23.5 C
Special Region of Papua
Friday, December 4, 2020

Membaca Diskursus Gerakan Feminisme West Papua

Penulis: Izak Bofra

Pemikiran dasar bahwasanya perempuan dan laki-laki memiliki peran,tanggung jawab,dan komitmen bersama untuk mewujudkan suatu peradabaan bangsa yang adil,plural,serta menjadi patner relasi untuk mewujudkan masa depan umat Allah yang lebih baik didunia ini.sebagai antitesa akan penghargaan satu sama lain sebagai citra Allah.

Perkembangan gerakan feminisme berangkat dari kesadaran intelektual atau realitas yang dialami oleh perempuan dari setiap zaman atau peradabaan.Di dalam konteks ini dilihat  bahwa ada suatu relasi timpang yang dialami oleh perempuan sehingga melalui diskursus yang panjang maka lahirlah suatu gerakan yakni feminisme untuk melakukan transformasi atau restorasi akan suatu system tradisi,kelas ekonomi,mainstream,serta kondisi social yang dialami oleh perempuan di lima benua dan papua secara khusus.

Berbicara tentang sejarah (Histori) tentang feminisme,akan kurang lengkap ketika tidak bersingungan dengan Simone De Beauvoir tidak ada keraguan tentang pengaruh langsung dan abadi tentang pemikiran feminisme pada umumnya dan teori internasional Feminisme pada khususnya (Grosholiz,2004),point utama yang perlu diperhatikan dalam The second Sex adalah teks filosofis yang berisi bukti empiris,sejarah,ilustrasi,menjelajahi teori-teori biologis,ekonomi dan psikologi dan menarik representasi sastra dan budaya atas perbedaan sex (Sandford,2006 51-79).Yang esesinya adalah mencoba untuk memberi suatu cara pandang tentang bagaimana perempuan.apa artinya menjadi perempuan untuk menjadi model bagi eksistensinya,(Beauvoir,1997;15),yang tidak bisa dipisahkan dari pertanyaan tentang bagaimana laki-laki datang untuk menjadi mode eksistensinya (sandford,2006;62).

Di mana perempuan adalah konsep relasional yang mengambil penaklukannya dari hubungannya dengan laki-laki sebagai kurang dari laki-laki (Other) pihak yang lain,bagi Beauvoir hanya dengan menantang identifikasi perempuan sebagai radikal terhadap other yakni sebagai perempuan yang sebenarnya dan laki-laki yang sebenarnya atas dasar persamaan daripada sekedar ditundukan atau menjadi ternomorduakan,yang esesinya adalah pembentukan kesadaran diri individu,baik itu sebagai perempuan maupun sebagai laki-laki karena tanpa ada kesadaran yang orizinil akan menjadi subyek atau objek dalam mentradisikan ketidakadialan baik itu perempuan maupun laki-laki yang menurut argument Beauvoir dalam The Second Sex tentang makna aneh posisi other/Other bagi perempuan dan bagaimana hal ini telah terlembagakan dalam berbagai wacana,dalam kehidupan politik,ekonomi,secara social dan psikologi bagi perempuan maupun laki-laki.

Beauvoir cenderung dibaca dalam kerangka pemikiran yakni menegaskan dua hal yaitu pertama adalah perbedaan antara sex dan Gender.Kedua subordinasi terhadap perempuan tidak dibenarkan secara biologis,karena perempuan adalah manusia yang sama seperti laki-laki dan harus memiliki status setara disemua aspek kehidupan public.karena bagi banyak feminis harus mampu membedakan dan memetakan sex sebagai kategori biologis yang bersifat kodrati serta Gender sebagai konstruksi social yang dilesatarikan secara turun temurun melalui medium social,budaya,media,politik,keluarga serta terlembagakan secara massif dalam proses doktrinasinya.sehingga melahirkan ketidak adialaln baik itu terhadap perempuan maupun laki-laki,karena itu ketika kaum feminis tidak memiliki pengetahuan yang utuh tentang perbedaan sex dan Gender ditakutkan akan mengkapitalitasi suatu isu ketidak adialan terhadap perempuan akan berdampak menjadi bias Gender.seperti diutarakan  oleh (Peterson,1999) bahwa perempuan dan Gender tidak memiliki arti seragam,tetapi perlu dipahami secara kontekstual dan sebagai pemotong aspek lain dari identitas.

