25.6 C
Special Region of Papua
Thursday, January 21, 2021

Malam Minggu di Kampung Warna-Warni

Banyak orang selalu merasa bahagia jika bisa menikmati malam mingguan bersama keluarga di bioskop, mall, hypermart, KFC dan pusat-pusat keramaian di daerah perkotaan. Hal ini berbeda dengan tim Rumah Menulis Papua Univeral (RUMPUN) yang memilih menikmati malam mingguan di Kampung Yoboi.

“Kampungku tepi sungai dengan rumah bambu. Kampungku tepi sungai tempat lintas perahu. Di sana mulai kembang rasa kasih sayang. Padamu kampung selalu kukenang”. Demikian lirik lagu yang diciptakan oleh At Mahmud ini pantas, untuk mengenang Kampung Yoboi ditepian Danau Sentani.

Sore itu, Sabtu 5 Desember 2020, kami dari Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN) kembali lagi mengunjungi Kampung Yoboi. Sekitar pukul 15.30 Wit, kami bertolak dari Dermaga Yahim menggunakan perahu motor menuju Yoboi. Perjalanan ke kampung yang dijuluki warna-warni ini hanya ditempuh sekitar 15 menit.

Perjalanan kali ini ke Yoboi sedikit berbeda, sebab kami membawa puluhan buku pelajaran dan buku pengembangan diri lainnya untuk disumbangkan kepada Rumah Baca Onomi Niphi yang digagas dan di gerakan selama oleh mama Hanny Felle.

Matahari secara perlahan-lahan mulai terbenam di ufuk barat. Kami akhirnya tiba di Dermaga Yoboi. Di depan dermaga ini tertulis “welcome to Yoboi. Satu per satu dari kami mulai meninggalkan perahu motor tersebut.

“Hati-hati, turun pelan-pelan,” kata Musa mengingatkan kami ketika turun dari perahu motor ke dermaga.

Usai membayar ongkos perahu motor, kami kemudian melangkahkan kaki secara perlahan-lahan menuju ke rumah baca yang berada tak jauh dari dermaga. Sambil berjalan, terlihat beberapa warga duduk di depan teras rumah mereka masing-masing.

“Selamat sore. Permisi,” sapa kami kepada setiap warga yang berada di sepanjang jalan tersebut.

“Sore juga. Silahkan,” balas warga sambil tersenyum.

Warga di Yoboi sangat senang jika melihat ada warga baru yang datang untuk mengunjungi kampung mereka. Apalagi, kampung ini menjadi salah satu lokasi destinasi wisata yang berada di pesisir Danau Sentani.

 Mimpi Anak-Anak di Rumah Baca Onomi Niphi

Salah satu yang terkenal di Yoboi adalah Rumah Baca Onomi Niphi. Rumah baca yang digagas oleh mama Hanny ini sangat membantu, dalam mengembangkan pendidikan extra kulikuler anak-anak kampung ini.

“Selamat sore mama,” sapa salah satu anggota RUMPUN kepada mama Hanny yang terlihat serius mengarahkan anak-anak belajar.

“Sore juga kakak dong semuanya,” mama Hanny balik menyapa kami semua sambil mempersilahkan masuk ke rumah baca.

Nampaknya di dalam rumah baca sudah ada Naomi Rumsawir yang terlihat serius mengarahkan para siswa untuk belajar tentang kepemimpinan. Naomi adalah salah satu mahasiswi angkatan 2017 Jurusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Naomi sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di rumah baca. Naomi tak sendiri, dia ditemani temannya bernama Welianus Yohanes Mbrambra. Hari itu, Naomi mengajari anak-anak tentang Youth Leadership Training. Tak hanya itu, ini merupakan hari terakhir KKN yang dilaksanakan olehnya selama 1 bulan di rumah baca.

Ada sekitar 9 orang anak di dalam rumah baca. Mereka terdiri dari SD, SMP dan SMA. Mereka terlihat serius menuliskan sebuah cita-cita atau mimpi yang akan kelak dicapai nanti. Anak-anak mulai menulis di setiap kertas yang diberikan tersebut.

