. Sebagai seorang anak PNS Perikanan Darat, maka tak heran jika Yewen selalu menghabiskan waktu bersama-sama bapaknya dalam mengurusi ikan sehari-hari di kolam. Masa kecil Yewen dihabiskan di atas kolam ikan. Yewen sendiri pernah bergurau bahwa jika ada orang yang bilang lahir di atas perahu, maka dirinya sendiri adalah seorang anak yang lahir di atas kolam.

Hal-hal menyangkut perikanan darat, mulai dari mengeringkan kolam, menangkap ikan di kolam, melihat cara bagaimana ikan dikawinkan, sampai dengan cara bertelur dan sampai menetas adalah bagian dari peristiwa hidup yang dilalui oleh Yewen sebagai seorang anak kecil kala itu. Tak heran jika bicara ikan di kolam bukan hal yang asing dan baru bagi Yewen, sebab sebagian besar kehidupan kecilnya dihabiskan di atas kolam ikan.

 Bakat Humoris Sudah Sejak Kecil

Potensi mengenai jiwa lawak atau di Papua dikenal dengan mob memang bukanlah hal baru bagi Yewen, sebab dari kecil jiwa humoris sudah tertanam di dalam kepribadiannya. Jiwa humoris yang diperoleh Yewen tertular dari sang bapak yang juga dikenal dengan jiwa dan kepribadian yang humoris dan suka melucu. Jiwa humoris yang berada di dalam diri seorang bapak teryata hanya tertular kepada anaknya yang bungsu, yaitu Yewen.

Sejak masih kecil dan duduk dibangku sekolah Yewen sudah dikenal oleh keluarga, tetangga, sahabat, dan teman-temannya sebagai seseorang yang memiliki jiwa dan kepribadian yang humoris. Jiwa humoris yang ada di dalam diri Yewen teryata merupakan karunia tersendiri yang membawanya hingga saat ini menjadi seorang komika nasional asal Papua. Sejak kecil Yewen tidak menyadari bahwa potensi dan talenta humoris yang ada di dalam dirinya bakal membawanya hingga ke panggung nasional.

Sejak kecil Yewen sudah dikenal sebagai anak yang jago dengan materi-materi mob dan pembawaan yang humoris, sehingga tak heran jika kehadirannya saja sudah membawa orang ketawa. Hal inilah yang menjadi keunggulan tersendiri bagi Yewen sejak kecil hingga saat ini. Inilah garis tangan yang Tuhan berikan kepada Yewen untuk menghibur dan memberikan pesan-pesan perdamaian tentang Papua melalui materi-materi stand up comedi yang membuat orang terhibur, tetapi juga memberikan dampak terhadap perubahan sosial masyarakat di sekitar.

 Sekolah Tanpa Sosok Seorang Bapak

Kebahagiaan itu akan terasa lengkap, jika di dalam rumah selalu terdengar suara seorang mama dan suara seorang bapak. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya hanya berada di dalam keluarga. Namun hal ini tidak dialami oleh Yewen hingga sekarang, karena sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yewen harus kehilangan sosok humoris yang dicintainya, yaitu bapak. Kepergian sang bapak yang selama ini menjadi tiang di dalam keluarga kini telah pergi untuk selama-lamanya kepada panguan Sang Ilahi.

Walaupun merasa kehilangan dan sedih, tetapi kepergian sang bapak tidak menyurutkan semangat Yewen untuk tetap melanjutkan sekolah atau pendidikannya. Meskipun Yewen sadar bahwa perjalanannya masih panjang untuk meraih kesuksesan. Yewen tetap semangat untuk belajar, sehingga pada tahun 2011 dia dinyatakan lulus dari SMP Negeri 5 (sekarang SMP II) Wosi Dalam Kabupaten Manokwari dengan nilai yang bagus.

Yewen tidak berhenti di situ, tetapi dengan semangat dan dorongan dari keluarga, terutama sang mama, maka Yewen tetap melanjutkan pendidikan (studinya) di SMA Negeri 2 Manokwari. Di SMA, karena nilai Yewen bagus, sehingga dia berhasil masuk di jurusan ilmu pengetahuan alam (IPA). Yewen akhirnya menyelesaikan pendidikanya di SMA pada tahun 2014 dengan nilai yang bagus.