Ada beberapa point esensial yang masih diperdebatkan oleh beberapa pemikir feminis,bagaimana kita berbicara tentang perempuan,ketika (perempuan itu)sebagai kategori eksis hanya sebagai produksi teknologi Gender,sebagai efek dari kekuasaan dan ketika kita mengangakatnya ia akan keluar dari pandangan.? Mengapa pada titik sejarah tertentu ketika narasi dominan tentang Gender sedang terekspos sebagai konstitutif tentang bagaimana kita hidup didunia dan perempuan akhirnya menjadi subyek penyelidikan,perempuan tidak bisa lagi berbicara tentang atau sebagai perempuan dalam cara yang sangat bermakna.? Bagaimana mungkin sekarang perempuan menolak politik identitas saat perempuan tidak pernah menjadi produsen atas identitas mereka,atas subjektifitas mereka.? Hal ini merupakan beberapa pertanyaan yang bergema melalui ruang percakapan antara sejumlah kaum feminis dan kaum postrukturalis (zalewksi,1998;jabri.2004).

Hal tersebut menjadi pekerjaan yang berat bagi kaum feminis untuk mencapai tujuan bersama,karena ada suatu narasi menyatakan feminis sebagai pihak yang dikecualikan dan hina.Narasi lain tidak berbicara tentang feminis sama sekali.seperti dipaparkan oleh Christine,Sylvester bagaimana kita bisa membawa perempuan ke dalam pandangan dan menaikan pengalaman mereka jika kita memancarkan pandangan skeptis tentang identitas Gender yang dikenakan seperti pakaian ulang.? Dapatkan kita memilih identitas dan pertanyaan bermakna pada mereka juga,atau haruskan kita memilih antara identitas dan perlawanan terhadap identitas,dapatkan kita berteori’’subjek diproduksi melalui praktik-praktik penanda yang mendahului identitas dia perempuan (Sylvester,1994;12-13).dimana banyak feminis sadar akan bahayanya politik representasional baik biologis maupun social,yang memberi efek atau resiko ketika perempuan dianggap tidak berada dimana-mana terutama dalam medan politik.efek dari pengindaraan istilah Gender dan sex,pemahaman atas Gender sebagai hal yang terbentuk secara social sehingga merupakan diskursif dan sex sebagai yang terbentuk secara social sehingga merupakan pra-diskursif.menurut Judith Butler isu tentang kategori ontologies pra-diskursif atas sex dan hubungannya dengan gender serta perdebatan antara esensialisme dan konstruktivisme ada yang hilang yaitu dititik dekonstruksi dengan mempertahankan perbedaan biologis sambil mengusik dikotomi Gender,karena apabila mempertahankan sex sebagai hal yang berbeda dari Gender berarti secara radikal bisa mengekang dualitas  yang terdapat ditubuh bersex tetap sebagai tempat pra-diskursif dan ternaturalisasi bagi prasasti Gender,sehingga bersifat partisipatif dalam pemahaman terhadap identitas  dan seksualitas,yang mana sex telah menjadi Gender selama ini,bukanya menempati wilayah pra-diskursif,sex menurut Butler adalah efek Gender yang tubuhnya mewujudkannya melalui rezim peraturan tergender atas kekuasaan atau pengetahuan.sehingga harus pembacaan kritis atas maskulinitas dan feminitas yang tidak harus sesuai dengan tubuh bersex atau lebih tepatnya adalah tidak dilihat bahwa pemicu bisa dari dua sisi yaitu perempuan maupun laki-laki karena kalau dilihat pada satu sisi akan terjadi justifikasi yang melegalkan satu sisi,sedangkan sisi sisi perempuan selalu di anggap korban ini yang dikatakan harus kritis dalam mebaca kontruksi secara baik,agar tidak salah dalam menjustifikasi akan suatu kesimpulan,karena pengetahuan yang ternatruralisasi atas Gender beroperasi sebagai batasan yang bersifat pencegahan dan kekerasan terhadap realitas (Butler,1999,xxxiii),karena kegagalan akan identitas itu adalah berpotensi bahaya dan radikal.