“Sudah adik-adik tulis surat mimpi atau cita-citanya,” tanya Naomi kepada anak-anak.

“Kalau sudah selesai, silahkan tempel mimpinya di depan,” kata Naomi mempersilahkan para anak-anak lagi.

Mahasiswi kelahiran Jayapura, 23 Februari 1999 ini kemudian memandu para anak-anak, untuk menempelkan satu per satu mimpi atau cita-cita mereka yang telah ditulis dalam sebuah lembaran kertas yang sebelumnya telah dibagikan.

Satu per satu secara giliran mulai menempelkan surat cita-cita yang telah ditulis tersebut. Dari 9 orang anak ini semuanya berhasil menempelkan dengan baik. Nampaknya setiap anak memiliki mimpi yang berbeda-beda.

Mulai dari menjadi seorang polisi, tentara, pengusaha/pembisnis, pendeta, duta, petugas kesehatan seperti suster dan ada yang ingin menjadi guru. Cita-cita yang dituliskan ini dibarengi dengan harapan dan alasan memilih cita-cita.

Seperti misalnya, Dian Aurelia Elisabeth Kuhu. Siswa SMA Negeri 1 Sentani ini memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Mempunyai harapan yang tulus, yaitu bisa membangkitkan semangat belajar dan potensi peserta didik.

“Harapan saya untuk menjadi guru, supaya bisa membangkitkan semangat belajar dan mengembangkan potensi peserta didik,” tulis siswi yang disapa Dian ini.

Usai semua anak-anak menempelkan surat cita-cita, maka tiba saatnya Naomi mengakhiri perjumpaannya di hari terakhir mereka setelah sudah sebulan membangun kebersamaan di rumah baca.

Naomi memberikan sertifikat, sekaligus kenang-kenangan kepada setiap anak-anak. Tak hanya itu, Naomi memberikan kenang-kenangan kepada mama Hanny yang selama ini telah mendampinginya selama berada di rumah baca.

Sebaliknya, mewakili anak-anak, Bella dan Olan kemudian memberikan cenderamata kepada Naomi. Sambil memberikan cenderamata mereka mengucapkan terima kasih karena telah mendapatkan didikan selama sebulan dari mahasiswi yang kini telah berada di semester 7 ini.

“Terima kasih karena sudah didik kami. Kakak baik sekali,” kata Bella sambil terharu.

“Terima kasih. Semoga kita semakin percaya diri,” tambah Olan sambil memberikan cenderamata kepada Naomi yang selama sebulan telah menjadi guru bagi mereka.

“Kakak pun doa, suatu hari nanti kita akan ketemu kalian akan menjadi orang-orang hebat,” balas Naomi dengan penuh terharu.

 Lampu Warna-Warni di Malam Hari

 “Jangan pulang dulu. Tunggu sampai malam, biar lihat lampu warna-warninya menyala,” ungkap mama Hanny menyuruh kami tinggal sebentar menikmati malam minggu di Yoboi.

 Tak terasa, Matahari sebentar lagi akan dibalut oleh datangnya sang malam. Gelda, Santi, Viktoria, Nelce Septa dan Cicilia mulai bergegas meninggalkan rumah baca menuju kedepan dermaga untuk melakukan foto-foto.

Sedangkan, Valentino, Musa dan Merry masih berada di rumah baca sambil bercerita dan berdiskusi dengan hangat dengan mama Hanny. Sementara Zakarias mendapatkan tugas tambahan untuk mewawancarai Kepala Kampung Yoboi.

Hari mulai gelap. Tak lama kemudian lampu di sepanjang jalan Yoboi mulai menyala dan menunjukkan warna-warni yang sangat luar biasa. Warna-warnanya lampu di malam hari mempercantik dan menambah keindahan Yoboi di malam hari.

Gelda, Santi, Nelce, Cicilia dan Viktoria tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto dibalik kilaunya warna lampu yang berjejeran di sepanjang jalan di kampung. Lampu ini sesekali secara otomatis berganti warna, mulai dari warna biru, kuning, hijau, merah dan warna hijau serta beberapa warna lainnya.