Bagi Yewen, walaupun harus kehilangan sosok seorang bapak yang selama ini menjadi tumpuan dari kehidupan keluarga mereka, tetapi hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang meraih pendidikan setinggi-tingginya. Hal ini dibuktikan Yewen dengan lulus dari SMA dengan nilai yang bagus dan memuaskan. Yewen berhasil membuktikan bahwa walaupun harus kehilangan seorang bapak, tetapi dirinya tak pernah putus semangat untuk menyelesaikan studi di SMP dan SMA.

 Kuliah Tanpa Seorang Mama

Jika sejak SMP dan SMA Yewen sudah kehilangan cinta dan kasih sayang seorang bapak, maka ketika kuliah tahun 2014 Yewen kembali kehilangan sosok yang selama ini dicintainya dan merupakan cinta pertamanya selama ini, yaitu mama. Yewen yang waktu itu baru berjuang mengenyem pendidikan sebagai mahasiswa baru di Universitas Brawijaya Malang harus menerima realita hidup bahwa cinta pertamanya, yaitu mama telah pergi untuk selama-lamanya.

Sedih bercampur putus asa mengentarkan jiwa dan raga, serta semangat di dalam diri Yewen, sebab satu-satu harapan hidupnya selama ini telah pergi untuk selama-selamanya. Bagi Yewen mama adalah segalanya dan segalanya adalah mama. Inilah yang dirasakan Yewen ketika menyadari bahwa mama adalah sosok yang selama ini mengantikan peran bapak untuk bekerja siang dan malam hanya untuk pendidikan dan masa depan dirinya bersama-sama dengan beberapa kakak-kakaknya.

Mama yang selama ini menjadi harapan dan tumpuan hidupnya, bahkan menjadi sosok kebahagiaan dan penguatan di dalam keluarga telah pergi dan tak akan kembali lagi. Mama yang selama ini melantunkan doa setiap pagi dan malam untuk Yewen dan keluarga kini tak akan terdengar lagi. Sebagai anak bungsu Yewen sangat disayangi oleh mama, begitupun sebaliknya Yewen sangat mencintai mamanya.

Jika waktu SMP dan SMA Yewen ditemani oleh mama, kini di masa-masa bangku perkuliahannya Yewen harus berjuang sendiri tanpa mendengar lagi kata-kata penuh semangat dan inspiratif dari mulut seorang mama. Yewen sadar bahwa tiang yang selama ini mengantikan sosok seorang bapak, sekaligus mengantikan peran seorang bapak telah pergi. Yewen sadar bahwa masa depannya sebagai mahasiswa baru akan terhenti di persipangan jalan.

Meskipun kehilangan sosok seorang mama dan juga bapak tidak membuatnya putus semangat, tetapi Yewen tetap berkomitmen untuk melanjutkan kuliahnya di Kampus Universitas Brawijaya. Setelah setahun kuliah, Yewen sadar bahwa dengan biaya yang mahal tentu menjadi beban tersendiri bagi dirinya. Yewen sendiri sudah berusaha meminta bantuan untuk pembayaran SPP ke berbagai pihak, terutama ke pemerintah daerah (pemda) tempatnya berasal, tetapi karena biaya dan jauh dari jangkauan keluarga, maka pada awal tahun 2015 Yewen harus mengubur mimpi-mimpinya di Kota Apel tersebut untuk kembali ke Papua.

 Mengawali Mimpi Baru Di Kampus Uncen

Pada awal tahun 2015 Yewen kembali dari Malang ke Manokwari dan selanjutnya ke Jayapura, karena dipanggil oleh kakaknya yang waktu itu baru saja selesaikan studi di Uncen dan sehari-hari bekerja sebagai wartawan di Jayapura, untuk melanjutkan studi di Kampus Uncen. Yewen kemudian ke Jayapura dan selanjutnya pada saat penerimaan mahasiswa baru tahun 2015 Yewen kemudian tes melalui seleksi nasional dan akhirnya dinyatakan lulus menjadi mahasiswa Jurusan Perencanaan dan Tata Kota (Planologi) Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (Uncen).