Feminisme pasca colonial yang berasal dari pemikir Gayatri Chakranorty Spivak,Spivak percaya bahwa kategori identitas feminis adalah konstruksi social,yang diatur melalui institusi kuat,dalam French Feminism in a international Frame(Spihak,1998) Spivak menjelaskan bagaimana ia menjadi semakin kritis terhadapa feminisme barat atau feminisme prancis dan mulai membedakannya dari perempuan dunia ketiga dan feminisme international dimana ia berpendapat bahwa konstitusi subjek perempuan barat berbeda dari konstitusi subjek perempuan dunia ketiga dalam hal budaya,sejarah,dan kelas social dan lebih lanjut kritik Spivak terhadap kaum intelektual akademik yang di istimewakan yang mengklaim berbicara untuk perempuan yang suaranya tak terdengarkan diselatan Global,yang berdampak pada keilmuwan feminis,dimana hal tersebut terlihat pada kecenderungan beberapa feminis barat untuk membuat klaim universal untuk berbicara bagi semua perempuan dipandangan sebagai bentuk imperialisme budaya dengan efek material signifikan.Hal tersebut dipertajam oleh Spivak bahwa feminisme prancis maupun Angglo-Amerika yakni feminisme Black yang cenderung mengistimewakan focus pada diri (self),sehingga tidak bisa mengenali secara simultan focus ke yang lain (other) serta Spivak mencoba menguatkan teori pembagian kerja  marxisme yakni tentang imperialisme dan dominasi lalu menempatkan eksploitasi ekonomi perempuan dalam kaitan dengan pembagian internasional atas kerja antara dunia ketiga dan dunia pertama (sander,2006) karena tanpa disadarai pembagaian ini menyediakan konstruksi ideology atas Genderr yang menjaga laki-laki tetap dominan dengan menempatkan perempuan sebagai objek historiografi colonial  dan sebagai subjek pemberontak,sehingga ketika tenaga kerja perempuan biasa yang tak teroganisasikan menjadi andalan dalam perdagangan dunia

Sehingga untuk mengahiri penindasan dan eksploitasi yang dalam essainya can the subaltern Speak? Spivak pentingnya kategori perempuan untuk representasi dari diri modern sebagai subjek peradabaan timur yang belum beradab.Yakni ketika seorang perempuan melakukan tindakan perlawanan tanpa infrastruktur yang akan membuat kita mengenali perlawanan itu,perlawanan akan sia-sia (Spivak,1998;62),ini adalah problem social yang terjadi dugaan umum dalam setting kawasan lebih makmur,karena patriarki selalu menyediakan beberapa jenis akses tertentu pada kaum patriarki atau laki-laki yang melalui kebutaan Gender,tetap menjaga budaya patriarki terus hidup tetapi tidak sehat dengan demikian feminisme Spivak mendekonstruksi pembagian antara penjajah dan terjajah untuk menekan Gender di abaikan dalam konseptualisasi diri,dan muncul kembali di Imperium baru (Global) dalam bentuk migran perempuan yang menjadi tak terlihat di arus bolak-balik antara kulturalisme dan kapitalisme multinasional dan internasional.

Spivak mencoba mendekonstruksi kembali pemikiran feminis dari persepktif kehidupan dan sejarah perempuan non barat,hal ini penting untuk menciptakan kesadaran Global tentang kondisi local yang menstruktur dan sistematis dalam penindasan perempuan di berbagai belahan dunia.

Beberapa Aliran Gerakan Feminsme

Kelompok pertama penganut teori Feminisme Radikal yang sejarahnya muncul sebagai reaksi atas kultur sexisme atau diskriminasi social berdasarkan jenis kelamin,dimana mereka melihat bahwa penyebab penindasan terhadap perempuan disebabkan oleh jenis kelamin laki-laki itu sendiri beserta ideology patriarhinya,dimana kaum laki-laki secara biologis maupun politis adalah bagian dari permasalahan,kaum feminis radikal berangapan bahwa penguasaan fisik perempuan oleh laki-laki,seperti hubungan seksual adalah bentuk dasar penindasan terhadap perempuan (Jaggar,1997) karena bagi mereka,patriarki adalah dasar dari ideology penindasan yang merupakan system hirarki seksual dimana laki-laki memiliki kekuasaan superior dan privilege ekonomi (Eisenstein,1979).bagi gerakan Feminis Radikal revolusi dan perlawanan atas perempuan bisa dilakukan dalam bentuk yang sangat personal,dimana mereka mengambil bentuk mode perjuangan ideology maskulinitas,yakni persaingan untuk mengatasi kaum laki-laki seperti diutarakan oleh Stanley and Wise bahwa revolusi terjadi pada setiap perempuan mengambil aksi untuk mengubah gaya hidup,pengalaman dan hubungan mereka terhadap laki-laki.