“Demi saya udik sekali,” kata Gelda sambil mengagumi lampu warna-warni di Yoboi

Usai foto, mereka kembali ke rumah baca. Di depan rumah baca terlihat mama Hanny, Musa, Merry, Septa dan Falentino telah berada di sana. Kami benar-benar menikmati malam minggu penuh kenangan di Yoboi.

Ini merupakan malam minggu yang sangat luar biasa. Baru pertama kali menikmati malam minggu penuh warna-warni di Yoboi. Kenangan malam minggu ini tak akan pernah dilupakan.

Tak terasa waktu telah pukul 20.00 Wit malam. Kami kemudian diantar oleh mama Hanny bergegas meninggalkan rumah baca menuju dermaga, untuk bergegas kembali ke Dermaga Yahim.

Perahu motor yang telah mengangkut penumpang ke Yoboi, kami kemudian menumpangnya kembali ke Yahim. Mama Hanny melambaikan tangan kepada kami. Lantas suara nyaring dari perahu mengucapkan terima kasih kepada mama Hanny.

“Terima kasih mama Hanny. Sampai ketemu lagi mama. Terima kasih untuk malam minggu di Yoboi,” kata kami secara serentak kepada mama Hanny.

Ayo malam minggu di Yoboi. Kamu akan menikmati warna-warni lampu di malam hari. Memanjakan kamu. Kamu bisa merasakan keramahan dan kebersamaan serta kekeluargaan di kampung yang dijuluki warna-warni ini.

Penulis: Roberthus Yewen

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

Ternyata! DPRD Tambrauw Buang Aspirasi Mahasiswa ke Tempat Sampah

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa Tambrauw Kota belajar Jayapura berlangsung selama dua hari (6-7 Januari) di Distrik Feef tersebut, dilaporkan...

Persipura Jayapura Bubar Karena Politik

Oleh: Martinus Daniel Ajokwapi Persipura  bubar karena politik dari Jakarta, mengapa ? kembali melihat pada tim yang diutus untuk mewakili Indonesia bertanding di liga AFC....

Panas! Bakar Ban Hingga Pecahkan Kaca Gedung DPRD, Mahasiswa Tuntut Janji DPRD Tambrauw

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Sudah 7 tahun aspirasi mahasiswa Tambrauw di Jayapura terkait pembangunan asrama definitif belum mendapatkan jawaban dari pihak pemerintah...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

Ternyata! DPRD Tambrauw Buang Aspirasi Mahasiswa ke Tempat Sampah

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa Tambrauw Kota belajar Jayapura berlangsung selama dua hari (6-7 Januari) di Distrik Feef tersebut, dilaporkan...

Persipura Jayapura Bubar Karena Politik

Oleh: Martinus Daniel Ajokwapi Persipura  bubar karena politik dari Jakarta, mengapa ? kembali melihat pada tim yang diutus untuk mewakili Indonesia bertanding di liga AFC....

Panas! Bakar Ban Hingga Pecahkan Kaca Gedung DPRD, Mahasiswa Tuntut Janji DPRD Tambrauw

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Sudah 7 tahun aspirasi mahasiswa Tambrauw di Jayapura terkait pembangunan asrama definitif belum mendapatkan jawaban dari pihak pemerintah...

Massa: Gedung DPRD Tambrauw Akan Dibakar Jika Aspirasi Mahasiswa Diabaikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Terhitung semenjak 2013 lalu, Ikatan Mahasiswa Tambrauw Kota Studi Jayapura berkali-kali melayangkan aspirasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)...

32 Tahun Menjadi Guru, Awalnya Hanya Memiliki Gaji Honorer Sebesar 25 Ribu Rupiah

Menjadi guru adalah tugas yang luhur dan mulai. Oleh karena itu, tak heran jika guru selalu dijuluki sebagai pahlawan tanpa jasa. Hal inilah yang...