Birahi Mengelabui Kristianisme, Nasionalisme, Marxisme dan Sosialisme

DIPTAPAPUA.com – Obor Untuk Papua – 

Oleh: Yosep Adii)

  1. Father di Kegelapan Metroglobal

Melawan Kuasa Kegelapan (Pdt. Geradus Adii)

Father, hilang aroma bunga bangsa dihidupi Dewi Pasific telah dipenjarakan Cinta, Rindu dan Kebebasan.

Hilang ayah adalah hilang keberanian nan dikilas juga nama besar keluarga, bangsa dan negara. Dari sekian juta yang dikilas badai bayang-bayang intervensi blok, telah mengancam nasionalisme yang tak berani kehilangan rasa, diakui sebagai bangsa yang mempunyai hak.

Hak kebebasan telah pergi bersama para pendiri bangsa. Bangsa yang diselimuti penyakit sosial di tengah meganya kota metropolitan telah menumbuhkan suburnya kaum oligarki, sosialisme dan kapitalisme global dalam wajah milenial menciptakan Jakarta kita metropolitan sebagai pelengkap kesepian malam.

Kesepian malam yang Jenuh menimbulkan mental yang terpenjara, disuapi tembok-tembok moral bagai tembok Berlin, Yeriko yang kian diretakan tetap harum aroma bunga bangsa tak menghentikan musim sebagai kekuatan lain dalam generasi lain selain melenial adalah rindu tak henti.

Tak henti dalam ruang rindu. Kau masuk menjadi bunga harum, telah menjadi tembok moral suatu massa yang makin menjauh menjadi penyakit sosial, jawaban bagi kaum hedonis. Tak mesti kita berjalan kembali dalam alunan salah yang terus dilawan sebagai batasan pagar adalah kekuatan kristianisme dalam rangkaian jalan sunyi metroglobal yang lupa kapan menjadi bagian kesempurnaan.

Kesempurnaan wibawa yang kita sukai hasil kontemplasi terus luput dari angan-angan yang lain, yang jauh dari suara hati. Mesti direnungkan menyerupai surga buatan manusia tanpa disadari, berhala itu terus dipertahankan walau perusak penciptaan alami surga yang jatuh ke bumi. Hati sanubari manusia hitam bagai benih menutupi jalur sunyi terasa dapat mengembalikan kekuatan mental Nasionalisme dalam membenahi ilusi Kau Dewi Pasific melengkapi jalur Isak Samuel Kijne makin menjulang menutupi ruang rindu di waktu lain makin berbeda di massa yang lain adalah kesempurnaan.

  1. Dewi Pasific di Ketinggian Cartensz (Salju Abadi)

“Dia telah tiada, Khalik bantu aku temukan surga agar sedikit waktu dapat kurasa dia berada di sekitarku, mungkin itu kesempurnaan terindah”

Tak ada yang lain selain ku menemanimu. Memang kau adalah pemantik bunga yang mengharumkan sebentar, ku sirami air agar tetap subur bermekaran Indah. Sayangnya, aku telah menjadi musim tak menghentikan bunga bertumbuh subur walau dipetik, engkau bisa dipetik yang lain, namun tak dengan musim karena musim melekat dengan yang merawatnya, itu tugas mulia. “Hanya salju ditiup angin menjadi embun di ketinggian Cartenz”

Tidak mampu melewati jalur padat karena lampu merah yang tak memberikan sinyal hijau tuk mengambil jalur tol menuju jarak yang tak dekat. Melewati jalur terlarang Gaza menembus serpong sektor 5-9, tak mampu membenarkan hal yang lebih benar dari diriku jika kekurangan dan kelebihan adalah dua bagian yang sama, yang dapat disatukan melalui bicara dulu problem tentu akan ada solusi.

Tabrak abu angin malam telah ilusi yang dihempas kencang tak sampai, jangankan telinga tercipta langit dan bumi hingga rerung terdalam. Mengejar lajunya jarum jam seakan energi lebih kuat darinya, seakan hati lebih kuat dari angin, semoga tak ada tersesat, terhambat dalam kelaparan yang harus ditutupi ketoprak dan nasi goreng lupa pulang.

