Pohon Garam di Kab. Tambrauw Perlu Dilindungi Dan Dilestarikan

diptapapua.com, TAMBRAUW – Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat memiliki potensi alam yang sangat luar biasa di bagian laut, lembah, bahkan di daerah pegunungan. Salah satu potensi alamnya yang sangat menjanjikan adalah pohon garam atau dalam bahasa daerah setempat disebut Wabum yang tumbuh di berbagai daerah di Kabupaten Tambrauw seperti yang terlihat di Kampung Sikor Distrik Fef Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat.

Dari video berdurasi 2 menit 13 detik memperlihatkan pohon garam yang tumbuh besar dan ketika dikupas kulitnya telihat putih. Pohon garam ini sudah sejak dulu digunakan oleh para nenek moyang di Kabupaten Tambrauw untuk dicampur dalam sayur, daging, dan ikan maupun hal-hal lainnya yang dimasak.

Untuk menghasilkan garam, maka Agustinus Yewen mengatakan, pohon garam atau Wabum akan ditebang, lalu dibagi pendek-pendek dan kemudian dicincang tipis-tipis. Setelah itu buat para-para di tempat yang terbuka untuk kemudian pohon garam yang sudah dicincang tipis-tipis dijemur diatas teriknya matahari.

“Pohon garam yang sudah kering akan dibakar sampai nanti garam akan tumpuk baru diangkat dan diisi di bambu untuk selanjutnya bisa digunakan untuk masak sayur-sayuran, daging, ikan dan lain-lain,” katanya dalam video yang diunggah melalui akun Fecebook bernama Julita Yewen Yeum, Selasa (9/6).

Salah satu warga yang merupakan Sekretaris Kampung Sikor, Agustinus Yewen, saat menunjukkan pohon garam di Kampung Sikor Distrik Fef Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat, (Selasa (09/06/2020). (Foto: Julita Yewen)

Menurut Agustinus, garam yang telah dihasilkan akan digunakan sedikit ke sayur-sayuran, daging, ikan, dan hal-hal lain yang dimasak. Pohon garam ini memiliki takaran garam yang tinggi, sehingga harus digunakan dengan takaran atau dosis yang sesuai.

“Garam ini yang berat, sehingga kalau masak harus hitung dosis. Pohon garam ini berbeda dengan daun garam atau tali garam yang lebih ringan dosisnya,” ucap Sekretaris Kampus Sikor ini.

Dari pohon garam yang diperlihatkan teryata pernah diambil oleh para orang tua (tete dan nene) sejak dulu untuk digunakan sebagai bumbu dapur atau sebagai perasa dalam mencampur makanan berupa sayur-sayuran, daging, ikan, dan hal-hal lainnya yang dimasak.

“Kita bisa lihat di pohon garam ini ada bekas-bekas yang dipotong dulu oleh tete-tete di kampung ini. Kalau kita lihat sekitar kurang lebih 30 tahun bekasnya masih ada di pohon garam ini,” kata Julita Yewen dalam video tersebut.

Julita berharap, pohon garam yang dimiliki oleh masyarakat di Kampung Sikor Distrik Fef maupun di Kampung-Kampung lain yang ada di Tambrauw Provinsi Papua Barat bisa dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan alam di negeri penyu belimbing ini. (N/F: Maxi).

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...