Lawan Lupa! Dua Tahun Rasisme Terhadap Orang Papua

DIPTAPAPUA.com – Obor Untuk Papua –

(Oleh: Rudi Wonda)

“Kawan bagimana tong gas ke Malang kh? ikut aksi memperingati Ilegalnya Perjanjian New York”.

13 Agustus 2019 lalu, sehabis pulang dari Bandar Udara Juanda Surabaya, saya bersama teman saya (sebut saja itu Yogix). Ada tempat nongkrong dan sangat bagus di siang hari, apalagi Surabaya daerah panas.

Duduk sambil nikmati josua (extrajos susu), juga ditambah WiFi-an. Kita tidak banyak bicara saat itu, mungkin hanya sedikit cerita tentang perjalanan kita dan rencana selanjutnya.

Yogix: Besok tanggal 15 Agustus adalah hari memperingati Ilegalnya Perjanjian New York. Jadi hari ini juga kita harus ke Malang ikut Kawan-kawan mempersiapkan aksi.

Saya: Iya kawan memang kita harus ke Malang sekarang. Tetapi, Hanya saya sendiri yang akan ke sana.

Yogix: Bah kenapa kawan?

Saya: Kawan masih punya tugas di Jember yang harus  diselesaikan.

Yogix: Ok sudah.

Saya: Nanti saya antar kawan ke terminal bus, setelah itu saya langsung ke Malang.

Yogix: Ok!

Kemudian, lanjut lagi dengan Sedikit cerita tentang perjanjian sepihak di New York antara Belanda, Indonesia dan Amerika pada 15 Agustus 1962.

Namun Sebelumnya, perlu diketahui bahwa Perjuangan Rakyat Papua melawan kolonial Belanda hingga berhasil mendeklarasikan kemerdekaan dan mendirikan Negara West Papua pada tanggal 01 Desember 1961 itu, telah dinyatakan Sah secara de facto and de jure. Yang kemudian disiarkan langsung oleh Radio Belanda dan disaksikan oleh Rakyat Netherlands (Belanda) dan sebagian publik internasional.

Tetapi, pada tanggal 19 Desember 1961, operasi Trikora dikumandangkan oleh Ir.Soekarno di Alun-alun Utara Yogyakarta. Ini bagian dari siasat Amerika untuk membuat data baru bahwa Papua adalah wilayah kekuasaan Indonesia secara politik dan Amerika secara ekonomis.

Soekarno yang menjabat sebagai Presiden pertama Republik Indonesia itu, ia keras kepala untuk menguasai wilayah Papua dengan berbagai jenis operasi Militer. Sementara Belanda masih belum meninggalkan Negara West Papua.

Terjadi konflik yang cukup besar atas perebutan kekuasaan di wilayah teritorial West Papua. Banyak Rakyat Papua yang korban dalam situasi itu.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) turun tangan untuk mengamankan situasi tersebut. Namun, situasi ini malah dimanfaatkan oleh Amerika dengan mengutarakan kepentingannya. Sehingga melahirkan suatu kesepakatan sepihak sebagaimana yang disebut dengan New York Agreement.

Pada tanggal 15 Agustus 1962, Belanda, Indonesia dan Amerika membahas tentang wilayah Papua dengan kepentingan kekuasaan politik serta Ekonomi. Tetapi, pemilik Tanah Papua (Rakyat Papua) tidak dilibatkan dalam pembahasan tersebut.

PBB fasilitasi perundingan itu, tapi tidak melibatkan Rakyat Papua. Mereka lakukan itu secara diam-diam, Mereka lakukan itu sembunyi-sembunyi, dan mereka sepakat di New York (Amerika serikat).

Tiga Negara ‘abunawas’ itu bekerja sama, karena memiliki kepentingan bersama. Ini adalah perampasan hak politik dan sumber daya alam milik Rakyat Papua.

Itu sebabnya, Rakyat Papua memprotes New York Agreement yang sesungguhnya adalah ILEGAL.

Dandhy Laksono bilang “New York Agreement itu, Iblis berunding dengan Jin yang disaksikan oleh Setan tanpa melibatkan Manusia”.

Hari semakin sore dan kita mulai bergerak ke arah terminal Bungurasih. Setelah antar yogix, saya pun langsung menuju ke Malang.