Tak mampu lagi berpikir mana yang paling logis, didahulukan dan utama, tak menyadari bahwa kami telah atau sedang melawan tujuan utama, berada di Batavia, Legenda diciptakan demi mitos-mitos hayalan ilusi dalam gelabnya malam. Bintang dan bulan ditutupi polusi embun, polusi metropolitan, khazaba elit rasa sempurna dalam ruang sunyi tak ada kesadaran menutupinya.

Lampu merah biru pelangi yang menggoda mem-formulasikan jiwa baru yang lebih menawan, seakan berada di surga yang diimpikan oleh manusia. Sekian ribu tahun lamanya, telah kita temukan dengan dunia baru ini nyata seakan sejarah tak perlu lagi. Ingatan telah tak berdaya hanya karena kita lupa satu kata Maaf yang tak butuh biaya materi, dibutuhkan hanya sadar bicara keterbukaan tuk membenahi legenda yang menjadi mitos.

  1. Gelap Angin Pasific

Kau datang membawaku pulang dengan sentuhan cinta, telah lama melupakan surga yang jatuh ke bumi. Bumi hanya diciptakan tuk dijaga, dirawat dalam perawatan cinta. Bumi, surga kita telah jauh dari cinta. Cinta yang diliputi egoisme global tak menghentikan tahanan lapisan angin pasific.

Angin pasific yang dilahirkan melalui indahnya putih pasir pantai, birunya lautan hijau, dataran lembah berpegunungan. Hijaunya gunung yang kadang indah nan menakutkan dalam barisan pelangi sehabis hujan, dihiasi embun di atas hamparan Es Cartensz. Sesucinya subur penuh kasih, manusia bumi hujan, sesurganya yang jatuh ke bumi pasific melanesia.

Pelangi yang diguncangkan badai kemasan angin pasific terus dinodai, badai Genosida tak henti, tak menghentikan bebasnya cenderawasih yang terbang bebas lalui jutaan hamparan bunga, dedaunan yang kian berjatuhan. Walau tak dosa menetes air mata yang kian, badai itu diselimuti awan gelap menanti hamparan angin pasific.

Hamparan embun terbentang menanti perintah Dewi Cendrawasih pasific, ratu Adil juru kunci mata angin, juga dapat mengarahkan, menemukan birunya dalam ketinggian dialektik yang tak dapat menemukan ujungnya angkasa, tak terhingga planet Mark memandang lautan membahana samudera pasific.

Di balik ribuan jutaan dedaunan yang patah, di bawah kehijauan pepohonan hutan hujan tropis berselimut atmosfer (Kosmogisme) bumi manusia hitam Melanesia.

Di tepian tanaman warga, buah nenas kuning yang memukau dahaga, menahanku terus di tepian angkasa perbukitan, lembah sunyi memandang pasir putih pantai sepanjang samudera, dihibur para pelaut melawan ombak dua samudra bagai tiga kekuatan abad awal tengah dari tepian segitiga Bermuda melingkar ikut memutarkan bumi bagai jurum jam. Di tengah birunya lautan samudera simbol perdamaian membenahi Ilusi dalam rawatan Sekularisme kosmologisme itu KINAMASO (Kiristianisme, Nasionalisme, Marxisme dan Sosialisme membentuk AMA, (Asosiasi Masyarakat Adat). Aliran susu Ibu yang menghidupkan 2022 (Dua Ribu Dua Pulu Dua) awal hari kehidupan Bayi setelah seribu hari awal kehidupan dalam kandungan Ibunda Dewi Cendrawasih membenahi Ilusi melalui air susu Ibu. Keringat dan air mata yang terus melahirkan gagasan memperkuat Entitas Bangsa Melanesia.

Memproses Kandungan Sekularisme Dewi Pasific (KINAMASO)

Pikiran adalah logika atau juga akal, nalar, kosmologisme alam dalam suatu komposisi yang terdiri dari Ide selanjutnya dapat menjadi ideologisme Indrawi. Terdapat sifat, perilaku dan berbagai macam bentuk yang seluruhnya adalah abstrak (tak dapat diraba) jelas bahwa dalam bahasan ini tentang pikiran orang asli Papua, pikiran orang Pasific Melanesia. Pikiran-pikiran orang Papua ini telah dibentuk dari kebiasaan-kebiasaan setiap dekade (Cullture Historis Human Papao-papuaos ). Polanya tentu setiap dekade berbeda tetapi terpisah, tentu jelas, setiap bangsa, baik Mikronesia, Melayu, Polinesia dan atau Melanesia atau entah apa latar belakangnya membentuk alur pikir yang berbeda-beda, begitu juga rakyat asli Papua. Setiap waktu telah sedang mengantarkan rakyat Papua pada satu konsep adalah Nasionalisme Papua.

