Situs Tutari, Destinasi Wisata Alam Yang Harus Dilestarikan

Setelah tiba di Rumah Megalitik Tutari bersama tim dari Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN), saya juga harus menunggu puluhan mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Jurusan Sosiologi Fisip Uncen yang masih dalam perjalanan. Karena menunggu mereka, maka saya persilahkan tim RUMPUN untuk mendaki terlebih dahulu ke bukit Situs Tutari.

Matahari semakin panas tak menyurutkan semangat tim RUMPUN untuk melangkahkan kaki mereka di jalan menuju ke Situs Tutari. “Musa bawa dong duluan ya ke Situs Tutari,” kata saya kepada Musa salah satu pendamping mahasiswa Kelas Menulis Feature dari RUMPUN.

“Oke siap pak. Bilang dong langsung naik ya, karena ini sudah hampir siang,” katanya sembari membalas.

Saya kemudian harus menunggu beberapa menit para mahasiswa Kesos Fisip Uncen yang masih dalam perjalanan dari perempatan jalan Genyem-Sentani menuju ke Rumah Megalitik Situs Tutari di Kampung Doyo Lama.

“Sudah di mana Ade?” tanya saya melalui melalui telepon genggam kepada, salah satu adik bernama Hanna.

“Kakak kami dalam perjalanan sedikit lagi sudah sampai,” katanya menjawab pertanyaan dari saya melalui telepon genggamnya.

Tak lama menunggu, para mahasiswa Kesos Fisip Uncen tiba menggunakan angkutan umum (taxi) yang ditumpangi tersebut. Terlihat juga dua buah kendaraan roda dua (motor) yang digunakan oleh mereka. Saya kemudian membayar taxi yang ditumpangi dengan harga 50 ribu rupiah.

Sebelum mendaki pembukitan Situs Tutari, saya berpesan kepada semua mahasiswa Kesos Fisip Uncen untuk tidak membawa apapun dalam bentuk apapun di atas situs. “Boleh mengambil gambar atau foto melalui handpone, tetapi benda-benda yang ada di situs tidak boleh dibawa,” kata saya kepada mereka.

Kamipun mulai mendaki secara perlahan-lahan. Panas yang menembus di tubuh kami serasa-rasa tak menyurutkan semangat kami untuk melangkah menuju ke Situs. Kami harus mengikuti tangga-tangga yang telah dibuat sebagai penunjuk arah menuju ke lokasi Situs Tutari.

Kami harus pelan-pelan mendaki bukit sampai ke puncak. Mengingat sebagian besar yang mendaki adalah mahasiswi (perempuan), sehingga harus berhenti sejenak sembari menarik nafas dan mengatur langkah, sembari melangkah menuju tanggah-tanggah yang dibuat untuk mempermudah para pengunjung yang datang ke Situs Tutari.

Sambil mendaki di tengah-tengah, salah satu mahasiswi bernama Hanna mengatakan “coba gendong saya. Saya sudah tidak mampu. Ini kalau turun saya langsung kurus,” katanya bercanda sambil terus mendaki.

“Enak ya yang kurus. Kalau saya sesak nafas,” kata Hanna lagi membandingkan tubuhnya yang terlihat sedikit gendut dengan teman-temannya sambil tertawa.

“Ayo kita foto,” kata saya kepada para mahasiswa Kesos di tengah-tengah tanjakan menuju ke Situs Tutari.

Setelah foto bersama, kami kemudian melangkah secara pelayan-lahan dan akhirnya tiba di atas sektor pertama Situs Tutari. Di sini kami melihat langsung gambar-gambar hewan atau binatang yang ada di batu besar tersebut. “Ayo lihat ada gambar ikan di batu ini,” kata saya membawa mereka untuk melihat ikan yang ada dilukis tersebut.

“Ayo kita lanjutkan perjalanan lagi ke sektor dua sampai sektor enam,” kata saya sambil mengajak kepada mereka.

Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke sektor selanjutnya untuk melihat langsung benda-benda peninggalan prasejarah yang ada. Sambil berjalan kami melihat dari atas ketiggian Situs Tutari terlihat dengan jelas keindahan Danau Sentani dan Bukit Tungkuwiri atau yang dikenal masyarakat sebagai Bukit Teletabies.

“Wauw indah sekali,” kata salah satu mahasiswi kepada kami.

