Mendengar Bisikan Angin Malam di Tengah Rimba Papua

Oleh: Josef Matias Teniwut

Derunya angin sore dan malam selalu memancing rasa iba kita untuk mengungkapkan suatu hal, baik secara tersirat maupun tersurat atau secara verbal maupun tertulis. Perasaan yang diungkapkan itu terkadang kita temukan melalui ekspresi raut wajah kita atau gerak mimik tubuh kita atau tindakan konkret lain. Kita hampir setiap saat mengalami dan merasakan hal itu secara langsung bahwa daun dan tumbuhan hijau itu sedang bergoyang. Dan di saat itu pula tubuh kita juga sedang diterpa oleh angin, baik angin di saat hari sore atau angin di saat malam hari. Hembusan angin sore dan malam itu membuat hati kita terus terasa sejuk dan nyaman seperti sedang berada bersama Bapa dan Putera-Nya di Surga. Apakah itu suatu tanda bahagia akan kehadiran kita atau itu tanda-tanda tertentu yang dapat mengungkapkan dan memberikan suatu hal baru kepada kita? Ataukah itu adalah polarisasi suatu kehidupan yang menunjukan ciri khasnya masing-masing?.

Dalam pergumulan hidup kita ketika kita berada di alam yang bebas pasti di saat itu kita akan rasakan dan temukan berbagai pesona alam yang terus menghampiri dan menghiasi hidup kita. Bahkan menggiurkan hati kita untuk terus bertanya dan bergumul tentang semuanya itu. Sehingga muncul juga ada rasa ingin tahu yang mendalam untuk harus pergi ke sana, ke alam yang luas karena di sana kita akan temukan banyak keunikan alam. Dari yang buruk sampai yang baik, tergantung sudut pandang kita masing-masing. Apakah kita pakai konsep iman kita bahwa semua ciptaan ini adalah baik adanya seperti awal penciptaan? Atau apakah kita tetap pakai paham manusia yang terus mengejar dan mementingkan sikap ego yang terus melihat dan memaknai alam sebagai lahan bisnis?. Jika kita pakai sikap kedua yang terelihat lebih mementingkan diri kita tanpa melihat Tuhan sebagai pemeran utama. Maka tidak asing bagi kita jika dikatakan bahwa manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki dan dialami atau dirasakannya. Karena itu manusia akan terus mencari dan mencari sampai kapanpun. Artinya masih terus berlanjut pencariannya hingga ajal menjemput.

Sebagai manusia untuk sampai pada tahap-tahap itu mesti ada perencanaan yang matang dan baik supaya pada saat melakukan suatu traning uji coba dari apa yang telah dipikir dan dicanangkan itu, bisa dapat terlaksana atau terwujud dengan baik sehingga hasil yang diperoleh dari uji coba itu bisa memuaskan. Atau dapat dikatakan bahwa untuk membangun suatu harapan mesti ada pleaning atau tujuan yang jelas supaya semua yang hendak dilakukan bisa berjalan dengan baik sesuai program yang ada tanpa campur aduk.

Dalam kehidupan kita saat ini ada banyak cobaan dan tantangan hidup yang terus kita gumuli. Terlebih khusus berapa bulan terakhir ini kita dilanda penyakit Virus Covid-19 yang sangat mematikan. Karena itu sangat meresahkan hati dan pikir manusia untuk terus berpikir apa saja yang hendak dibuat atau dilakukan supaya manusia bisa bebas dari pandemik Virus Corona tersebut. Ada banyak hal yang dapat dibuat. Salah satu yang buat adalah sosial distancing dengan tujuan supaya lebih mudah untuk memutuskan mata rantai penyakit Covid-19.

Nah, dengan ada sosial distancing maka semua manusia berada di rumahnya atau tempat tinggalnya masing-masing dan melakukan apa saja yang bisa dapat dilakukan. Seperti tempat di mana kita tinggal ada halaman rumah yang luas dan kosong maka boleh untuk menanam apa saja yang boleh dan bisa untuk ditanam. Supaya dalam proses pemulihan ini masih lama maka kita bisa memanen sayur dari hasil kebun itu untuk masak dan makan. Tanpa harus melakukan pembelian di tempat-tempat yang umum atau ramai karena itu akan memperpanjang penularan penyakit virus corona. Sehingga Pemerintah Daerah dan semua masyarakat bisa cepat memutuskan mata rantai penyakit tersebut dan kita bisa kembali melakukan aktifitas seperti sedia kala. Itulah anjuran pemerintah namun tidak semua dari aturan yang dibuat oleh pemerintah dapat dituruti dan dilaksanakan oleh masyarakat akar rumput sampai yang di atas. Semuanya masing-masing mempertahankan egonya dengan mengejar dan mementingkan kepentingan individu atau kelompok.