Konsep Nasionalisme Papua (Ideologi Papua Merdeka) itu proses membentuk, mengandung hingga melahirkan melalui tekanan-tekanan sipil dan militer, tekanan yang menekan emosional mendalam telah merubah pikiran tenang menjadi keras, pikiran menerima menjadi tak menerima, pikiran suka menjadi tak suka, pikiran bersama menjadi perlawanan, pikiran sehat menjadi tak sehat. Semua ini kesederhanaan berpikir yang bergemu-gemu orang asli Papua yang tak bisa dipungkiri, terus tercipta atas tindakan konflik kepentingan berkepanjangan bermuatan fisik dan verbal di setiap dekade dari kekuatan besar atau mengatasnamakan hukum besar (Law Big Superior) dalam mengancam keberadaan hak adat (Bill of Right) dalam kebiasaan-kebiasaan mereka sebagai nelayan, tani dan tukang kayu pada realitas orang asli Papua. Sehingga, Big Superior atau suatu asas ini telah membentuk emotion sugesti pikir orang asli Papua terus-menerus memperkuat Nasionalisme Papua. (Ideologi Papua Merdeka), Orang asli Papua terus mengekspresikan sebagai Hak (Bill Of Right) dan terus dihadang amanat Asas (Law Big Superior) agar dapat diterima sebagai sesuatu yang lebih sempurna tampa memikirkan harkat dan martabat manusia yang mestinya dipahami sebagai konsep kemajuan dalam realitasnya.

Baik, benar, Indah, dan bermartabat adalah sebuah Nilai yang terus dipegang sebagai penentu nasib massa depan rakyat melanesia dalam mencapai realitas (surga) paradaise adalah sterategi, karena dasarnya mereka (orang asli Papua) tak mengenal kekacauan, kebencian, penghinaan dan berbagai macam konflik dalam setiap dekade, sebelum tiga dekade yang lampau. Sterategi mereka kungkin terlalu bodoh ketimbang rakyat africa selatan, kuba dan revolusi berbagai rumpun lain dalam mencapai kemenangan konsep mereka. Dilain tempat mungkin berani membuat amunisi (senjata dan Bom), demi menghancurkan persembunyian Big-Superior tetapi, manusia Papua itu lebih abstrak dalam mengungkapkan sebagai sterategi pencapaian kemenangan.

Sterategi itu, menghasilkan tindakan-tindakan yang baik secara pandangan prinsip moral tetapi, menguatkan Big-Superior lebih leluasa melakukan segala reaksinya sebagai hukum yang berkuasa sehingga kemenangan atas konsep (Nasionalisme Papua) adalah sesuatu mustahil dicapai. Tetapi, tekanan tindakan kongkrit yang lebih tegas berani akan menghancurkan Big-superior.

Pelaksanaan yang lebih keras, berani dan tegas, hilangkan sikap hedonisme (kesenangan), menekan seluruh lapisan demi hancurkan menekan Big-Supperior dan membangun New Big Supperior (Kekuatan Baru yang Besar), adalah Nasionalisme Papua.

Perlu diperjelas bentuk-bentuk konsep, yang diperlukan dalam pembentukan kenegaraan setidak-tidaknya dalam kebutuhan perjuangan yang paling relevan sesuai observasi.

  1. Bersatu adalah Batu (Kristianisme)

Kristianisme adalah suatu “mistika yang diyakini sebagai roh, (Tan Malaka, 1922) sebagaimana diambil dan dipraktekan oleh Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan Cheguavara adalah perjuangan versi Yesus. Yesus adalah toko sepanjang massa dalam Kristianisme yang di Pahami dan diyakini sebagai Juru Selamat.

