Sastra

PAPUAKU

Ilustrasi Papua (Foto: Dok twitter @jokowi)

Oleh: Romana Syufi

Di ufuk timur matahari, terbitlah  nama Papua merana              

Papua, bangsa nan gelap bagai sang raja malam kelam

Cahaya bintang kejora masih terselimuti merah putih

Negeri yang berinvestasi  eksploitasi serta kesenjangan

Negeri yang bertumbuh dengan intimidasi bersama sahabat diskriminasi

Negeri yang berlumuran darah manusia tak berdosa

Dari pinggiran  sampai kota papua kini dalam pelukkan transmigrasi

 

Manusia cinta kekerasan makin menyebar pesat bagai Covid-19

Pemandangan penuh darah yang berserakkan melumuri negeri barat papua

 Menjelma menjadi kebencian murni tanpa buat-buat  pada  negara berflower

Akan membekas di hati papua yang tak ternoda ini

Bagai kanvas putih yang tersiram cat lukisan berwarna merah darah

Tangisan  air mata merupakan orasi suci akan kemerdekaan tanpa suara dan kata-kata

dan bentuk doa tulus dari kaum berlemah yang berseru akan ketidakadilan

 

Ya memang, negeri kali  pertama terbitnya mentari kilauan emas

namun  negeri itu selalu terbentur oleh kaum berotot  senjata yang tak berakal nurani

 Ruang kekerasan pun terambat jauh  di setiap koridor-koridor papua barat

Begitu banyak deretan konflik  yang sukar diuraikan dalam deretan angka

Papua diwarnai  rasa takut  dalam balutan stigmanisasi dan kemiskinan yang terbelakang

Rasa diterima dan dihormati adalah kerinduan tiap sanubari  yang hidup di papua

Papua mesti tanah damai bukan tanah dalam balutan duka-cita

Binneka Tunggal Ika  merupakan  slogan yang hilang maknanya

Ideology negara pancasila telah terkubur dalam realita destruktif

 

Suara kenabian gereja-gereja  di tanah papua telah sirna

Bertumbuh subur diskriminasi agama atas dasar mayoritas nan indah  oleh negara  copas

Gereja papua bisu dan buta mata pada suburnya budaya penindasan

Begitu banyak umat Tuhan digiring ke penjara, diadili bahkan dijatuhi hukuman mati

Alam papua jadi saksi bisu; tetesan darah serta cucuran air mata umat Tuhan

 Papua hidup damai dengan kepercayaan tanpa label, apakah begitu sulit?

Duka-cita  manusia papua begitu tergenang dalam diam bagai danau Anggi

Sungguh langka, kemerdekaan diri dalam kedamaian di bumi  cenderawasih

Angkat pena demi dialog papua-jakarta itulah upaya pejuang papua           

 

#Queen_of_Isen

0140
Redaksi Dipta Papua

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Sastra