Merefleksikan Dua Denyut Nadi Pemberontak di Papua Melalui Otsus dan Pemekaran

Oleh: Bartolomeus Korain

Merefleksikan kembali jejak langkah awal dari sejarah yang mampu melahirkan negara Indonesia modern yang. Hasil refleksiaan tersebut saya temukan pada sebuah artikel yang di tuliskan oleh Joshua Barker dan Gerry van Klinken tentang merefleksikan kembali tentaan perkembangaan negara Indonesia kini.  Berbicara soal negara modern. Tidak terlepas dari pembuataan konsep singkat antara negara modern, dan negara pewaris secara tradidional. Dalam penerjemahaan antara negara modern dan negara tradisional.” Dalam kontek yang menunjukaan wajah baru sebagai negara modern adalah, wajah ekonomi dan politik. Serta negara tradisional adalah segala harta waris yang di taati hingga kini masih berkelanjutaan( seperti negara para kerajaan).

Dalam hal ini juga, saya sedikit mengangkat sejarah negara Tradisional  yang dapat merdeka diatas tanah Papua. Negara yang telah dideklarasikan oleh Belanda pada 1 desember 1961. Selama Belanda mendeklarasikan kemerdekan bagi bangsa West Papua, kini Soekarno kembali melecehkan kemerdekaan tersbut melalui Tri Komando Rakyat  (TRIKORA). Yang di kumandani olehnya pada 19 Desember 1961. Dalam teriakan orasi politiknya diatas panggung  di alun-alun utara Yogyakarta. Dengan narasinya yang begit Nyaris didengar; pertama  gagalkan pembentukaan negara boneka Papua buatan belanda. Kedua kibarkan merah putih di Irian Barat, tanah air Indonesia. Ke-tigea, bersiaplah untuk mobilisasi umum untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dan tanah air.

Foto: pidato presiden soekarno di alun-alun Utara Yogyakarta, (mesium Tugu pembebasaan iria barat Makasar). Bartolomeus Korain 2018.

Refleksi saya tentunya akan keluar dari artikel yang di tuliskan oleh Joshua Barker dan Gerry van Klinken tentang merefleksikan Negara Indonesia. Dan saya akan mencoba menuliskan reflesi saya secara murni dari berbagai sumber tentang sejarah pencaplokan bangsa west papua dan kondisi dari perkembangan negara modern yang memperjepit ruang kehidupan ekonomi, soaial, budaya dan politik bagi bangsa west Papua.Dunia modern kini sudah memulai mengikis seluruh kehidupan berbudaya bangsa Indonesia. Negara yang penuh dengan beragam suku, dan bangsa serta bahasa yang berbeda-beda. Dalam kontek perbedaan ini merupakan sebuah kekuataan yang mengkerucutkan menjadi kekayaan terbesar bagi bangsa Indonesia. Namun dalam beberapa decade mulai abat terakhir ini. Semakin banyak devusi dunia modern mendominasi hingga mengikis hegemoni kekayaan yang di miliki oleh negara kesatuan republic Indonesia.

Plat  from yang beragam tidak henti masuk kedalam Indonesia. Berbagai ragam melalui tulang punggung ekonomi dan politik. Hal tersebut merupakan sebuah ancaman besar bagi negara yang beragama akan kekayaan budaya, tradisi, dan segala kearifan local yang di miliki bangasa ini. Bebribcara soaal arus masuknya plat From (arus globalisasi) masuk di Indonesia, ini merupakan dampak juga dari pemimpin negara yang memiliki ambisius besar untuk membawa nama negara bertarung dalam duni globalisasi. Agar tidak di katakana ketinggalaan ( kalah saing). Dalam hal ini boleh saja menurut saya, tetapi jangan hanya membuka telapak tangan dengan selebar mungkin untuk menerima permen manis dan melupakan telapak kaki yang selalu menjadi dasar tumpuaan langkah kaki kehidupan.