Kami sesekali berhenti dibeberapa pondok yang berada di samping jalan menuju ke setiap sektor yang ada di Situs Tutari. Pondok ini nampaknya membantu kami untuk berteduh sejenak dari panasnya matahari, sembari kami menyapu keringat yang tak henti-henti turun dari kepala ke dahi dan ke leher kami.

“Ayo kita istirahat sejenak di pondok ini, baru kita ke sektor empat,” kata saya kepada mereka.

Setelah beberapa menit beristirahat di pondok. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke sektor empat. Dalam perjalanan kami melihat ada beberapa siswi bersama Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Papua yang juga berprofesi sebagai guru dan dosen, bapak Harjuni Serang bersama Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto berjalan dari atas ke bawah untuk menuju ke sektor empat.

Sambil menyapa, kami langsung ke sektor empat dan melihat langsung gambar berbentuk gelang yang berada di batu tersebut. Gelang ini dilukis secara berbaris dari bawah ke atas. Batu berlukis puluhan gelang ini ditutupi pondok, sehingga terlindungi dari hujan dan panasnya matahari.

“Lukisan gelang di dalam batu ini berjumlah 18 buah. Coba hitung sendiri dan perhatikan baik-baik,” kata bapak Harjuni Serang sambil menunjuk ke arah gelang yang ada di atas batu tersebut.

Bapak Harjuni Herang dan Hari Suroto bersama beberapa siswanya kemudian meninggalkan kami dan melanjutkan perjalanan ke arah bawa untuk menuju ke sektor tiga yang berada di sebelahnya. Kami kemudian melihat-lihat sejenak dan melakukan foto bersama di sektor keempat tersebut.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan untuk melihat langsung batu berbentuk kepala, leher, dan badan manusia yang berjumlah empat buah. Empat buah batu ini ditutupi oleh pondok dan masing-masing batu ini berada berdekatan, sehingga bisa dengan mudah melihatnya. Empat batu berbentuk manusia ini dianggap sebagai kepala perang pada zaman masa pra sejarah dulu.

Di batu ini kami kemudian bertemu dengan para dosen dan mahasiswa dari Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua yang nampak lelah beristirahat sejenak. Mereka sudah terlebih dahulu mendaki. Tidak hanya itu, di tempat yang sama kami bertemu juga dengan para mahasiswa dari RUMPUN yang terlihat sedang bertanya-tanya mengenai makna dari empat batu tersebut.

“Ayo foto di batu ini,” kata saya kepada para mahasiswa Kesos sambil mengarahkan mereka ke salah satu dari empat batu tersebut. Mereka kemudian berdiri dari salah satu batu berbentuk kepala dan leher manusia ini. Saya kemudian memotret mereka menggunakan handpone yang sudah berada di tangan saya tersebut.

Kami kemudian bersama-sama dengan para dosen dan para mahasiswa ISBI Papua dan para mahasiswa dari RUMPUN untuk melanjutkan perjalanan melalui jalan pintas ke sektor enam, lima, dan sektor tiga.

“Ini sektor tiga, tapi kita naik dulu lihat sektor enam baru turun ke bawah lihat sektor lima dan sektor tiga,” kata Hari Suroto menunjuk sektor tiga yang berada di samping kanan jalan.

Kami kemudian bersama-sama naik menuju ke sektor enam. Perjalanan menuju ke sektor enam kami harus sedikit mendaki bukit. Meskipun terlihat cuaca semakin panas dan hari semakin siang. Namun semangat kami tak mengenal lelah untuk mendaki sampai ke sektor enam.

Setelah beberapa menit perjalanan, kami akhirnya tiba di sektor enam. Di sektor ini kami melihat dengan jelas situs berupa batu-batuan berukuran kecil, sedang, sampai besar berdiri tegak dan dibawahnya terlihat batu-batu kecil mengganjalnya.

“Coba diangkat saja batunya. Tidak papa coba diangkat,” kata Bapa Hans Pangkatan, kepada para mahasiswa yang menyelinginya.

Salah satu mahasiswa Kesos bernama Vian Gobay kemudian menerima tantangan dari bapa Hans, untuk mengangkat bantu berukuran besar yang berada di tengah-tengah mereka. Dirinya terlihat mengangkat batu yang berdiri itu menggunakan dua tangannya. Setelah mengangkat beberapa detik, Vian sapaan akrabnya kembali menaru batu tersebut pada posisi semulanya.

“Berat kah tidak tidak? Tanya bapak Hans kepada Vian yang mengangkat batu tersebut.

“Batunya sedikit berat,” kata Vian menjawab pertanyaan dari bapak Hans.

