Paus Belum Sebut Papua, Mengapa ? (1/2)

DIPTAPAPUA.com – Obor Untuk Papua – 

Oleh: Siorus Degei)

(Sebuah refleksi atas Kerinduan Pater Neles Tebai)

Siapa yang tidak kenal dengan dia? Imam, Misiolog lulusan Roma, Anggota Pax Christy Asia Pasific, Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP), Penulis Cemerlang, Sosok yang humanis dan humoris serta Pejuang Kemanusiaan terkemuka dari Papua, Pater Dr. Neles Kebadabi Tebai Pr. Nama “Kebadabi” diberihkan oleh keluarganya (Suku Mee) saat tahbisan imamatnya, “Kebadabi” berarti “Pembuka Jalan/Pintu”.

Nama “Kebadabi” ini menjadi motto tahbisannya, sebab saat itu tidak ada ayat dalam Kitab Suci yang menjadi favoritnya atau menyentuhnya. Pater Neles selalu percaya bahwa dalam beberapa hal spirit nama adat ini nampak. Semisal ia menjadi Imam Papua pertama yang Sekolah di Filipina dan Roma, kemudian setelahnya banyak imam Papua lainnya. Ia juga menjadi Imam Katolik Papua pertama yang berhasil mengantongi gelar Doktor.

Imam Kelahiran Godide, 13 Februari  1964 yang pernah menerima Pengahargaan Tjii Haksoon dan Peace Word pada 13 Maret 2013 di Seoul, Korea Selatan ini merupakan intelektual terkemuka dari Papua, (https://katolisitas.org/pastor-neles-dapat-penghargaan-dari-korea-selatan/, Senin, 16-05-2022, Pkl. 17:17 WIT).

Pater menghabiskan hampir seluruh hidupnya bagi almaternya (23 tahun masa imamat), Sekolah Tinggi Teologi Filsafat “Fajar Timur” Abepura dan tanah airnya, Papua. Ia memfokuskan seluruh jasa dan tenaganya bagi perjuangan Papua Sebagai “Tanah Damai”.

Melalui Jaringan Damai Papua (JDP) yang ia dirikan bersama rekan-rekannya pada 2009, Pater Neles mendedikasikan hidupnya bagi perjuangan perdamain di tanah Papua melaui Dialog Damai antara rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia.

Pater Neles tidak tangung-tangung masuk keluar hutan, naik turun Gurung, menyusuri sungai dan lautan hanya untuk mempertemukan pihak-pihak yang selama ini bergejolak di Papua. Ia pun mendekati semua pejabat publik baik di Papua maunpun di luar Papua mulai dari pucuk pimpinan sampai bawahan.

Semua ini beliau lakukan agar semua pihak yang menjadi aktor dalam konflik Jakarta-Papua atau Papua-Jakarta yang sudah berlansung lama, mendalam dan menyeluruh itu bisa diselesaikan dengan cara-cara yang damai, humanis dan ahimsa (non violence/ tanpa kekerasan).

Puncak dari perjuangan Pater Neles adalah ketika beliau ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Koordintaor Dialog Jakarta-Papua dari pihak Papua dan Dr. Muriddan Widjojo sebagai Koordinator untuk pihak Jakarta. Keduanya ditugaskan untuk menyiapkan segala sesutaunya yang berkaitan dengan proses, tahapan dan mekanisme dialog Jakarta-Papua, https://jubi.co.id/ini-penjelasan-pater-neles-tebay-tentang-penunjukan-dirinya-oleh-presiden-jokowi/, Senin 16-05-2022, Pkl. 17:14 WIT). Di tengah-tengah kesibukannya itu beliau jatuh sakit Kanker Tulang Belakang.

Pada Minggu 14 April pukul 12.15 WIB ketika umatnya mengarak Kristus sebagai Raja di Yerusalem Pater Neles tutup usia di ruang ICU lantai 3 Rumah Sakit St. Carolus Jakarta pada usia 55 tahun, https://id.wikipedia.org/wiki/Neles_Tebay, Senin, 16-05-2022, Pkl. 16:34 WIT).