Seluruh biaya perkuliahannya Yewen di kampus Uncen ditanggung oleh kakaknya. Yewen telah menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru sebagai mahasiswa di kampus berlambang burung cenderawasih ini. Yewen yakin dan percaya bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Hal inilah yang dipegang oleh Yewen dalam mengejar cita-cita dan masa depannya.

Setelah kuliah, Yewen tidak hanya melakukan aktivitasnya seperti mahasiswa kuliah pulang-kuliah pulang (kupu-kupu), tetapi Yewen aktif dalam beberapa organisasi untuk mengembangkan dirinya, sebut saja organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Katolik (UKM-KMK), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Planologi Fakultas Teknik, dan juga Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jayapura dan beberapa organisasi lainnya.

Yewen kemudian mengembangkan dirinya di bidang stand up comedi, sehingga memasuki semester 3 pada bulan Oktober 2016, Yewen kemudian mengikuti kompetisi Stand Up Comedi Indonesia di Jayapura dan berhasil keluar sebagai juara 1 lomba stand up comedi tingkat Jayapura-Papua. Tidak hanya itu, karena prestasi yang dimiliki Yewen secara akademik maupun non akademik, maka dirinya dinyatakan lulus seleksi Beasiswa Djarum tahun 2017 dan menerima beasiswa selama satu tahun. Selain itu, Yewen juga menerima beasiswa Bidik Misi setiap tahun di Uncen.

Dari Panggung Jalanan Mengantarkan Yewen Ke Panggung Nasional

Komika Nasional, Jhon Yewen, saat mengisi stand up Comedy di Cafee Ormue di Kota Jayapura, belum lama ini. (foto: Robert)

Yewen tidak langsung terkenal sebagai komika nasional begitu saja, tetapi ada sebuah proses penjang yang dilalui mulai dari nol hingga bisa mencapai puncak prestasi sebagai komika nasional asal Papua. Kehadiran Yewen di panggung nasional bukanlah sesuatu yang gampang dan mudah, seperti ibarat membalikan telapak tangan, tetapi merupakan proses panjang yang pernuh dengan tantangan dan liku-liku kehidupan.

Manis dan pahit menjadi komika melalui panggung-panggung di jalanan merupakan hal yang biasa dilalui oleh Yewen bersama-sama teman-temannya di dalam Komunitas Stand Up Comedi Indo Jayapura. Sebagai komika, Yewen selalu mengisi berbagai acara stand up comedi mulai dari panggung di jalanan sampai di kafe-kafe. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan sosialisasi mengenai panggung stand up comedi, tetapi juga memberikan hiburan kepada masyarakat.

Walaupun sebagai juara 1 stand up comedi di Jayapura, Yewen selalu tampil sederhana dan setia untuk menyiapkan materi dan tampil di setiap panggung-panggung yang telah disediakan. Yewen menghargai setiap panggung yang disediakan, baginya setiap panggung itu sama saja, asalkan tetap setia untuk menampilkan yang terbaik di panggung tersebut. Karena selalu tampil di panggung-panggung yang sederhana di jalan-jalan, sehingga tak heran jika panggung jalanan yang diisi setiap malam oleh Yewen telah mengantarkannya ke panggung nasional.

Yewen pernah berpesan kepada para komika-komika pemula di Papua, untuk selalu menghargai setiap panggung yang disediakan, jangan melihat panggung itu besar atau kecil, tetapi harus memulai dari panggung-panggung yang sederhana, maka suatu saat Tuhan akan kasih panggung yang besar. Hal yang dilakukan Yewen ini tidak terlepas dari nubuat yang telah tertulis dalam Alkitab (Kitab Suci) bahwa siapa yang setiap kepada perkara-perkara kecil, maka dia akan mendapatkan perkara-perkara yang lebih besar.

