Sosok Filep Karma dari Kacamata Seorang Sahabat

DIPTAPAPUA.com – Obor Untuk Papua –

Filep Karma, sahabat saya, juga mantan tahanan politik Papua, ditemukan meninggal sekitar pukul 7 pagi ini di Pantai Base G, Jayapura, dengan pakaian selam birunya. Dia seorang master diver yang cari ikan dengan harpoon.

Saya mengenal Filep Karma sejak Desember 2008 ketika mengunjungi penjara Abepura, Jayapura. Pada 2010, Human Rights Watch menerbitkan sebuah laporan, bersama Phil Robertson di Jakarta, tentang tahanan politik di Papua dan Kepulauan Maluku.

Ia awal kampanye internasional untuk membebaskan mereka, termasuk Karma. Mungkin Filep Karma adalah tahan politik yang paling terkenal dalam kampanye ini. Dia dipenjara dua kali karena protes damai pada 1998-1999 dan 2004-2015.

Mamanya, Eklefina Noriwari, mengajukan gugatan di United Nations Working Group on Arbitrary Detention di New York. Mereka memutuskan, pada November 2011, bahwa penahanan Filep langgar hukum internasional. Indonesia harus bebaskan Karma “sesegera mungkin, tanpa syarat.” Namun Karma baru dibebaskan dari penjara Abepura pada 19 November 2015, empat tahun sebelum masa hukuman 15 tahunnya berakhir.

Pada 12 Desember 2021, Filep juga hilang selama sekitar 18 jam setelah dia menyelam, juga di dekat Jayapura, dan hilang di laut. Dia menggunakan tangki oksigen untuk mengapung, dari sekitar pukul 11 pagi sampai pukul 7 malam, tidur di pantai dan kemudian berjalan sampai dia menemukan sebuah desa kecil sekitar pukul 7 pagi.

Filep Karma adalah pahlawan Hak Asasi Manusia sejati, yang konsisten protes tentang diskriminasi, pembunuhan dan marginalisasi Orang Asli Papua. Filep menunjukkan integritas dan keberanian moral dalam memperjuangkan keadilan, hak asasi manusia dan perlindungan lingkungan, tak hanya di Papua tapi juga di banyak wilayah Indonesia, terutama bagi orang-orang yang ditahan secara sewenang-wenang. Kepergian Filep Karma adalah kehilangan besar buat bangsa Papua Barat. Dia salah satu putra terbaik dari Papua Barat.

Pada Mei 2015, empat hari sesudah Presiden Jokowi membebaskan beberapa tahanan politik, saya mengobrol dengan Filep Karma dan Jefri Wandikbo, depan penjara Abepura. Karma memakai alat buat mengurangi gerakan di pergelangan tangan kiri karena repetitive injury – sering memeras pakaian saat mencuci pakaian, terlalu keras.

Eklefina Noriwari, mama dari Filep Karma, melahirkan anak sulungnya pada Agustus 1959 di Jayapura. Ini keluarga elit yang biasa berbahasa Belanda. Ayahnya, Andreas Karma, adalah pegawai negeri berpendidikan Belanda, diangkat menjadi Bupati Wamena pada 1970-an dan Serui pada 1980-an, oleh pemerintahan Indonesia. Sepupu Filep, Constant Karma, adalah mantan wakil Gubernur Papua.

Filep sendiri juga jadi pegawai negeri, seperti papanya, namun juga belajar soal ketidakadilan negara Indonesia dalam mengatur Papua, sehingga membuat Filep kampanye kemerdekaan Papua Barat sejak 1998 setelah jatuhnya Presiden Soeharto.

Filep Karma berada depan penjara Abepura pada 2 Desember 2014. Dia selalu menggunakan bendera Bintang Kejora pada seragam pegawai negerinya meskipun dapat hukuman penjara 15 tahun karena makar, termasuk mengibarkan bendera pada Desember 2004.

Karma menghabiskan waktunya di penjara ini, dengan berkebun, membaca ribuan surat dan kartu pos setiap minggu sekitar satu karung, maupun mengelola klub tinju dalam penjara, hingga dibebaskan pada November 2015.

Pada Februari 2018, Filep Karma ikut menyerahkan penghargaan Oktovianus Pogau kepada Citra Dyah Prastuti dari KBR di Jakarta. Nama penghargaan ini diambil dari nama seorang wartawan Papua, yang juga kenalan baik Karma.

Filep Karma adalah pendukung kebebasan pers, sering protes terhadap pembatasan wartawan independen, buat meliput ke Papua. Perizinan buat wartawan asing, terutama ribet sekali. Pogau dan Karma sama-sama mengusahakan agar akses wartawan asing ke Papua disamakan dengan provinsi lain di Indonesia. Sayang, cita-cita ini belum kesampaian sampai hari ini.

(Tulisan ini diambil dari postingan pada laman facebook @Andreas Harsono)

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

Mama-mama Pedagang Pasar Boswesen Tuntut Bangun Pasar Khusus OAP

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - (Oleh: Yohanis Mambrasar) "Tulisan ini saya buatkan sebagai informasi kepada semua pihak, khususnya para pengambil kebijakan di tingkat daerah...

Darurat Demokrasi! Asrama Mahasiswa Papua di Bali Masih Dikepung

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -  Sejak kemarin (16/11/2022) hingga malam ini (17/11), Mahasiswa Papua yang berada di Asrama Putera Mahasiswa Papua di Bali, masih...

Isi Sambutan Majelis Rakyat Papua Pada Sidang Tahunan UPR UN Geneva 2022

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Selamat Pagi dan Salam Sejahtera (Greetings) Hadirin sekalian yang terhormat, saya senang sekali dengan pertemuan ini dan berterima kasih...

Breaking News: Aparat Kepolisian Hingga Ormas Kepung Asrama Mahasiswa Papua di Bali

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Diinformasikan melalui halaman Facebook Aliansi Mahasiswa Papua-AMP, bahwa sejumlah aparat kepolisian, Intel, Satpol PP dan Ormas sedang mengepung...

Urgent! Aksi BEM Se-Jayapura Direpresif: Tujuh Orang Ditangkap dan Yang Lainnya Luka-luka

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam keterangan yang diterima media ini, aparat gabungan (TNI/Polri) membubarkan, memukul, menangkap serta menembakan gas air mata terhadap...