Saya dan teman-teman yang sebentar disinggung dalam tulisan ini adalah orang yang juga boleh dikatakan taat dan boleh juga dikatakan tidak taat mengikuti aturan yang telah dibuat oleh pemerintah daerah dan masing-masing kampus. Mengapa demikian? Karena kami selalu mementingkan ego kami tanpa melihat nilai kebaikan yang dibuat pemerintah dan seluruh elemen. Namun kami juga pernah menerapkan sosial distancing dalam diri masing-tetapi pada hari-hari terakhir ini kami sudah merasa jenuh dengan keadaan itu sehingga membuat kami untuk harus meninggalkan sikap itu dan membangun sikap baru.

Bertolak pada situasi itu terus mengajak kami untuk harus berpikir apa yang lantas dibuat atau dilakukan untuk mengisi hari-hari hidup yang kosong ini. Karena situasi yang demikian, memicu kami berpikir supaya harus membuat kebun kecil. Apa yang telah kami pikir itu telah direalisasikannya atau diwujudnyatakan dalam kehidupan kami. Bisa saja terlihat digarasi depan dan samping rumah kami. Semuanya telah dibersihkan dan ditanam jenis tumbu-tumbuhan apa saja guna membantu kami di komunitas kecil bila kedepan ketersedian pangan terbatas.

Juga beberapa hari ini kami terus bekerja dan melepaskan tugas yang lain seperti olahraga. Kami lebih menaruh fokus atau perhatian pada bagaimana bisa berkebun dan menanam. Setelah bergumul dengan pertanyaan tersebut maka inilah saatnya kami mulai membabat kebun kecil dan menanamnya. Bibitan  yang kami tanam adalah sayur bayam, sayur gedi, bibitan jagung dan masih ada banyak bibitan lain. Kami menanam semua itu pada sela-sela waktu kosong. Kami juga berpikir apakah hanya sebatas menanam atau ada sesuatu yang lebih dari itu yang bisa dibuat contohnya berburu? Karena munculnya pertanyaan itu maka kami berpikir untuk harus berjalan berburu di hutan yang berjauhan dari pemukimana penduduk supaya di sana kami bisa mendapatkan banyak binatang liar yang bisa kami tembak dan bawa pulang untuk masak di rumah.

Kami berburu hari ini dengan membawa senapan angin dua dan satu parang sabel dan anak panah satu kepala. Kami berburu di tempat yang sangat jauh dari keramaian masyarakat karena kalau dekat wilayah pemukiman masyarakat mungkin sangat sulit untuk mendapatkan binatang liar sehingga sebentar kami pulang pasti tanpa membawa hasil apapun ke rumah.

Mencari binatang liar di hutan yang jauh lebih efektif karena di sana kita bisa lebih cepat menemukan binatang liar apa saja termasuk hewan kus-kus. Kus-kus pun lebih suka ada dan bermain ditempat yang rawa dan sunyi sepi. Kesepian dan kesunyian adalah tempat yang tepat untuk para pemburu mencari binatang liar karena di sanalah mereka akan dan lebih mudah untuk mendapat binatang liar seperti kus-kus dan tikus tanah.

Ide itu muncul maka kami mulai membangun relasi di anatar satu dan yang lain “adik Yosep Matias Teniwut, adik Philip Ronix Wabia dan adik Andreas Andi Wamor. Ketika kami inboks dan chating dengan bahasa yang lugas “sopan” yang biasa dipakai pada kalangan orang Papua. Seperti, mat sing dikx bentar tong bisa jalan berburu kha! dan masih banyak dialektika Papua yang kami pakai untuk mendiskusikan proses ini. Ketika kami mendiskusikan hal itu sudah mencapai pada finish. Kini kami diminta untuk jeda beberapa menit untuk memikirkan semuanya dan pada akhirnya kami putuskan untuk jalan berburu. Karena pembahasaan kami pada berburu maka saya tanyakan sama adik. Adik! Apakah ada senapan angin, senter dan perlengkapan berburu lain? Adik menjawab? Ada, kakak. Ok adik. Kalau begitu besok kita bisa berburu? Adik menjawab, boleh kaka. Ketika semuanya dikomunikasikan dengan baik maka sebagai kakak saya hanya mempertegaskan saja sama adik, bahwa yang masih kurang nanti kakak yang lengkapi “tambah” dan adik menjawab? Ok kakak.