Pada waktu saya mulai lahir dan dibesarkan. Saya di besarkan disebuah kampung kecil, yang bernama Mosun (Srahwata) Distrik Aifat Utara Kab.Maybrat Papua Barat. Sebelum saya menginjak kaki pada Pendidikan sekolah dasar (SD) Santo Agustinus Mosun, pada tahun 2003. ternyata saya belum mengerti dengan apa itu Otonomi Khusus  (OTSUS). Seiring lajunya waktu berjalan, saya sadar bahwa Otsus ini dia lahirkan denga nomor punggun UU No.21 Tahun 2001. Dan pada saat saya menginjakan kaki dalam Pendidikan  sekolah dasar (SD). Di Mosun pada tahun 2003. Tahun tersebut pula dimana preseiden Republik Indonesia adalah  Ibu Megawati Soekarno Putri. Sebelum saya sekolah. Negara Indonesia juga sudah berusaha memainkan peran untuk bagaimana mengamankan atau membungkamkan suara dan semangat nasionalisme Rakyat West Papua. Pada semester pertama saya belajar pada pendidikan sekolah dasar (SD) tersebut, dan sempat saya mendengar sebuah siaran radio yang di putarkan oleh guru saya (Falerius Korain). Hingga sampai saat ini saya tidk pernah melupakan moment tersebut. Kutipan hasil siaran RRI-pro 1 Sorong 102.6 MHZ FM. Saya sempat mendengarkan sebuah perbincangaan yang begitu rame denga topic “Intruksi Prseden  (inpres) No 1 Tahun 2003 guna, memberlakukan kembali UU 45 Tahun 1999 tentang pemerkaran Propinsi Iraian Barat, Irian Jaya Tengah, Dan Kab.Paniai, Kab. Mimika, Kab.Puncak Jaya, Serta Pemekaran Kota Sorong”.  Selang 1 tahun dengan begitu ambisiusnya para elit local daerah Selatan Kota Sorong. Ingin menjadi tuan diatas negrinya sendiri. Mereka memajukan proposal kepada pusat (ibukota negara Indonesia “Jakarta”). Lebih fokusnya kepada Kementriaan Dalam Negri (Kemendagri) untuk memekarkan sebuah Daerah Operasional Baru (DOB) diatas bumi Teminabuan (Tehit). Keran Misi Negara Indonesia untuk memecahkan persatuaan masyarakat Papua. Maka Ibu Presiden Megawati Soekarno Putri yang dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia, pada 23 juli 2001-20 Oktober 2004. Dapat terus melanjutkan misi dasar dari sang ayahnya “Ir.Soekarno”. Yang mana telah tercatat dalam sejarah aneksasi bangsa West Papua, (merebut paksa bangsa West Papua dari tangan UNTEA Pada 1 Mey 1961). Untuk mengesahkan pemekaran Kabupaten Sorong  Selatann yang berkedudukan di Teminabuan.

Saya terus mengikuti pendidikan  sekolah dasar (SD). Dengan dibiayai oleh hasil keringat orang tua saya hingga selesai. Disaat itulah saya benar-benar merasakan adanya terobosan dunia moderenisme (arus globalisasi), yang mana sudah mulai merambak dalam kehidupan lingkunggan saya. Dan saya mengakhiri pendidikan sekolah dasar  (SD), Pada tahun 2009. Tepatnya di mana masih siklus penyuburaan dana OTSUS. Para elit local  memutuskan untuk   pemekaran lagi, sebuah  Derah Operasional Baru (DOB).Yakni Kab. Maybrat pada 3 mey tahun 2009. Saya  dapat berpindah dan melanjutkan Sekolah Menegah Pertama (SMP) Neri 1 Aifat  Kampung Ayawasi, kab. Maybrat Papua Barat.Dari situlah saya mulai melihat adanya perkembangan baru melalui adanya kendaraan roda 2 dan roda 4, serta adanya pesawat terbang. Dan saya mengenal sebuah Ras baru ( Melayu). Ras tersebut di miliki oleh Pastor, Suster, Dan Para Guru-Guru Kontrak.  Pada masa tersebut juga saya sudah  berusia  12 Tahun, mulai menimbulkan separuh kesadaraan, atas dampak dari kehadiraan UU  OTSUS No. 21/2001dan Inpres No 45 / 1999 tentang pemekaran Derah Operasional Baru (DOB). Saya mengikuti dunia tersebut, saya merasa  sangat  engan dan baik. Karena mungkin faktor belum sadar, atas apa rencananya Indonesia. Dengan menghadirkan dunia OTSUS dan DOB dalm lingkungaan kehidupan sehari-harinya saya.