Kelompok kedua Feminisme marxis,kelompok ini menolak argument kaum feminis radikal yang menyatakan bahwa biologis sebagai dasar pembedaan gender,karena bagi mereka bahwa pnindasan perempuan adalah bagian dari penindasan kelas dalam hubungan produksi. Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini.Status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property).

Kelompok Ketiga Feminisme Liberal

Apa yang disebut sebagai Feminisme Liberal  adalah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik.Setiap manusia (demikian menurut mereka) punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan.Akar ketertindasan dan keterbelakangan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri.Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan lelaki. Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraaan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama juga dengan laki-laki. di abad 20 organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal. Dalam konteks Indonesia, reformasi hukum yang berprerspektif keadilan melalui desakan 30% kuota bagi perempuan dalam parlemen adalah kontribusi dari pengalaman feminis liberalTokoh aliran Feminis Radikal adalah Naomi Wolf, sebagai “Feminisme Kekuatan” yang merupakan solusi.Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.

Keempat Feminisme Sosialis

Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Ia sepaham dengan feminisme Marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan. Agenda perjuangan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki.

Kelima Feminisme Poskolonial

Dasar pandangan ini berakar pada penolakan universalitas pengalaman perempuan.Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan perempuan yang hidup di dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama. Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminisme poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan. Salah satu pemikir Feminisme posckolonial asal India Gayatri Chakranorty Spivak, bagaimana ia menjadi semakin kritis terhadapa feminisme barat atau feminisme prancis dan mulai membedakannya dari perempuan dunia ketiga dan feminisme international dimana ia berpendapat bahwa konstitusi subjek perempuan barat berbeda dari konstitusi subjek perempuan dunia ketiga dalam hal budaya,sejarah,dan kelas social sehingga justifikasi universal atas nama perempuan oleh pemikir Anglo saxon,Black Feminisme,Feminis Prancis di anggap sebagai bentuk Impprialisme budaya.

Oktokritik Terhadap Aktivis Perempuan West Papua

Perjuangan tanpa teori adalah anarkis kata Lenin tokoh Sosialis tanpa mengurangi hormat dan tidak mengeneralisir secara umum kepada semua Perempuan Papua yang konsen pada perjuangan untuk perubahan,pembebasan dan persamaan dalam ruang public dan privat,peningkatan status ekonomi rumah tangga yang lebih berkeadialan dan juga akses perempuan dalam dunia politik,dalam kontesk ini akan lebih focus kita kaji dan bedah dari sisi praktis sebagai aktivis lapangan yang sering berhadapan dengan masa atau rakyat akar rumput serta segala macam kepentingan yang berkorelasi dengan penindasan yang dialami oleh rakyat secara umum dan perempuan secara khusus.

Problem hari ini yang bisa kita kritisi adalah sejauh mana komitmen perempuan papua  ketika  bersuara  membela kepentingan masa rakyat serta seluruh persoalan social, politik, ekonomi, Ham, lingkungan,Gender  yang terjadi diPapua dan sejauh mana perjuangan tersebut menghasilkan suatu keputusan politik yang berpihak pada kepentingan perempuan serta  pada pembebasan west Papua.ada beberapa variable yang masih menganjal pada arah perjuangan aktivis perempuan Papua.

pertama belum terdidik secara radikal sehingga mengakibatkan  konsep berpikir tidak teroganisir secara sistematis dengan baik maka berpengaruh pada komitmen perjuangan yang juga setengah-tengah atau bersifat seremonial dan eforia pada tataran taksis perjuangan sehingga hasil akhir tidak pernah tercapai secara maksimal hanya sepengal-pengal.