Akhirnya kami putuskan untuk berjalan berburu pada hari senin, 13 April 2020. Kami mulai berburu pada pukul 19.00 WIT bertempat di belakang Gunung Abe[1]. Pada hari ini kami mulai berburu sudah berapa kilo meter ke dalam tetapi senter yang kami gunakan itu rusak “intensitas cahaya yang terpancar berkurang”. Karena itu kami berpikir lagi dan memutuskan bahwa hari ini kami hanya berburu sampai di sini saja nanti besok baru lanjut. Itupun kalau kebutuhan mendasar “senter” yang dibutuhkan sudah ada dan cuaca juga baik seperti hari ini “pertama”.

Maka hari ini tidak bisa menjalankan misi untuk berburu dan kami pun kembali ke rumah masing-masing. Namun sebelum kami turun dari Gunung Abe untuk ke rumah masing-masing. Kami duduk remuk bersama- sama untuk membicarakan dan mencari solusi untuk perjalanan misi pertama yang gagal ini. Apakah besok kami senter lagi atau tidak? Dalam pembicaraan itu kami menyepakati dan memutuskan bahwa besok tanggal, 14 April 2020 kami kembali berpetualang dihutan lagi sampai pagi “sekuat kemampuan kami”.

Kami bergegas dari tempat tinggal masing masing dan bertemu di Gunung Abe pukul 17.00 WIT. Dari jam 17.00 WIT kami mulai duduk merancang strategis dan melihat rute jalan yang sebentar akan kami tempuh. Sambil menunggu jam  dimana para berburu mencari binatang liar. Yaitu jam 19.00 waktu Jayapura atau waktu di mana binatang liar mulai bermain. Karena menunggu berapa jam kemudian maka kami berempat duduk sambil cerita-cerita kembali pengalaman masa kecil di kampung Senopi dan Kebar sambil makan biskuit kegemaran kami berempat yaitu biskuit HATARI dan minum air bermineral “air putih”. HATARI sendiri kami mengartikannya sebagai : Hati yang Tahan Rindu.

Artinya bahwa kami berempat ini adalah berstatus mahasiswa yang berada di Pulau Papua tapi beda daerah dan saat ini kami berempat berasal dari satu daerah di Pulau Papua yang bertempat di Kepala Burung Provinsi Papua Barat dan sekarang datang kuliah di Provinsi Papua, bertempat di Jayapura. Kehadiran kami di sini untuk kuliah dan tugas dari mahasiswa adalah belajar supaya bisa cepat selesai dan kembali ke kampung halaman untuk mengabdi nusa dan bangsa kami yaitu Papua sesuai dengan Profesi kami masing-masing.

Kedatangan kami di sini bukan berarti kami tidak meninggalkan sanak saudara kami, kakak dan adik kami. Tetapi semuanya itu kami kami tinggalkan jauh-jauh di kampung halaman dan kami ke sini untuk mengadu nasib “kuliah” demi kebaikan masa depan kami dimasa mendatang. Karena rindu kami pada keluarga yang bertumbuh pada waktu matahari terbenam dalam benak kami  maka kami ucapakan dan sekaligus titip salam rindu kami ini padamu, sang Matahari yang sedang terbenam di ufuk barat. Semoga engkau menitipkan salam rindu kami ini melalui pancaran sinar cahaya kasihmu kepada mama, bapa, dan adik-adik serta saudari-saudara sekalian dan mengatakan kepada mereka bahwa saat ini kami berempat sedang merindukan mereka yang jauh di sana – di Kampung halaman.

Saat jarum panjang jam tepat pada pukul 12.00 WIT dan jarum pendek jam tepat pada pukul 19.00 WIT maka kini waktu yang di nanti-nantikan kami telah tiba. Kami pun tak tahan lagi untuk harus berputar di situ. Kami mulai bergegas mengayunkan kaki, langkah demi langkah menuju tempat pencarian binatang liar. Tatapan mata kami terus terpancar dan tertuju ke arah di mana cahaya senter hendak dituju karena di situlah kami akan menemukan binatang liar. Di sana kami menemukan banyak keagungan Tuhan yang nyata dalam kehidupan kami.