Seiring berjalan selama  3 tahun, saya mengakhiri pendidikan Sekolah Menegah Pertama (SMP) tepetnya tahun 2012. Saya memutuskan untuk merantau di sebelah Propinsi Papua. Propinsi dimana yang masih digabungkan menjadi satau. Dan tepatnya di Kota Timika untuk melanjutkan Sekolah Menegah Atas ( SMA).Dalam perjalanan dari ayawasi menuju Kota Sorong. Saya ditawarkan oleh seseorang peejabat di kab.Maybrat. Sebagaimana mestinya untuk mengikuti tes program Afirmasi untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) di daerah luar Papua. Pada prinsipnya saya bahw, “saya tidak mau”. Dengan satau alasan saya bahwa, saya tidak mau. Saya ingin ke Timika biar saya bisa lihat gunung Emas. Setibanya kami di Kota Sorong. Saya tergesa-gesa untuk seger tibanya pagi, agar saya bisa melihat wajah Kota Sorong. Dan sempat saya juga berfikir untuk menuju ke-sebuah Pasar Remu Kota Sorong. Setibanya pagi saya pun bergegas menuju Pasar Remu dengan menumpangi sebuah angkot(Taxsi). Dalam perjalanan tersebut, saya mendengar begitu ramai pembahasaan tentang kemajuaan Kota Sorong yang begitu cepat seketika hadirnya Otsusu. Dan saya bertanya kepada seorang ibu, “ ibu ini Kota Sorong maju sekali eee? Dan jawab ibu. “Siapa Dulu Kalo bukan Kita Orang Asli Papua Yang Pimpin Kita Pu Daerah Sendiri”. Walikota semasa tersebut adalah Jonatahan Annes Jumame pada periode  ke- 2 (11 juni 2007-11 juni 2012). Sambil  saya melirik pada karungya ibu dan saya bertanya lagi itu ibu pu karong k?. “ia, itu yang berisi bahan jualan sya” jawab ibu kepada saya. Lamjut lagi bertanya,  ibu isi bahan jualaan apa? Jawabnya “ umbi kayu (kasbi 1 karung), sayur bayam  hijau segar dan ada beberapa bahan jualan lainya. Dan saya bertanya lagi, ibu ibu mau pegri berjualan dimana? dan jawab ibu “mau pergi jual di Pasar Remu”. Dan saya langsung terdiam.

Setibanya saya di Pasar Remu Kota Sorong. Saya dapat menyaksikan secara langsung bahwa ternyata memang benar ramai. Disana banyak hal baru yang saya dapat melihat. Langkahan kaki terus menuju kedalam Pasar. Saya melihat adanya sekat-sekat ruangan (tempat mereka para pedagang berdagang). Sekat-sekat tersebut memisahkn antara Orang Asli Papua (OAP) dan orang pendatang. Saya menuju lagi sisi barat Pasar Remu. Saya menemukan banyak sekali anak-anak muda asli Papua yang mabuk hingga tetepar ketiduran di samping jiku pasar tersebut. Saya bergeser lagi ke selatan Pasar Remu. Saya melihat  banyak orang yang berkerumunan, menyaksikan perkalahiaan antara mama-mama Papua yang merebut ruas tanah kurang lebih 1 M2. Depan pasar tersebut  untuk mereka berjualan. Saya kembali lagi ke Utara, saya melihat seorang ibu mengambil karung, kartun, dan beberapa plastic. Mengalas di bawah tanah depan Pasar tersebut Untuk meletakan bahan Jualanya. Saya langsung mendekati ibu tersebut dan saya melihat ibu tersebut duduk dibawah tanah sambil menyusun bahan Jualanya. Disaat itulah saya mendapatkan pelajaran berharga tentang perjuangan nasib mama-mama Papua, untuk berjualan di lingkungan Pasar Remu Kota Sorong. Sesambil saya menemani ibu tersebut, saya memulai dengan pertnyaan. Ini ibu yang tadi kita sama-sama dari Aimas dan tumpangi 1 Taxsi to?. Ibu juga mengiakan dengan kode mengeleng kepalanya. Dan ibu pu nama siapa? Jawabnya “Robeka asal Maybrat”. Dan saya pun langsung tersentuh, karena menginggat jawaban ibu  diatas Taxi tadi bahwa; siapa lagi kalo bukan kita pu Orang Asli Papua yang pimpin kita pu daerah sendiri. Ibu kenapa berjualan di pinggiran pasar seperti begini?. Kenapa ibu tidk berjualan dalam pasar seperti mereka para pendatang yang duduk santai dalam gedung sambil berjualan?. “Anak mama berjualan disini karena memang di dalam pasar sudh ful, dan mameng ini mama punya tempat satau-satunya yang biasanya mama berjualan”. Dan di depan hadapan tempat jualan ibu Robeka, ada batasaan dengan ruas tanah pemilik toko pakian itu sambil di tunjuk ibu Robeka, dan ternyata pemilik took tersebut adalah Pendatang yang berdarah Bugis.