Kedua proses kaderisasi organisasi yang tidak kontinyu dan berkelanjutan baik pada tataran organisasi maupun semangat juang atau keingginan untuk mengkaderkan diri dalam proses perjuangan tersebut sehingga spirit maupun rasa nasionalismepun mengalami kontradiksi internal yang cukup kompleks ketika variabel eksternal berpengaruh maka dengan sendirinya perjuangan sebagai aktivis perempuan pun berahir karena ideologisasi yang tertanam tidak menyatu dalam diri sebagai diri yang dinamai aktivis perempuan karena menjadi aktivis hanya sebatas momen dan ruang bukan terpangil untuk menjadi pejuang bagi pembebasan perempuan maupun west papua.

Ketiga.semangat untuk mendisplinkan diri bersama literasi maupun kajian belum tertanam secara membasic atau mengakar sehingga ketika miskin ide dan narasi maka percakapan keberpihakan perempuan dan percakapan tanggung jawab perempuan untuk menjadi bagian bagi perjuangan west papuapun akan hanya sebagai basa-basi yang tidak akan memberikan suatu konsep,ide,taktis,strategi,analisis ekopol maupun lainya sebagai sarana perlawanan untuk pembebasan dan keberpihakan sebagai perempuan dan kepada peremppuan maupun pembebasan west papua secara umumnya,ketika miskin teori maka instrument perjuanganpun tidak akan muncul dalam akal pikiran sebagai manusia karena tubuh butuh nutrisi yaitu buku bukan gossip.

Keempat.tantangan kita hari ini yang cukup kompleks adalah arus Teknologi,Informasi yang begitu cepat seperti anggin berhembus tanpa pernah disentuh wujud fisiknya,Arus IT ada aspek positif dalam hal memperpendek ruang kendali,mempercepat komunikasi,informasi cepat terdistribusikan secara massal,serta ruang komunikasi dan informasi bebas di akses oleh siapapun dalam Desa Global  ( Global Village)  dan ini menjadi salah satu penunjang yang perlu untuk dimanfatkan karena dapat menunjang aktifitas kerja-kerja aktivis perempuan dalam mengkampanyekan isu-isu yang berkaitan dengan keberpihakan perempuan serta juga perkara kemanusian yang terjadi dipapua hari ini.namun kalau ditelisik lebih dalam perkembangan IT hanya mengantarkan manusia papua atau perempuan papua yang kategori aktivis hanya sebagai sarana untuk membangun narasi-narasi yang tidak berbobot alias saling menjatuhkan sesame aktivis perempuan dan juga intrumen untuk menonjolkan egoisme pribadi sebagai aktivis mendsos yang serba wao dengan atribut kapitalisme ini adalah beberapa hal yang simple namum menjadi batu sandungan untuk membangun semangat kolektif untuk memperjuangan kepentignan perempuan dan juga perjuangan west papua.

Tulisan ini hanya sebagai temantik atau rangsangan untuk memancing sejauh mana aktivis perempuan papua dalam sepak terjangnya dalam mengorganisir perempuan sendiri untuk bekerja kolektif dalam memperjuangkan kepentingan perempuan agar ada keberpihakan bagi kaum perempuan dalam dunia privat maupun publik dan juga untuk proses perjuangan  pembebasan bagi west papua.otokrik harus menjadi basic dalam kerja-kerja membasic perjuangan dipapua karena kalau semua ide,pikiran,konsep hanya sekedar dikomporomikan karena takut ada perasaan tidak enak perasaan menghormati maka perjuangan akan berjalan ditempat,semua harus dibangun berdasarkan rasio bukan perasaan.Papua membutuhkan Perempuan untuk terlibat langsung dalam perjuangan memang diakui banyak sudah peran dari kawan-kawan perempuan bagi Papua namun perjuangan tersebut harus lebih di konsolidasikan berbasic teori-teori feminisme dan dilekatkan dengan konteks kepapuan hari ini agar ada formulasi baru bagi perjuangan aktivis perempuan diPapua karena perjuangan tanpa teori perjuangan tak akan memiliki arah juang.

karena Perempuan sebagai aktivis hari ini masih sibuk soal perkara Domestik bukan perkara Publik yang lebih luas,Perempuan masih terpaku pada persoalan perasaan yang tidak pernah selesai sehingga akal menjadi layu dan perjuangan pun berjalan ditempat.