Bapa Hans kemudian bercerita bahwa batu ini pernah dibawah oleh tim dari Jakarta. Karena mereka tidak percaya bahwa batu ini akan kembali ke posisi semulanya. Keesokan harinya mereka melihat bantu yang dibawa tersebut sudah tidak ada.

Ketika tim dari Jakarta menelepon kembali ke kami dan setelah kami cek teryata batu tersebut sudah ada di posisi semulanya.

“Coba diangkat dan bawa pulang. Besok pasti batunya akan kembali ke posisinya semula di Situs Tutari,” ucap bapa Hans seakan-akan menguji nyali kami.

Sektor enam ini merupakan sektor yang paling atas. Dari ketinggian sektor ini bisa terlihat dengan jelas Danau Sentani, mulai dari Sentani Tmur, Sentani Tengah, sampai ke Sentani Barat. Sektor enam ini merupakan sektor terakhir yang menyimpan situs Megalitik Tutari,

Kami kemudian melanjutkan perjalanan turun untuk melihat sektor lima yang sempat terlewati. Di sektor lima ini terlihat dengan jelas batu-batu bulat dengan posisi berbaris dari atas ke bawah. Batu ini memang sengaja di susun sebagai jalan penghubung antara dua alam yang berbeda, yaitu alam manusia dan alam roh yang sudah meninggal.

Terlihat beberapa mahasiswa mulai lelah, sehingga berteduh dari teriknya matahari di bawah pondok yang tak jauh dari sektor lima. Ada beberapa mahasiswa yang ikut melihat dan mengambil gambar di sektor lima. Batu di sektor lima ini sengaja di taru oleh para leluhur sebagai jalan yang menghubungkan dua kehidupan berbeda.

“Sektor lima dan sektor enam ini memiliki nilai religius yang sangat tinggi. Kita ketahui bahwa secara Arkeologi semakin tingginya sebuah tempat, maka semakin sakral tempat tersebut,” kata Hari Suroto menjawab pertanyaan kami.

Cuaca matahari yang semakin panas membuat kami mulai bergegas secara perlahan-lahan mengikuti jalan turun menuju ke sektor tiga. Di sektor tiga kami melihat langsung lukisan hewan atau binatang seperti ikan, kura-kura, biawak yang berada di batu-batu besar.

Tak hanya itu, di sektor tiga ini kami melihat langsung pertunjukan tarian dari mahasiswa ISBI Papua tentang Situs Tutari. Para mahasiswa ISBI ini terlihat membuat tarian yang menyerupai dengan lukisan hewan atau binatang yang berada di Tutari seperti ikan, kura-kura dan biawak.

Sebelum melakukan tarian, terlihat tiga orang mahasiswa ISBI Papua berbadan kosong dan bergambar hewan atau bintang di depan perut dan tubuh mereka telah bersiap-siap, sambil menunggu aba-aba salah satu dosen yang memandu mereka dalam tarian tersebut.

“Ayo siap, tiga, dua, satu on,” kata Surya Dosen ISBI Papua yang bertanggung jawab dalam tarian di atas bukit Situs Tutari tersebut.

Meskipun keringat dengan deras mengalir dari berbagai tubuh, tetapi hal ini tak menyurutkan semangat mahasiswa ISBI Papua untuk menampilkan tarian yang memperkenalkan hewan prasejarah yang dilukis di Situs Tutari tersebut.

Meskipun cuaca panas, tetapi tarian yang ditampilkan ini memberikan hiburan seni tersendiri bagi kami. Tarian ini melengkapi perjalanan kami di atas bukit Situs Tutari. Tarian yang dilakukan ini berlangsung kurang lebih 2 menit lamanya.

Situs Tutari ini memiliki kekhususan yaitu, motif-motif hewan atau binatang yang dilukis di batu-batu besar. Hal inilah yang direspon oleh kami ISBI untuk cermati atau interpretasi baru kemudian di reinterpretasi atau diterjemahkan ulang menurut pemahaman si penari atau konseptor tarian tersebut.

“Kita bisa lihat misalnya mahasiswa menampilkan gerakan sirip ikan, menggerakan kura-kura. Inilah yang direpresentasikan,” kata surya menjawab pertanyaan dari saya.

Usai penampilan tarian yang dilakukan kami pun memberikan aplos (tepuk tangan) sebagai bagian dari apresiasi terhadap karya seni yang dilakukan dalam menampilkan benda-benda prasejarah berupa hewan atau bintang yang ada di Situs Tutari sebagai salah satu karya seni yang luar biasa.