Kami boleh merasakan segarnya angin malam. Kami boleh menghirup udara yang segar. Kami juga menatap ke atas langit di sana kami menemukan beribu ribu bintang yang bertebaran di angkasa raya, dan masih banyak keanggungan Tuhan lain  yang kami temukan di sana. Semua itu adalah karya Tuhan yang nyata bagi manusia. Maka manusia harus menjaga dan merawatnya tanpa harus meniadakannya dengan semena-menanya atau semaunya. Jika ada tindakan semena-mena dari manusia tanpa mempertimbangkan hakekat dari penciptaan itu maka Tuhan akan pasti marah dan Dia akan memberikan Tulah tersendiri bagi manusia setimpal dengan perbuatannya.

Tuhan memang mengijinkan manusia untuk mengambilnya tetapi mengambil untuk sebatas keperluan saja tanpa harus memborosnya. Seperti yang terlihat pada realitas alam Papua yang sudah dan sedang digarap dan diambil habis-habis tanpa ada sikap ekologis dari para kapitalis.

Sikap memboros atau mengutamakan ketamakan duniawi itu, bukan lagi sikap cinta kepada alam dan cinta kepada Ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat dengan baik. Tetapi itu adalah sikap merusak atau menghancurkan dan itu adalah sikap yang tidak disukai oleh Tuhan sendiri. Yang Tuhan mau bagi kita manusia adalah harus menjaga dan merawatnya. Bila membutuhkan untuk keperluan hidup maka mengambil sebatas keperluan saja dan untuk selebihnya Tuhan marah. Karena sikap seperti memboros dan merusak itu dapat menunjukan kita bahwa kita telah melawan kodrat kita sebagai manusia yang berakal budi dan kehendak bebas untuk mengatur dan menata semua yang diberikan dan dipercayakan Tuhan kepada kita.

Tetapi sayangnya, hampir sebagian besar hutan dibelakang Gunung Abe telah dibakar habis. Kebakaran hutan yang begitu luas membuat banyak pohon-pohon yang terbakar dan banyak hewan liar yang lari semakin jauh ke hutan-hutan yang jauh pula . Bagaimana supaya hutan yang kalanya dilihat rindang dan memberikan rasa aman bagi manusia Papapua bisa terlihat lagi? Salah satu cara yang dibuat selama ini adalah dengan penanaman kembali atau reboisasi. Memang reboisasi adalah solusi yang paling tempat yang selama ini dibuat pemerintah setempat atau para pemerhati ekologis dan sangat bisa! Tetapi untuk mereboisasi atau penghijauan kembali semua pohon-pohon itu agar supaya tumbuh menjadi pohon yang besar dan rindang yang dapat memberikan rasa nyaman bagi manusia dan binatang liar di Papua itu, membutuhkan waktu yang relatif lama. Kadang 50 hingga 70 tahun baru pohon-pohon itu bisa bertumbuh menjadi pohon yang besar dan rindang daunnya.

Tidak ada tempat yang lebih dekat untuk mencari binatang-binatang liar seperti Papua pada tempo dulu. Karena itu manusia yang mau berburu mencari binatang harus bepergian ke tempat yang jauh semalaman atau bermalam-malam dihutan bahkan ada yang berkebun di hutan dan membuat bevak di sana untuk tidur sambil berburu mencari binatang liar apa saja. Tetapi untuk berburu binatang yang biasa-biasa saja maka boleh berburu di sekitar halaman kita. Seperti berburu paniki dll.

Hal ini terbukti bahwa kemarin kami berburu sampai belasan kilo meter kedalam barulah kami menemukan binatang. Binatang yang kami temukan paling pertama adalah Tikus Tanah. Kami temukannya di tempat yang sangat sulit untuk ditembak. Mereka lebih banyak lari dan menyembunyikan diri dari kami atau musuh. Selama berburu pada malam itu kami hanya temukan satu hingga dua binatang liar saja. Ada beberapa binatang yang kami temukan tetapi tetapi sama saja. Artinya bahwa kami bisa menemukannya tetapi hanya sekedar senter saja dan untuk menembak tidak bisa karena mereka sudah berada ditempat yang jauh dan sangat sulit untuk tembak dan juga banyak yang merasa sakit karena sudah banyak pula orang yang pernah berburu dan menembak rekan-rekannya.

Bukan saja tikus tanah tetapi masih ada binatang-binatang liar lain yang juga kami temukan tetapi semirip juga dengan yang dibuat oleh tikus tanah. Seperti kelelawar, soa-soa dan binatang liar lain. Ketika senter mengena pada dirinya mereka akan cepat-cepat menghindar dan melarikan diri ke tempat yang paling aman dan jauh diarea berburu. Seperti lobang kayu, lobang bambo, lobang batu dan lobang tanah. Ini merupakan salah satu cara yang dimiliki oleh binatang liar untuk menyelamatkan nyawanya dari serangan musuh baik manusia maupun sesama hewan liar.