Semoga ada gebrakan-gebrakan baru bagi kelompok aktivis perempuan Papua untuk lebih mengkonsolidasikan  proses kaderisasi serta juga memperkuat studi literasi yang akan menjadi jembatan untuk membawa suatu perubahan bagi masa depan perempuan papua,perempuan dunia dan Papua pada khususnya,karena perjuangan tanpa keterlibatan perempuan akan sia-sia karena makanan tanpa garam akan hambar begitupun perjuangan tanpa perempuan akan mati.maka peran perempuan sangat  dibutuhkan.

untuk generasi perempuan papua maupun aktivis perempuan papua  untuk harus lebih  mendisplinkan diri secara massif untuk belajar,studi literasi,analisis social,diskusi,menulis serta bersentuhan langsung dengan masas rakyat di akar rumput agar pengalaman kongret tersebut dapat dielaborasikan dengan teori dan menghasilkan suatu platform baru bagi perjuangan.karena dunia hari ini dibangun dengan konsep,teori,bukan dengan kata-kata lisan yang tak bertuan.

Penulis adalah ketua bidang kaderisasi pengurus pemuda katolik komisariat cabang Tambrauw**

Daftar pustaka:

De,Beauvoir,Simone hal.86-98 buku teori-teori kritis

Butler,Judith,Hal.150-164 buku teori-teori kritis

Kristeva,Julia.Hal.292-308 Buku Teori-Teori Kritis

Spivak,Chakravorty,Gayatri.Hal.413-427.Buku Teori-Teori Kritis diterjemahkan dari Critical Theorists and International Relations.Yogkarta-Surabaya.Pustaka Baca,Cetakan I 2010.

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

Pemerintah Anggap Remeh Deklarasi Benny Wenda, Ini Kata Aktivis HAM!

DIPTAPAPUA.com - Pada peringatan 1 Desember 2020 atau 59 tahun kemerdekaan Papua (1 Desember 1961), United Liberation Movement for west Papua (ULMWP) mendeklarasikan pemerintah...

Berita Hoax Terkait Dirinya, Veronica Koman Ancam Bakal Lapor ke Dewan Pers

DIPTAPAPUA.com - Dua media tanah air yakni Kompas TV dan detik.com pada Kamis (03/12/2020) memberitakan bahwa Veronica bersama sejumlah warga negara asing lakukan demonstrasi...

ULMWP Tunjuk Benny Wenda Jadi Presiden Papua Barat, TPNPB-OPM: Kami Tidak Akui

DIPTAPAPUA.com - Pada moment peringatan hari kemerdekaan Papua (1 Desember 1961-1 Desember 2020), United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menunjuk Benny Wenda sebagai...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

Pemerintah Anggap Remeh Deklarasi Benny Wenda, Ini Kata Aktivis HAM!

DIPTAPAPUA.com - Pada peringatan 1 Desember 2020 atau 59 tahun kemerdekaan Papua (1 Desember 1961), United Liberation Movement for west Papua (ULMWP) mendeklarasikan pemerintah...

Berita Hoax Terkait Dirinya, Veronica Koman Ancam Bakal Lapor ke Dewan Pers

DIPTAPAPUA.com - Dua media tanah air yakni Kompas TV dan detik.com pada Kamis (03/12/2020) memberitakan bahwa Veronica bersama sejumlah warga negara asing lakukan demonstrasi...

ULMWP Tunjuk Benny Wenda Jadi Presiden Papua Barat, TPNPB-OPM: Kami Tidak Akui

DIPTAPAPUA.com - Pada moment peringatan hari kemerdekaan Papua (1 Desember 1961-1 Desember 2020), United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menunjuk Benny Wenda sebagai...

Polisi Pamer Tulisan “Cinta Damai”, Massa Aksi: Stop Pencitraan

DIPTAPAPUA.com - Dalam aksi peringatan 59 tahun hari Papua Merdeka (1 Desember 1961), yang dilakukan oleh mahasiswa Papua serta solidaritas orang Indonesia untuk Papua...

Peringati Hari Kemerdekaan Papua, Mahasiswa Papua se-Jawa Timur Aksi di Surabaya

DIPTAPAPUA.com - Sejak 1 Desember 1961 atau 59 tahun yang lalu, di Hollandia atau kini Jayapura rakyat Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora dan mendeklarasikan...