Singkat cerita. Setibanya saya menginjak kaki pada tanah Amungsa. Saya melakukan tanda kemenagan Kristus (Tanda Salib) sebagi serang katolik dan saya ucapkan, terimakasih Tuhan, saya sudh menuju puncak impiaan saya untuk melihat gunung Emas (Gunung Tembagapura). Disana saya dapat mendaftar pada sebuah Sekolah Menegah Atas (SMA) Yang Terakreditasi A,  dan ber label Yayasan Katolik (SMA Katolik St.Maria Timika Papua). Selama berdinamika kurang lebih 3 tahun dalam lembaga tersebut. Saya pun tidak kalah saing dengan kawan-kawan saya yang memiliki ras Melayu. Kurang lebih 3 tahun lamanya saya berdomisili di kabupaten Timika. Saya banyak mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dan. Saya juga sudah berhasil tahapan awal naik ke Tembagapura pada 2014. Selama  3 tahun saya mengisi otak saya dengan berbagai kenakalan. Disana saya juga menyaksikan begitu banyak, para anak-anak muda asli Papua yang suka mabuk-mabukan dengan minuman yang ber alkohol maupun lem fox.

Seketika suatu hari saya mengoncengi mama saya dengan motor MIO menuju Pasar Lama Timika Papua untuk belanja kebutuhan dapur. Saya melihat kondisi mama-mama Papua yang berjualan disana juga sama halnya dengan mama-mama di Pasar Remu Sorong Papua Barat. Sungguh nasib mereka sangat di perinhatinkan. Pada saat itu juga saya melihat ada seorang adik cewe asal Amungme yang menggunakan seragam lengkap SMP, duduk berjualan singkong di pasar. Dan saya memanggil mama saya untuk suruh beli semua singkongnya si ade cewek ini. Sambil itu saya bertanya, adik kenapa tidak berangkat sekol saja,dan kenapa dengan seragam rapih duduk diatas tanah yang beralasan karung sambil menjual?. Jawabnya, “kaka saya tidak punya uang untuk bayar tunggakan sekolah saya, juga bapa dan ibu saya juga sudah meninggal sewaku mereka di bunuh di kebun belakangaan gunung tembagpura. Saya langsung terdiam dan sambil melihat mama, ternyata mama sembil mengusap air matanya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, kata mama dengan penuh penyesalan “kenapa pemerintah papua ini tidk bisa menyediakan pendidikan geratis untuk anak-anak asli Papua? Dana pendidikan dari OTSUS ini di kemanakan?. Berto tolong nanti besok cek di ko pu sekolah itu, besok mama mau bawa dia kasih sekola di SMP St.Maria situ”. Dan saya jawab ok mama. Dan selanjutnya adek itu mama dan Bapa saya membiayai hingga kini menduduki bangku mahasiswi kebidanaan pada akademi keperawatan (AKPER) kabupaten Timika.