Nelson Mandela, Mahatma Gandhi dan Cheguavara bukan hanya memahami praktek-praktek orang Kristen tetapi mereka telah betul-betul melepaskan kepentingan hedonisme. Mereka sadar bahwa lawan mereka adalah pelacur penuh kelicikan. Maka, ketulusan, kepolosan sebagai Iman kristiani bahwa penderitaan itu kekuatan. Penderitaan inila pintu perjupaan Yesus, Yesus menyentu mereka sebagai juru selamat Bangsanya. Ini sangat tidak ada dalam perjuangan Papua.

Rakyat akar rumput Papua barat harus menyadari bahwa Yesus siap pakai apabila rakyat berani hidup tampa hedonisme (kesenangan), Tidak terlibat dalam apapun bentuk tawaran Jakarta. Lepas togel, lepas Miras, Lepas Seks, Lepas semua kepentingan Jakarta, paling radikalnya adalah lepas PNS, Lepas Dokter, Lepas Bupati, Lepas DPR, Lepas apapun bentuk dalilnya adalah konsekuensi, agak mustahil. Karena era digital sahabat paling baik adalah hedonisme, Istila paling top dikalangan kami itu “Segala-galanya Uang, Ada uang semua aman. Lain lagi Misalnya UUD “Ujung-Ujung Duit” pada akhirnya rakyat orientasi uang, selanjutnya Perjuangan Orang Kristen Untuk Mencapai Kemenangan Kristen adalah Uang, semua menjadi Hamba Uang. Dalam aktivis money oriente menyebut diplomasi perlu uang. Itu pikiran sesat, harus berhati-hati karena Nasionalisme tampa kristianisme adalah Mati.

  1. Bersama adalah kedaulatan (Nasionalisme)

Apa itu Nasionalisme? Nasionalisme, adalah kehendak bernegara-konsep kenegaraan (Ideologi Papua Merdeka),Esnest Renan: Selanjutnya, itu dicapai bersama (kedaulatan) atas persatuan kristianitas (menderita). orang Papua harus menderita sebagai bangsa Bebas dari Hedonisme. bebas dari maut. membentuk kebersamaan dan mengungkapkan ekspresi sebagai ungkapan Iman. Nasionalisme juga adalah kesadaran membentuk masyarakat modern secara Ilmiah. Bangsa Modern adalah bangsa yang telah merdeka. Jika belum merdeka itu bukan bangsa modern secara hukum modern. Sebagai tatanan rakyat kemajuan peradaban. Bangsa belum merdeka maka peradaban belum maju. Masih dianggap kelas yang perlu diatur artinya semua kepunyaan masyarakat tradisional secara politik dapat diintervensi secara massal. Sehingga, kekuatan dapat dengan mudah memasuki kawasan bangsa belum merdeka. Ini diperlukan tatanan kuat (Marxisme) Marxisme tak mampu jalan tampa nasionalisme dan tidak punya nyawa tampa Kristianisme. Marxisme membutuhkan Nasionalisme (Material Alam membutuhkan Ideologisme) yang hidup adalah Kristianisme.

  1. Bergabung adalah kekuatan (Marxisme)

Marxisme adalah Ilmu tentang Material oleh Karl Marx dibagi menjadi Das Kapital I, II, III. adalah suatu theory sosial yang diciptakan Karl Marx sebagai alat demi mempertahankan hak golongon Miskin, dimana hak-hak kaum miskin diijak-injak oleh para Pemodal (Kapital). Tetapi, karena Agama menjadi alat Kapital maka, Karl Marx menyebut bahwa Agama adalah Candu. Dalam pandangan dangkal dipahami bahwa Karl Marx sebagai ateise artinya pendukung ateise tetapi tidak dipahami bahwa orang tua Karl Marx adalah Orang Kristen. Tetapi, tidak banyak yang pahami bahwa Karl Marx memakai metode Yesus dalam metodenya. Bahkan dia berani menderita sebagai Yesus.

Menjadi dasar bangsa Papua yang kuat dalam sejarahnya nantinya apabila Kristianisme, Nasionalisme dan Marxisme diformulasikan dan dijalankan secara polos dan tulus tampa libatan kepentingan adalah kekuatan terbesar dalam mewujudkan bangsa Beradab dan merdeka secara sosio-politik.