Sepenggal gambaran tentang sosok Pater Neles ini mau menunjukkan bahwa Pater Neles merupakan sosok yang mau agar Papua itu bukan manjadi daerah konflik dan medan operasi militer tetapi sebaliknya Papua menjadi Tanah yang damai dan sarana yang Pater Neles tawarkan adalah Dialog Damai.

Sebelum kita maju pada inti pembahasan tulisan ini alangkah baiknya kita melihat lebih dekat ap itu perjuangan Dialog Damai yang konsisten diperjuangkan oleh Pater Neles Tebai? Sebab hampir semua orang Papua dan Pemerintah Indonesia belum cukup paham dengan konsep dan mekanisme Dialog Damai yang ditawarkan oleh Pater Neles. Bahkan kerapkali Pater Neles dicurigai baik dari dan oleh orang Papua tapi juga pemerintah Indonesia.

Dari orang Papua sendiri, terlebih mereka yang kontra dengan sistem “NKRI Harga Mati” (OPM) acapkali Pater Neles dicap sebagai “Pastor Mata-Mata dari pihak Indonesia”. Sedanglan dari pihak Pemerintah Indoensia (Jakarta) Pater Neles dicurigai sebagai “Pastor Pejuang Papua Merdeka”.

Prasangka yang serupa juga dilabeling kepada Dr. Muriiddan Widjojo (almarhum) sahabat karib Pater Neles, Koordintaor Jaringan Damai Papua untuk Jakarta dan Peneliti Senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indoneisa (LIPI) yang mengedit buku Papua Road Map: Negotiating the Past, improving the Present and Securing the Future (Jakarta, 2009), (https://jubi.co.id/pater-neles-tebay-muridan-tokoh-perdamaian-papua/, Senin 16-05-2022, Pkl. 17:00 WIT).

Lika-Liku Perjuangan Dialog Damai: Bak Merebus Batu?

Pertama, guna masuk dalam diskursus singkat prihal Konsep Dialog Damai dari Pater Neles, ada dua hal penting yang hemat penulis perluh dipaham baik oleh kedua belah pihak baik Papua maunpun Jakarta.

Pertama, Dialog Bukan Tujuan Tapi Sarana. Banyak orang baik dari pihak Papua dan Jakarta melihat dialog ini sebagai tujuan atau tepatnya Solusi atas konflik Jakarta Papua. Pihak Papua mengirah jika Berdialog Pasti Papua Akan Merdeka, Sementara dari Pihak Jakarta mereka mengirah bahwa jika mau Dialog maka harus Dialog yang dalam bingkai “NKRI Harga Mati”.

Padahal sekali lagi perluh ditekankan bahwa Dialog itu bukan Tujuan atau Solusi, Dialog itu Sarana atau Jalan (sesuai nama adatnya Pater Neles, Kebadabi; Pembuka Jalan/Pintu, bhs. Mee) untuk mencapai solusi atas dasar kesepakatan bersama, yakni Perdamaian atau Papua Tanah Damai.

Jadi, sangat keliru dan merupakan kerancuan berpikir jika ada opini liar yang bertebaran di tengah masyarakat bahwa Dialog Damai itu merupakan Solusi atas Konflik Papua-Jakarta. Dialog itu juga sama seperti tuntutan rakyat Papua untuk Referndum, bahwa Refendum atas konflik Papua itu bukan Solusi tapi hanyalah Sarana untuk menjadi Solusi. Solusi itu baru tercipta ketika hasil Refendum itu diumumkan.

Kedua, Pater Neles dan Jaringan Damai Papua bukan merupakan Mediator Dialog Jakarta-Papua atau Papua-Jakarta Papua, Pater Neles dan JDP hanyalah fasilitator Dialog Jakarta-Papua.

Mereka yang mengfasilitasi agar Sembilan aktor kunci Konflik Papua-Jakarta itu bisa duduk bersama, mengidentifikasi masalah-masalahnya dan mencari solusi-soulsinya atas dasar kesepakatan bersama kedua belah pihak pertikai.

Pihak yang akan menjadi Mediataor antara rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia adalah pihak ketika yang dipilih atas dasar kesepakatan bersama antara orang Papua dan Pemerintah, yaitu pihak ketiga yang independent, bukan merupakan pihak ketiga yang hanya ditunjuka oleh salah satu pihak.

Ketiga, Dialog Itu Tidak Instan, Tetapi Sebuah Proses. Banyak orang juga masih mengirah bahwa jika kita berdialog, maka Papua Akan Merdeka atau Papua Dalam NKRI Final.

Padahal, Dialog yang didorong oleh Pater Neles itu bukan dialog yang bersifat sekali jadi atau instan, dialog ini adalah sebuah proses yang berulang-ulang dan berlapis-lapis. Jika nanti terdapat miskomunikasi atau perseturuan, maka itu menjadi tanda untuk rehat, ketika kepala sudah tenang dan keadaan kembali cair, maka dialog akan dialanjutkan lagi. Jadi, dialog itu tidak sekali jadi tetapi merupakan sebuah proses alot, (http://sharevideo1.com/v/bGJYY1QxOGs0dkE=?t=ytb&f=co, PLC Dialog Papua 01, Senin 16-05-2022, Pkl. 16:36 WIT).

Konsep dan Mekanisme Dialog Damai yang ditawarkan oleh Pater Neles dan kawan-kawanya sebagai sarana penyelesaian konflik Jakarta-Papua itu dapat dijumpai dalam buku kecil berwarnah kuning keemansan yang ditulis oleh Pater Neles sendiri dengan Judul Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua yang diterbitkan oleh SKPKC Jayapura pada 2009. Buku ini membahas dengan cukup detail mengenai pikiran Pater Neles tentang Dialog Jakarta-Papua atau Papua-Jakarta.

Dalam dialog itu semua pihak yang bertikai duduk bersama, mengindentifikasi masalah-masalahnya dan mencari opsi-opsi atau solusi-solusinya bersama-sama. Semua masalah yang dibahas dalam dialog itu adalah masalah-masalah yang sudah disepakati bersama oleh kedua belah pihak yang bertikai. Siapa-siapa saja yang akan berdialog?

Ada Sembilan aktor kunci yang hemat Pater Neles perluh dilibatkan, yakni TNI-Polri, TPN-OPM, Orang Papua (yang ada di Papua), Paguyuban di Papua, Orang Papua (di luar Papua), Investor, Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat. Yang menjadi pekerjaan rumah besar di sini adalah menyatukan Sembilan aktor konflik ini.

Sebab masing-masing punya perbedaan-perbedaan yang secara subtantif sangat kontras. Jika kita bagi besar ada dua perbedaan subtasinya, yakni Ideologi “NKRI Harga Mati” dan Ideologi “Papua Merdeka Harga Mati”.

Lantas apa jawaban Pater Neles. Hemat Pater Neles, sesuai prinsip konsep dialog damai bahwa semua isu yang dibahas dalam dialog adalah isu-isu yang sudah disepakati bersama dan solusi-solusi yang disepakati juga merupakan opsi-opsi atau solusi-solusi yang sudah disepakati bersama, isu dan solusi “NKRI Harga Mati” dan “ Papua Merdeka Harga Mati” jelas tidak akan dibahas dan disepakati dalam dialog karena satu pihak akan setuju dan pihak lain tidak akan setuju. Yang menjadi kunci dalam dialog adalah Kepercayaan, Keterbukaan dan Kesepakatan.

Pertama, Rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia harus dan wajib hukumnya untuk saling percaya, di sini semua stigma, streotipe, lebel, cap, arogansi, gensi, ambisi, prasangka, disktriminasi, rasisme, dan lainnya mesti dibuang.

Kedua, rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia harus saling terbuka untuk berbicara, jika sudah ada kepercayaan pasti bersemi keterbukaan. Di sini secara jujur dan terbuka keduanya saling berdialog.

Ketiga, Kesepakatn, bahwa apa yang sudah dibicarakan dan ditentukan sebagai solusi atau opsi itu disepakati bersama. Jika sudah disepakati maka kedua belah pihak akan tertantang untuk menjaga dan menjalankan hasil kesepakatan itu.

Bahwa karena solusi itu adalah kesepakatan bersama maka keduanya akan memiliki rasa bertangung jawab untuk merealisasikannya. Kira-kira demikian gambaran singkat tentang dialog damai yang diperjuangkan oleh Pater Neles. Bersambung.(!)

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi-Filsafat “Fajar Timur” Abepura-Papua.

 

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...