Dengan semangat dan kegigihan serta perjuangan yang dilalui, maka pada tahun 2017 Yewen kemudian mengikuti audisi di Bandung pada bulan Maret 2017 dan dinyatakan lulus untuk mengikuti kompeteisi Suca 3 Stand Up Comedi Nasional di Indoesiar. Inilah cikal bakal perjuangan Yewen sebagai komika asal Papua di panggung nasional.

Membawakan Materi Stand Up Comedi Tentang Papua

Walaupun kompotisi begitu ketat, tetapi Yewen tetap lolos di setiap babak yang diselenggarakan. Hal ini tentu tidak terlepas dari materi-materi yang dibawakan oleh Yewen selama mengikuti lomba tersebut. Sebagai anak Papua, Yewen tentu mempunyai tanggung jawab untuk terus menyuarkan tentang Papua melalui materi-materi yang berbau stand up comedi. Walaupun terkesan lucu dan membuat orang lain tertawa, tetapi selalu memberikan kritikan-kritikan yang konstruktif (membangun) tentang kondisi Papua yang sebenarnya.

Dalam materi-materi yang disampaikan Yewen selalu mengungkapkan tentang situasi dan kondisi di Papua, seperti misalnya tentang kondisi infranstruktur jalan di Papua, masalah pendidikan, kesehatan, dan berbagai persoalan di Papua menjadi bahan yang menarik yang selalu menjadi materi-materi yang disampaikan Yewen dalam bentuk kritik yang humoris. Tidak hanya memberikan materi-materi kritik tentang kondisi Papua, tetapi Yewen juga aktif menyuarakan tentang perkembangan di Papua dan potensi alam (pariwisata) di Papua yang disebut-sebut sebagai surge kecil jatuh ke bumi.

Materi-materi yang dibawakan oleh Yewen tentang Papua teryata menjadi catatan tersendiri bagi para juri, sehingga membuat anak bungsu dari 7 bersaudara ini berhasil lolos dan menjadi salah satu finalis dan keluar sebagai juara tiga (3) lomba Stand Up Comedi Suca 3 Indonesia pada tahun 2017. Walaupun puas sebagai juara 3, tetapi Yewen selalu menjadi juara 1 di hati masyarakat Papua, sebab dirinya telah mampu menunjukkan kualitas anak-anak muda Papua di bidang Stand Up Comedi Indonesia.

Walaupun sebagai Komika Nasional asal Papua, Yewen tak pernah lupa tempat dimana dirinya dilahirkan dan dibesarkan sebagai komika nasional, yaitu di Komunitas Stand Up Comedi Indo Jayapura. Komunitas inilah yang telah menjadikan Yewen menemukan bakatnya sebagai seorang komika asal Papua yang kini terkenal di seluruh Indonesia. Sebagai tanggung jawab moral, Yewen harus harus hadir di komunitas, untuk memberikan motivasi dan masukan-masukan yang membangun, sehingga kedepan lahir lagi komika-komika Papua yang dapat mengharumkan Papua di tingkat nasional, terutama di bidang Stand Up Comedi Indonesia.

Pernah Dorong Gerobak Di Pasar, Pungut Besi Tua Di Jalan Sampai Jadi Komika Nasional

Tidak ada yang tahu tentang garis tangan seseorang, sebab yang tahu garis tangan seseorang hanyalah Tuhan. Itulah sebuah ungkapan yang sering diucapkan oleh banyak orang yang dulu hanya menjadi orang biasa-biasa saja, tetapi setelah itu mereka menjadi orang biasa dan membuat banyak orang heran dan kagum. Hal inilah yang mungkin dialami oleh Yewen sebagai seorang komika nasional saat ini.

Walaupun kini banyak orang hanya melihat hasil dari apa yang diraih oleh Yewen saat ini tentu bisa dikatakan terlalu terburu-buru, sebab kesuksesan seseorang itu tidak terlihat dari seberapa besar sukses yang diraih, tetapi harus dilihat dari seberapa besar proses yang dilalui hingga meraih kesuksesan saat ini. Proses jika dilakukan dengan penuh susah payah dan perjuangan pasti tidak akan menghianati hasil. Itulah yang dilalui oleh Yewen sebagai seorang komika nasional saat ini.