  1. Menyatu adalah Bahagia (Sosialisme)

Sosialisme adalah sama sama senang dan sama-sama susa. kekeliruan jika, kadang dipahami sebagai pisau bermata dua. Tajam ke kanan dan tajam ke kiri. Tetapi, paling baik dalam sosiocullture orang Papua, ini menjadi pandangan yang diperlukan. dalam perjuangan Nasionalisme mesti menjadi power bahwa sama-sama susa dan sama-sama senang adalah bahagia dan puas dalam proses maupun ketika mencapai kemenangan. Ini juga adalah kristianisme tetapi juga sebagai Marxisme. Marxisme itu mengikuti alur manusia juga, Materialisme alam dan segalanya ini mengikuti gerak manusia Papua. Alam hancur kalau manusia menyerah dan diporakporanda. Alam itu mengikuti alur nasionalisme orang Papua. Tetapi, menjadi kekuatan terbesar jika dipahami sebagai ciptaan Tuhan yang dapat membantu manusia hidup.

Akhirnya, Proses pengukuhan kosmologisme Indrawi tentang Kristianisme, Nasionalisme, Marxisme dan Sosialisme, ini menjadi sebua konsep bagi orang Papua karena, ini paling relevan dalam kontekstual orang asli Papua. Penyadara terus dikuhkukan sebagai pelita nasib bangsa West Papua.

  1. Teknoglobal Makin Memenjarakan (KINAMASO)

Hasrat, Era penemuan ekplorasi tengah abad awal ialah kegelapan benih konspirasi. Mula-mula penjarah pemenjarahan ayah dalam maut birahi Metroglobal  mengejar Dewi Fasific, yang kita kenal itu terus merorong kawasan surga bumi fasific. Kegelapan itu tak henti menguasai manusia lain menjadi conkrah hati tuk manusia hitam yang menyembunyikan Ibu Dewi Fasific sebagai tuan penjaga, rawatan kejernihan Diketinggian Cartensz suci bagai salju abadi mengalirkan kejernihan air berkat  kehidupan,  membasmi kaburnya air, membantai kabutnya beton berisi penyakit sosial,  Menyerupai angin membasmi folusi Metroglobal hamparan juruh kunci hak kebebasan bumi surga hijau bumi hitam.

Surga hijau bumi Iklim bebas dalam kegelapan Metroglobal rumput tak sebebas dalam jutaan hari usai perang dingin derita rumput kaum Yahudi akhir fisik birahi tirani Romawi dalam wajah kaum Nasi demi berevolusinya teknoklasi bagai benih teknoglobal menghiasi beton-beton canggih membatasi angin segar fasific Dewi beban berurai derita susu dalam kemasan Cartensz makin digemcam badai mengotori kejernihan yang mengalir congkrah hati dirasupi kegelapan metroglobal demi mengancam pepohonan hijau melengkapi hasratnya pelangi listrik menyuburkan hasrat jangkauan jaringan Iklim bebas samudera segitiga Bermudih melingkar tekanan arus sains dialetic melewati ruang planet mars angkasa menciptakan rambu lampu merah membatasi langka dihibur wanita paduan suara ditepian lumba-lumba diatas beton tangga  bangunan clasic. Debat Gadget Soni Putih tak kunjung temu hanya kepuasan Hormon Dopamine memantau tampilan dunia Maya dedikasi tampilan kota Metroglobal melupakan pembasmian jutaan hektar greenforest minerba berevolusi folusi kejamnya  angin malam menutupi salib diatas bola bumi Gereja Katedral memperkuat Father Yosep Karel Big yang memutuskan tuk menikahi wanita kayu  batu anak ondoafi demi misinya keimanannya bagai sterategis dalam peta Nova Guinea meninggalkan rindu kekasihnya yang ditinggalkan dinegeri kincir angin melengkapi kekuatan Dewi  angin Fasific memutuskan perdebatan Gadget Soni dipegang oleh Father menghadapi Digelapan Metroglobal sebagai beban Moral Tanah SuciMelanesia.

Memutuskan Isi Gadget dipegang Father dalam pertentangan Sosialis Khatolik mendukung nasib bumi hitam New York Agreement menanggung beban moral Bangsa sebagai kekuatan Father Generasi lain di massa lain yang lebih kuat nan sesuci di tepian lereng gunung Cartensz Nova Guinea.

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...