Lantas terdengar suara dari salah satu mahasiswa ISBI yang baru saja menampilkan tarian “pentas sudah selesai, silahkan bayar karcis di depan pintu,” katanya sambil bercanda.

“Kita siap bayar, tetapi setelah itu tidak bisa ada yang keluar pintu,” kata saya membalas bercanda, sembari disambut tertawa oleh para mahasiswa yang ikut menyaksikan penampilan tarian tersebut.

Ini merupakan kali pertama ISBI Papua menampilkan tarian yang menyerupai hewan atau bintang di Situs Tutari. Hal ini merupakan bagian dari mempromosikan Situs Tutari sebagai salah satu destinasi wisata alam di negeri Khenambay Umbay ini.

“Ayo kita turun,” kata Hari Suroto mengajak kami.

Setelah turun kami melewati sektor dua. Di sektor dua hanya terdapat garis-garis panjang dan terdapat batu yang digunakan oleh masyarakat sejak dahulu sebagai tempat duduk untuk mengunting rambut. Bapak Hans terlihat masuk ke dalam sektor dua sambil menunjukkan batu tersebut kepada kami yang berada tak jauh dari lokasi tersebut.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan turun ke bawah sambil beristirahat sejenak di salah satu pondok. Menunggu beberapa mahasiswa dan dosen ISBI yang masih berjalan di belakang kami. Sambil beristirahat beberapa mahasiswa dari Universitas Cenderawasih dan RUMPUN tak menyia-nyatakan kesempatan untuk mengambil foto yang berlatar belakang Danau Sentani.

“Silahkan foto di batu besar yang sana. Bagus sekali kalau foto situ,” kata bapa Hans sambil menunjuk batu tersebut.

Beberapa mahasiswa dari Uncen, RUMPUN, dan ISBI langsung bergerak ke batu besar yang tak jauh dari pondok tempat kami beristirahat. Mereka kemudian melakukan foto secara bergantian. Hampir sebagian besar mahasiswa baru pertama kali datang ke Situs Tutari.

“Wow ini tempat terindah yang ada di Papua,” kata Hanna salah satu mahasiswa dari  mahasiswa Kesos Fisip Uncen yang terdengar jelas di telinga kami yang beristirahat di pondok tersebut.

Hanna bersama-sama dengan teman-temannya memang baru pertama kali datang ke Situs Tutari, sehingga tak heran jika mereka begitu mengagumi keindahan Situs Tutari dan peninggalan pra sejarah yang ada di situs tersebut.

“Ayo teman-teman kita balik,” kata saya sambil memberikan tangan sebagai aba-aba untuk memanggil mahasiswa yang masih terlihat asik mengabadikan momen di atas batu tersebut.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan untuk turun kembali ke tempat parkir motor di bawah. Sambil turun kami melewati sektor satu sambil melihat lagi sebentar lukisan hewan atau bintang di sektor satu.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan turun mengikuti tangga-tangga secara perlahan-lahan sampai tiba dengan selamat di tempat parkir motor. Setelah sampai kami beristirahat sejenak mengatur nafas dan menghilangkan keringat di badan.

Kami kemudian berpisah. Ada yang menggunakan motor pribadi, ada yang ikut menumpang di motor. Situs Tutari menjadi saksi perjalanan kami, menikmati keindahan dan belajar tentang sejarah masa lalu serta melihat langsung peninggalan benda-benda masa lalu di atas Situs Tutari.

Akhirnya, saya ingin mengutip salah satu motto yang populer selalu disebut akan oleh banyak orang bahwa “Kalau Bukan Kitong Siapa Lagi dan Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi”. Oleh karena itu, kalau bukan kitong yang merawat dan memperkenalkan Situs Tutari siapa lagi? Kalau bukan sekarang kitong perkenalkan kapan lagi? Mari jaga Situs Tutari sebagai salah satu tempat destinasi wisata alam di negeri Khenambai Umbai. Pastikan bahwa saya, kamu, dan kita semua harus jaga dan lestarikan Situs Tutari ini.

Penulis: Roberthus Yewen

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

1 COMMENT

  1. Wow keren🤩
    Terimakasih kakak Yewen, yang sudah mengajak kami melihatnya Situs Tuttari sebagai peninggalan sejarah yang sangat istimewa yang ada di daerah Sentani Jayapura.
    Saya secara pribadi banyak dapat pelajaran dari telusuri situs ini, sekali lagi Terimakasih kakak🥰🙏

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...