Sekian refleksi saya kali ini. Hanya sebatas jejak langkah kehidupan saya sebagai generasi muda Papua. Generasi yang dilahirkan pada setelah Era Orde Baru. Walapun orde baru tersebut dikatakan sudah tumbang pada 1998. Namun saya masih berani, mengatakan hingga detik ini denyut nadi orde baru terbesar dan masih ada diatas muka bumi Cendrawasih. Dengan kaca mata saya, Rezim tersebut masih hidup hingga sekarang. Saya akan menyebut Rezim orde baru  sebagai denyut nadi, yang masih berakar diatas bumi cendrawasih adalah Otsus Dan Pemekaran Daerah Otonomi Baru, serta pengesposnya sumber daya alam (SDA) di Papua yang begitu massif.

Jejak langkah saya terus dapat melaju kencang menuju kesadaran pribadi saya. Penyebaran  tentang denyut nadi rezim orba yang kini menjadi pemberontak ditengah kehidupan social masyarakat adat Papua.  Kini seluruh masyarakat Papua dan Papua Barat, telah bersepakat untuk menyatakan sikap “bahwa kebijakan OTSUS yang  di berikan sebagi permen untuk membujuk kami Rakyat Papua dan Papua Barat telah gagl total”. Papua dan Papua Barat bukanlah tempat kehidupan para Monyet-Monyet yang di mangsa semaunya oleh manusia Indonesia.

Dalam refleksi singkat saya diatas. Dapat menggambarkan sedikit tentang dampak negative atas kehadiraan UU Otsus No.21 Tahun 2001 dan Inpres No. 45 Tahun 1999. Kembali pada  tujuan awal dari kehadiraan Otsus dan Pemekaran Daerah Oprasional Baru diatas bumi Cendrawasih yang memiliki kurang lebih 421.9891 km2. Dengan jumblah dana Otsus yang di miliki oleh Propinsi Papua Barat Rp.1,118 triliun, dan di tambahkan lagi alaokasi dana untuk pembanggunaan infrastruktur Rp. 600 miliar pada tahun 2009. Namun semuanya dana tersebut tidk di rasakan oleh masyarakat kecil Papua Barat. Fakta lapanggan menunjukan bahwa, dana otsus tersebut berpihak pada para elit local (pemanggku jabatan penting di daerah tersebut). Hingga masyarakat kecil menjadi bias imbasnya laporan pertanggung jawaban. Seperti salah satu contoh percakapaan saya dengan ibu Robeka yang tersisi untuk berjualaan di Pasar Remu Kota Sorong Papua Barat. Refleksi diatas juga tidak terlepas dari setingan Negara Indonesia yang mana terus mendukung Proposal pemekaran yang di usulkan oleh para elit local, dan Negara juga masih terus menyuburkan praktek elit tentang korupsi, kolusi dan nepotisme ( KKN) diatas bumi Cendrawasih.

Kini Otsus sudah berjalan 20 Tahun diatas punggungnya bumi Cendrawasih. Tentunya akan muncul pertanyaan besar. Apakah kehadiran otsus di Papua mampu mensejahterakan masyarakat asli Papua ataukah tidak mampu?. Jujur saja, sesuai hasil refleksinya saya diatas dalam jejak pendidikan saya SD-SMA, bahkan hingga dewasa ini. Proses terealisasinya OTSUS dikatakan gagal total. Dan saya berharap Jakarta bisa mengerti dengan sendirinya, untuk memberikan jalan alternative terbaik bagi kami bangsa west Papua. Dan saya meminta kepada Jakarta membatalkan (memutuskan program Otsus Papua Jilid II). Karena bagi kami otsus hanya terbatas pada elit local kami. Jika Jakarta dengan sengaja tetap menghadirkan OTSUS jilid II maka Jakarta tidk pernah berhenti untuk melukis titik tetesan konflik diatas bumi Cendrawasih.