Sewaktu masih SMP dan SMA Yewen pernah menguluti pekerjaan yang mungkin saja banyak anak-anak muda sekarang gengsi melakukannya, yaitu menjadi seorang tukang dorong gerobak di pasar dan menjadi pemungut besi tua. Inilah sebuah kenangan yang tak pernah akan dilupakan oleh Yewen, sebab sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana, maka tidak ada alasan lagi untuk membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di dalam keluarga. Hal inilah yang membuat Yewen ketika SMP dan SMA harus menjadi seorang tukang dorong gerobak maupun pemungut besi tua, untuk membantu orang tua memenuhi kehidupan keluarganya.

Bagi Yewen dorong gerobak dan memungut besi tua adalah pekerjaan yang mulia dan halal, sehingga tak perlu gengsi, sebab hal yang dilakukan adalah untuk membantu orang tua dalam kehidupan keluarganya. Hasil dari dorong gerobak dan jual besi tua biasanya diserahkan kepada orang tua untuk kebutuhan keluarga, tetapi juga untuk uang jajan dan uang angkot (taxi) ketika nanti ke sekolah. Setelah selesai dorong gerobak ketika senja mulai memadam di ufuk timur, Yewen turut membantu ibunya untuk menyimpan jualan dan membawa hasil jualan dari ibunya dari pasar ke rumah mereka yang cukup jauh dari pasar.

Pekerjaan menjadi seorang tukang dorong gerobak dan pengungut besi tua inilah yang mendorong Yewen menjadi seorang pemuda atau mahasiswa yang mandiri, untuk terus optimis dalam melangkahkan setiap kaki menuju masa depan yang lebih baik. Kini Yewen menjadi komika nasional dan terkenal di mana-mana, tetapi perjalanan hidupnya sebagai seorang tukang gerobak dan pemungut besi tua selalu dikenang sebagai sebuah perjalanan hidup yang terus membekas dalam hati dan jiwanya.

“Mengenang masa lalu, memperbaiki masa kini, dan membangun masa depan”. Inilah ungkapan yang sangat menyentuh bagi mereka yang telah melalui pahitnya hidup ini. Yewen kini hanya mengenang masa lalu yang pernah dilaluinya dengan penuh rasa manis dan pahit, terutama menjadi seorang tukang gerobak dan pemungut besi tua. Namun masa lalu tersebut untuk memperbaikinya menjadi komika nasional, untuk membangun masa depannya lebih baik lagi.

Berprestasi Dalam Dunia Akademik Dan Non Akademik

Yewen sendiri masih menyandang status sebagai mahasiswa semester akhir di Jurusan Planologi Fakultas Teknik Uncen. Sebagai mahasiswa semester akhir tentu yang disibukkan adalah proposal skripsi dan skripsi. Walaupun kini sudah memasuki masa-masa akhir studi, namun mahasiswa angkatan 2015 ini mempunyai prestasi akademik yang cukup memuaskan sejak menjadi mahasiswa 4 tahun yang lalu. Yewen tentu tidak salah memilih Jurusan Planologi sebagai tempatnya untuk menimba ilmu, sebab latar belakangnya berasal dari Jurusan IPA di SMA, sehingga tentu memiliki kemampuan tersendiri di bidang eksata.

Jika di lihat dari nilai-nilainya dari semester satu hingga semester delapan ini, Yewen memperoleh indeks prestasi kumulatif (IPK) yang cukup memuaskan, sebab nilai dari hasil mata kuliah yang dipelajari selalu mendapatkan nilai A dan B, walaupun ada beberapa yang C, tetapi IPK yang diperoleh selalu sangat memuaskan atau memasuki kategori baik bagi seorang mahasiswa teknik.

Bagi Yewen nilai akademik dalam bentuk IPK memang penting bagi seorang mahasiswa, tetapi jauh lebih penting adalah nilai non akademik yang tidak ada lebel IPK. Percuma seseorang memiliki nilai IPK tinggi, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa di tengah-tengah masyarakat. Hal inilah membuat Yewen aktif diberbagai organisasi, seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Planologi, Unit Kegiatan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Katolik Universitas Cenderawasih (UKM-KMK UNCEN), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jayapura, Komunitas Stand Up Comedi Indo Jayapura, dan beberapa organisasi lainnya.

