Untuk Apa TNI/ Polri ?

Oleh: Rosalina Syufi

Pada tanggal 1 Mei 2020, diadakan pertemuan di Kampung Anjai, Distrik Kebar yang melibatkan masyarakat dari berbagai elemen, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat serta  kepala distrik dan kepala kampung se-Kebar Raya bersama dengan TNI-POLRI. Pertemuan akbar tersebut, bertujuan memberikan “hak sepenuhnya kepada anggota TNI-POLRI untuk tangani masyarakat yang kedapatan mabuk di sepanjang Kebar Raya. Jadi, TNI/ Polri ‘memukul’ ataupun ‘menyiksa’ masyarakat terserah.

Menurut saya, para tokoh-tokoh masyarakat seharusnya tidak menyepakati langkah ini, apalagi pada saat ini sudah ada pembangunan Kodim di Tambrauw dan Koramil di Werur, maka ini akan menjadi pintu masuk untuk melakukan penindasan terhadap orang Papua pada umumnya dan terlebih khusus masyarakat Tambrauw dalam berbagai sektor kehidupan.

Nyatanya, satu minggu sebelum pertemuan akbar ini, para TNI telah memukul pemuda-pemuda yang kedapatan mabuk hingga babak belur. Apalagi kalau sudah diberi wewenang bisa-bisa mereka membunuh.

Misalkan para anggotaTNI-POLRI memukul masyarakat yang kedapatan mabuk hingga tewas, otomatis pihak korban tidak akan menyalahkan para anggota TNI/ POLRI, karena mereka telah diberi wewenang, dan yang disalahkan adalah mereka yang tadi memberi kewenangan kepada para TNI-POLRI. Maka, akan terjadi konflik horizontal, mereka akan saling berperang, mengancam bahkan saling membunuh. Hal ini akan menimbulkan dampak negatif yang besar terhadap kehidupan masyarakat Kebar Raya.

Para tokoh masyarakat, seharusnya bisa melihat contoh dari daerah-daerah lain di Papua, yang ada TNI/ POLRI justru daerah itulah yang terjadi konflik, contohnya Nduga. Bahkan hingga sekarang ini, masalah di Nduga belum terselesaikan, masih banyak masyarakat yang mengungsi di hutan karena takut terhadap militer. Berbeda dengan daerah-daerah yang tidak ada militer tetap aman-aman saja.

Inti persoalannya ialah minuman (mabuk). Minum mabuk itu tidak bisa dibantah, tidak bisa dihilangkan atau dipisahkan dengan kehidupan orang Papua. Hal ini telah dilakukan secara turun-temurun semenjak dahulu.

Di sini kami bukan melarang masyarakat untuk bertindak tegas terhadap maraknya minuman keras di Kebar Raya, kami juga ingin supaya hal itu dikurangi karena dengan minuman telah terjadi pembunuhan serta menimbulkan berbagai masalah lainnya. Namun, yang kami tidak inginkan ialah langkah yang digunakan  untuk mencegah atau menguranginya  itu salah! Tidak harus melibatkan TNI/ POLRI, karena kita masyarakat Papua pada umumnya “trauma” terhadap kekerasan yang dilakukan oleh TNI/ POlRI di Wamena, Nduga dan sebagainya. Yang kami inginkan adalah gunakan cara lain untuk mengatasi maraknya kekerasan karena miras di Kebar, tetapi tidak perlu melibatkan TNI/ POLRI.

Contohnya saja baru-baru ini terjadi di Maybrat, masyarakat di Aifat Timur semua mengungsi ke hutan, karena TNI/ POLRI, lalu bagaimana bisa kita di Kebar melibatkan anggota TNI/ POLRI dalam mengatasi masalah miras ?

Berikutnya, mengapa kita harus melibatkan TNI/ POLRI? Jika  kita masih punya “aturan adat” kita masih punya cara lain, kita masih ada kebiasaan masyarakat dulu, bagaimana mereka baku bunuh lalu selesaikan secara adat. Mengapa kita tidak terapkan itu pada saat ini, jika kita serahkan masalah ini ke TNI/ POLRI, itu artinya semua masyarakat di Kebar Raya tidak sanggup mengatasi persoalan itu dengan cara lain.

Perlu untuk diingat! Pesan-pesan moral yang diberikan oleh Nenek Moyang kita, harus dijaga baik-baik dan jadikan itu sebagai bahan edukasi untuk generasi yang akan datang. Agar tidak terulang lagi seperti sekarang ini. (**)

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

2 COMMENTS

  1. saya setuju dengan apa yang telah ditulis oleh media dipta Papua,saya tidak setuju untuk dikasi hak sepenuhnya untuk TNI/POLRI untuk menagani orang orang yg kedapatan mabuk di kebar raya untuk dipukul atau dikasi tahanan,karena TNI/ POLRI ini sangat kejam,saran saya kalau boleh dikebar raya itu banyak dilakukan pendalaman Alkitab ( Sekolah Alkitab}) lebih banyak ,karena lewat hal seperti ini orang akan lebih banyak mengerti kebenaran tentang apa yang dilarang oleh Tuhan dalam Alkitab maka dengan sendirinya mereka akan sadar, karena takut akan Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...