Saya akan mengajak para pembaca. Mari kita melihat kembali jauh pada kehidupan seluruh masyarakat Papua, pada dekade 1960-an kebelakang . pada dasarnya sebelum tahun 1960 –an kebelakan. Masyarakat (Orang Asli Papua) tidak pernah hidup terlepas dari segala sumber penghidupan seperti;, perdamain, dan sumber ketakwaan secara tradisional. Pada saman itu, seluruh kekayaan yang di milki oleh Orang Papua terisolir dan masih pada alami. Namun mulainya  masuk 1961 pada 1 mey, dimana hari yang merupakan hari sejarah bagi bangsa West Papua.Dimana memulai mencatat terjadinya integrasi-integrasi social yang berhujung pada fragmentasi (perpecahan).

Banyak terjadi pemekaran di akhir-akhir ini. Karena mengalirnya dana otsus secara deras kepada pare elit-elit local Papua.  Pada tahun 2013 presiden Sosilo Bambang Yudhoyono, mencoba untuk mengusulkan pemerkaran baru lagi diatas bumi cendrawasih yakni Propinsi Papua Tengah, dan Papua Selatan serta 21 kabupaten. Dalam usulan tersebut , bagi saya kembali pada misi dasar Negara untuk upaya omong kosung dengan tujuan memecahkan bela bangsa Papua hingga berkeping-keping. Pemekaran di Papua dan Papua Barat merupakan bagiaan juga untuk memberi angin segar bagi para investor, dan para transmigarasi serta mencoba mengubur seluruh budaya orang asli Papua. Ketika pemekaran tersebt terjadi, maka Nasionalime Papua Merdeka juga akan terancam. Karena persatuaan merupakan kekuatan penyuburan jiwa nasionalisme. Namun rencana presiden Sosilo Bambang Yudhoyono. Berhasil di patahkan oleh bapak Gubernur Papua Lukas Enembe. Yang mana memiliki hati nurai untuk yang berpihak pada Nasionalisme masyarakat Papua.

Dalam beberapa akhir-akhir ini saya mengikuti perdebatan tentang OTSUS (Jilid II). Banyak pejabat negara sudah mulai mencari solusi untuk membendung kampanye rakyat Papua untuk menolak atas perpanjanagn otsus jilid II. Yang mana akan berakhir pada 2021 akan datang. Juga para elit local sedang ikut bermain menipu rakyat kecil Papua untuk bagaimana mempertahankan OTSUS dan terus di perpanjangkan. Kedua propinsi yang berada diatas tubuh bumi Cendrawasih. Tidak lagi utuh. Melainkan sudh piceh-pecahkan oleh negara Colonial Indonesia. Yakni dengan terus menghadirkan pemekaran yang begitu massif. Saya secara pribadi menilai bahwa.”Bangsa idonesia sedang mempermainkan kehendak rakyat bangsa West Papua. Kami bukan minta pemekaraan, kami tidak mita kelanjutaan OTSUS, kami tidak minta posisi (jabatan), dan kami tidk minta hiburan sesaat per individu lainya. Saya meminta negara Indonesia tolong menanggapi suara hati Rakyat bangsa West Papua sesuai dengan Keluhan hati  kecilnya, doah hati kecilnya untuk bebas dari taring penjahat pemangsa.

Dalam pandangan saya, sesuai hasil refleksi saya. Saya sebagi anak muda bangsa West Papua. Merasakan dampak negative dari otsus diatas. Dengan tegas saya mewakili suara para masyarakat dan anak muda, serta seluruh ciptaan Tuhan diatas Bumi Cendra Wasih. Kami menolak dengan tegas atas,  perpanjangan otsus jilid II. Dan saya mintak kepada, bapak Presiden yang terhormat. Saya sebagai anak Muda yang memang benar-benar merasakan betapa pahitnya otsus itu. Maka dengan tulus saya meminta untuk memutuskan rantai Otsus dan pemekaran daerah oprasional Baru, di bumi Cendrawasih. Hanya satu suara untuk kesejahteraan bangsa west Papua, Keutuhan rakyat West Papua, serta segala isi tubuh bumi Cebrawasih. Maka berikan sebuah jalur alternative melalui penentuaan nasib sendiri demi memwujudkan kesejahteraan manusia West Papua.

Penulis adalah aktivis PMKRI cabang Yogyakarta**

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...