14 Agustus 2019 mobilisasi massa. Kemudian, tepat pada tanggal 15 Agustus, di pagi hari massa mulai menuju ke titik aksi.

Massa aksi antara lain, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP). Masa aksi saat itu terbagi menjadi dua kelompok:

Kelompok Yang pertama, turun di depan lapangan Gajayana. Begitu tiba di tempat, langsung tanpa negosiasi massa direpresif oleh ormas reaksioner dan polisi berpakaian preman. Lalu massa aksi diangkut oleh aparat kepolisian menggunakan truk.

Kemudian, massa aksi dari kelompok yang satunya lagi, baru saja tiba di perempatan lampu merah tepat di depan bank BCA dan jalan utama. Kami juga Lansung saja disambut dengan represif oleh kepolisian yang berpakaian preman.

Ada banyak polisi yang berpakaian dinas di sekitar itu, namun tidak ada niat untuk mengamankan situasi tersebut dan semua hanya diam menyaksikan penyiksaan terhadap massa aksi saat itu.

Anda bisa bayangkan, di saat itu darah yang tumpah dan membasahi tempat itu disaksikan oleh polisi dan masyarakat sipil kota Malang yang ada di sekitar itu.

Kami saat itu hanya meminta keadilan dengan cara yang Damai, yang mana telah diatur sebagai berikut: Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah Hak Asasi Manusia yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia. Dasar hukum undang-undang ini adalah Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945.

Hal in terbukti bahwa polisi ikut mendukung represif dan berupaya membubarkan massa aksi. Kemudian datanglah rombongan TNI dengan tujuan yang sama yaitu memaksa membubarkan massa aksi.

Massa Aksi yang saat itu dalam kondisi berdarah-darah kembali melakukan orasi politik dan menuntut ketidakadilan, tetapi respon yang kami dapatkan saat itu hanya represif hingga diangkut oleh truk polisi.

Setelah Represif di Malang, Kawan-kawan Mahasiswa Papua di Surabaya disusuli dengan pengepungan Asrama Mahasiswa Papua oleh oknum TNI pada 16 Agustus 2019.

Salah satu TNI yang memprovokasi warga Surabaya untuk bersama-sama melontarkan ujaran kebencian terhadap Mahasiswa/ Rakyat Papua di Asrama Mahasiswa Papua Surabaya.

“kalimat Monyet, Anjing, dan lainnya, serta yel-yel usir monyet Papua dari Indonesia sekarang juga”.

Pengepungan Asrama Mahasiswa Papua selama tiga hari tersebut, mahasiswa juga tidak makan dan minum selama itu. Mereka dicaci maki, ditembak, dianiaya oleh Brimob dan TNI serta Ormas reaksioner.

Generasi bangsa Papua, dipanggil dengan kalimat binatang. Dan diperlakukan juga seperti binatang oleh Militer Indonesia dan Ormas reaksioner.

Dua tahun yang lalu, tentu ingatan kita akan kejadian itu masih sangat bersih untuk terus memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa Pemerintah Republik Indonesia melalui Aparat TNI-POLRI melakukan tindakan Diskriminasi Rasial Terhadap Mahasiswa Papua di Asrama Papua Surabaya Jawa Timur Indonesia.

Kejadian RASISME itu telah memicu kemarahan Rakyat Papua dan di seluruh Tanah Papua digencarkan oleh aksi protes terhadap orang-orang yang wataknya Rasis (Pemerintah RI).

Seluruh masyarakat Papua turun ke jalan dan menuntut kemerdekaan bangsa West Papua. Itu berlangsung atas kesadaran Rakyat Papua.

Yang berikut, Victor Yeimo itu Rakyat Papua yang adalah bagian dari korban RASISME 2019.

Maka untuk menjujung tinggi nilai-nilai demokrasi, Segera Bebaskan Victor Yeimo Juru Bicara (Jubir) Internasional Petisi Rakyat Papua dan Segera Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri Sebagai Solusi demokratis bagi Bangsa West Papua.

Sekian…

Selamat Memperingati Hari RASIS Nasional, 15,16,17,18 Agustus (2019)/2021.

Kota Rasis, 15 Agustus 2021

#Hidup_Rakyat_Tertindas

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...