Dengan prestasi akademik dan prestasi non akademik yang diraih oleh Yewen teryata membawanya menjadi salah satu dari lima anak Papua di Universitas Cenderawasih untuk mendapatkan Beasiswa Djarum angkatan ke 33. Yewen dipercayakan sebagai koordinator untuk Beasiswa Djarum selama satu tahun, mulai dari tahun 2017-2018. Tidak hanya itu, Yewen juga mendapatkan beasiswa bidik misi, untuk membantunya dalam menyelesaikan studinya sebagai mahasiswa di Jurusan Planologi Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (Uncen).

Aktif Mendidik Komika-Komika Muda Dan Ikut Berpartisipasi Menyuarakan Pesan Kemanusiaan

Walaupun berstatus komika nasional dan juga sebagai mahasiswa semester akhir, tetapi hal ini tidak menghentikan semangat Yewen, untuk terus mendidik par komika-komika muda asal Papua yang ingin belajar stand up comedi. Hal inilah yang dilakukan Yewen, untuk terus memberikan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki sebagai seorang komika untuk ditransferkan kepada para komika-komika muda, sehingga kelak mampu menjadi komika-komika nasional dan dapat mengharumkan nama Papua di kanca nasional.

Inilah yang menjadi mimpi Yewen, sekaligus menjadi tanggung jawab moral baginya, untuk bisa melahirkan komika-komika dari Papua yang mampu bersaing dan bertarung mengambil bagian dalam panggung-panggung nasional nantinya. Dalam kesibukannya sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai komika nasional, Yewen selalu meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan dorongan serta motivasi bagi para komika-komika pemula untuk tetap menghargai setiap panggung yang ada. Bagi Yewen apapun panggungnya jika dihargai, maka kedepan akan ada panggung-panggung yang menantinya.

Untuk menjadi komika yang hebat dan dikenal secara nasional, maka harus dimulai dari bawah, seperti ibarat seorang bayi yang lahir tidak mungkin langsung jalan, tetapi membutuhkan proses yang panjang untuk bisa jalan. Begitupun sebaliknya, untuk menjadi komika yang hebat tidak mungkin langsung jadi, tetapi membutuhkan proses yang panjang dan berliku-liku. Inilah yang ditanamkan Yewen kepada para komika-komika muda, sehingga tidak mudah puas dan bosan, tetapi terus berjuang untuk menjadi komika-komika yang mampu menghibur masyarakat dan mampu memberikan saran dan kritik yang membangun bagi tanah Papua melalui cerita-cerita stand up comedi yang humoris.

Selain itu, Yewen juga aktif ikut berpartisipasi dalam penyuarakan pesan-pesan kemanusiaan dalam setiap kesempatan melalui cerita-cerita stand up comedi yang kritis, tetapi selalu dikemas dalam konteks yang humoris, seperti misalnya ikut bersama-sama dengan Bank Sampah Kenambai Umbai dan Komunitas Vespa menyuarakan stop buang sampah sembarangan dan selamatkan danau sentani, bersama-sama Komunitas Anak Kampung Peduli Pendidikan dan Lingkungan menyuarakan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan tidak melakukan penebangan hutan secara sembarangan, menyuarakan tentang stop kekerasan terhadap perempuan dalam kegiatan 16 hari kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, dan berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya.

Yewen telah menunjukkan bahwa kesuksesan yang diraih tidak selalu harus dilahirkan menjadi anak orang berada (kaya), tetapi kesuksesan dan keberhasilan yang diraih harus mulai dari diri sendiri. jangan berhenti untuk terus berjuang meraih kesuksesan, sebab kesuksesan hanya diraih oleh mereka yang tak pernah merasa lelah untuk berjuang mendapatkannya. Ingat bahwa perjuangan yang sungguh-sungguh tak pernah menghianati hasil yang akan kita raih. (***).

 

0869
Redaksi Dipta Papua

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *