23.3 C
Special Region of Papua
Saturday, December 4, 2021

Pendidikan Penting Untuk Kehidupan Manusia

Oleh: Pilipus Roni Wabia

Pendidikan merupakan proses timbal balik antara para guru serta anak didik. Dengan adanya proses pendidikan maka manusia saling berinteraksi dengan baik, antara sesama secara individu maupun kelompok. Oleh karena itu, pendidikan sangat penting bagi makhluk sosial yang masih bersiarah di bumi ibu pertiwi ini.

Apabila kaum sosial tidak melakukan hal tersebut dengan baik, maka akan terjadinya pengangguran yang semakin meningkat di kawasan negeri ini. Untuk menghindari hal tersebut, makhluk sosial harus mempunyai kreatif untuk melakukan atau menciptakan sesuatu yang baru dan saling berintegrasi antara sesama agar saling mengisi waktu luang dengan berbagai kreatifitas yang dimiliki oleh kaum sosial.

Kebanyakan masyarakat berpandangan bahwa sekolah sekedar untuk mengambil “Ijazah”dan dapat bekerja di dalam kantor atau lembaga eksekutif, legislative juga yudikatif saja. Namun pada realitanya tidak seperti yang dipandang oleh masyarakat, maka sekolah bukan sekedar seperti pendapat masyarakat pada umumnya, namun sekolah mempunyai banyak tujuan, di antaranya bisa dapat membaca, menulis dan bisa menjalin hubungan antar negara, wilayah dan juga daerah. Apabila seseorang yang dapat memahami dan juga menjalankan  proses tersebut dengan baik, maka hasilnya pun akan baik, “kerja keras tidak mengkhianati hasil”.

Menurut perspektif atau padangan saya, tidak menyetujui dengan baik menyangkut pandangan masyarakat, karena dalam 6 tahun di bangku sekolah dasar (SD), 3 tahun di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan 3 tahun sekolah menenggah atas (SMA). Apabila kami menyetujui hal tersebut, maka 9 tahun dalam proses belajar mengajar tidak ada artinya bagi kaum pelajar alias sia-sia.

Seorang pepatah dari Seneca, dia adalah seorang filsuf dan pujangga Romawi, mengatakan “non scholae, sed vitae discimus”artinya kita belajar bukan sekedar untuk sekolah, melainkan untuk hidup’’. Maka dari itu, manusia jangan memandang pendidikan dengan sebelah mata, tetapi harus memandangnya sebagai sebuah kebutuhan yang mendasar dalam hidup.

Apabila proses pendidikan  tidak berjalan dengan efisien dan efektif, maka akan terjadi pengetahuan yang minim bagi para peserta didik untuk berinteraksi dan tidak mampu untuk bersaing dengan tetangga-tetangga kami di pelosok wilayah dan daerah-daerah maju lainnya.

Kita lihat saat era sekitar 90-an para peserta didik lebih aktif dalam balajar berbagai hal, seperti membaca buku, majalah, surat kabar dan berkreatif dalam menulis berbagai venomena yang terjadi, baik dari agama, sosial, politik, budaya dan ketidakadilan sosial yang terjadi. Peserta didik pada masa kini, lebih cenderung kepada hal yang bersifat instan, mengapa demikian? Karena peserta didik sekarang lebih percaya kepada yang telah disediakan media sosial dengan adanya internet peserta didik bisa mengakses sesuatu dengan lancar. Dengan adanya HP (Handphone) semakin menurunnya proses berdialog atau saling berintegrasi antar sesama manusia. Artinya internet memanjakan seseorang untuk tidak lagi berpikir.

Pada zaman sekarang manusia lebih banyak meluangkan waktu untuk main HP (Handphone) daripada bekerja dengan orang tua di dalam rumah. Banyak perpustakaan yang beredar di dalam negeri ini, namun para pembaca semakin menurun dan tidak ada inisiatif untuk membaca. Sadar dan tidak sadar akan kehilangan budaya membaca yang dipelihara di negeri ini.

Baca Juga: https://diptapapua.com/mengenal-kebudayaan-dan-asal-usul-papua/

Menurut saya, peserta didik atau mahasiswa/i yang berkunjung ke perpustaakaan dan membaca buku akan punah dengan begitu saja, apabila aparatur sipil negara terkait atau Menteri Pendidikan dan kebudayaan, tidak mensosialisasikan betapa pentingnya bersahabat dengan buku. Untuk itu, manusia pada zaman sekarang harus lebih aktif dalam membaca buku dan menulis, agar para generasi yang akan mendatang tidak akan kehilangan budaya baca dan menulis.

Mahasiswa pada zaman sekarang, lebih cenderung dalam hal berbicara dan melibatkan diri dalam organisasi-organisasi, agar dibina mentalnya untuk mengajukan atau mengungkapkan pendapat di depan muka umum selayaknya seorang pemimpin, seperti orasi, mimbar bebas dan lain sebagainya. Oleh karena itu, mental sangat penting untuk dibina agar tidak goyah melawan arus gelombang yang datang dari mana saja. Banyak tenaga kerja sekarang, terutama bagi para pendidik lebih kepada yang mempunyai pengalaman dan banyak berorganisasi agar memiliki mental yang baik untuk mengatur dan mengarahkan bangsa dan negara ini berjalan dengan baik pada porosnya. (**)     

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

SEJARAH (I): Latar Belakang Lahirnya IPMT Surabaya

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Melalui Musyawarah Besar (Mubes) pada Sabtu, 20 November 2021 di Asrama Papua Kamasan III Surabaya, secara resmi Organisasi...

ESAI: Noken Mama Papua

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Louis Kabak)*"Noken Mama Papua". Tidak bisa kita pungkiri bahwa noken tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Papua....

ESAI (III): Cinta di Kiri Jalan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Maksimus Syufi)*Pada sebuah sore yang jahat, langit di Kota Rasis itu memerah dan membakar mawar berduri di...

ESAI (II): Anak Itu Sudah Mati

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Maksimus Syufi)*Besi panas yang dikirim Presiden Jokowi dari Istana itu, menembus perut dan membunuh Nopelinus Sondegau, anak...

ESAI (I): Sa Punya Nama Pengungsi

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -Oleh: Maksimus Syufi)*Desember 2018 di Nduga, saat itu sa ada di dalam Mama punya perut. Hingga 2019, sa...