Senter, senter dan senter, kini perjalanan kamipun semakin jauh. Kamipun tak terasa lagi bahwa ini sudah sampai di mana atau tepat di mana saat ini kami berada. Kami hanya menerka bahwa sekarang kami berdiri tepat dipertengahan antar Kamkey atau Abe Lingkaran dan beberapa tempat lain. Setelah itu berapa menit atau jam kemudian kami sudah berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain lagi. Tempat itu berbeda dari tempat yang pertama tetapi semua yang ada ditempat itu semirip dengan tempat sebelumnya. Walaupun ada berbagai persaman dan perbedaan yang nampak dalam perjalanan kami. Tetapi kami tidak takut karena kami yakin bahwa apapun situasinya kami pasti akan selamat. Oh! Tak lupa juga bahwa kedua adik yang bersama-sama dengan saya dan adik Josep itu mempunyai kemampuan yang baik untuk mengatur arah mata angin sehingga disitu mereka berdua tau kalau kami sedang berada di sini dan kami ke sini karena di sana kami akan temukan bevak tempat kami tinggal dan berkebun.

Perjalanan kami semakin jauh dari keramaian. Bunyi kendaraan pun tak lagi menggubris ditelinga kami karena kami sudah jauh dari Kota. Jaringan telkomsel pun sudah hilang sehingga tidak menelpon siapa-siapa. Kami hanya pergunakan hp itu senter Hp-nya   gunakan untuk senter kaki bagi yang tidak memegang senter dan juga untuk foto-foto atau dokumentasi. Karena perjalanan semakin jauh maka disana kami mulai temukan hutan yang pohon-pohon besar. Di sana suasana semakin berbeda. Udara terasa begitu dingin dan segar. Banyak daun-daun pohon dan daun alang-alang dan juga daun tumbuhan hijau lain yang terdengar sedang tertiup angin malam dan memberikan irama tersendiri bagi para penikmat musik tradisional. Banyak burung-burung, binatang-binatang bersiualan malam untuk memuji dan memuliakan serta mengagumkan kebesaran Tuhan. Kami juga turut mengalami dan merasakan situasi yang ada dengan membuat siulan panjang yang menandakan. Bahwa kami juga kagum dengan puji-pujian yang dinyanyikan oleh Ciptaan Tuhan lain. Apakah nyanyian itu adalah roh leluhur Tanah Papua yang telah menyambut kami karena mereka merasa bangga, gembira atas kehadiran kami bersama mereka dan mau bergembira bersama mereka akan hari yang telah mereka lalui itu?

Jawabannya mungkin karena semua Ciptaan Tuhan mempunyai rohnya masing-maing. Dalam antropologi Papua banyak kita belajar tentang mitologi Papua. Selama proses belajar mengajar banyak yang disinggung bahwa semua yang ada dan diciptakan di Pulau Papua ini mempunyai roh dan bukan saja di Papua tapi hampir di seantero nusantara. Karena itu banyak orang tua atau para reluhur kita terdahulu banyak yang menyembah pada pohon dan gua-gua atau tempat di mana mereka meyakini bahwa ada roh di situ. Sehingga pada saat mereka menyembah pasti mereka akan memperoleh sesuatu “berkat”. Seperti penyembahan untuk mendapatkan hasil kebun yang banyak maka itu yang akan mereka dapatkan. Atau mereka hendak meminta kepada roh supaya memberikan mereka kekuatan berburu maka kekuatan berburu itu yang akan mereka terima dari roh leluruhnya.

Melewati gunung-gunung, kali-kali dan tebing-tebing itulah, tujuan kami. Kami tidak mau terus tidur enak ditempat tidur empuk. Kami tidak mau terus untuk duduk dikursi empuk yang hanya menatap satu dengan yang lain dengan ekor mata. Karena kami tau dan sadar bahwa situasi sekarang banyak membutuhkan tindakan nyata dan tindakan itu harus membutuhkan pembiasaan dari sekarang karena tanpa pembiasaan dari sekarang maka ke depan pasti sulit untuk menyesesuaikannya. Oleh karena itu kami mau untuk mengalami dan merasakan secara langsung dari sekarang bagaimana manusia berjuang mencari makan dan minum atau bagaimana manusia berjuang untuk mempertahankan panggilannya baik panggilan sebagai hidup selibat atau sebagai bapak keluarga. Apalagi dalam situasi yang sangat terjepit. Apakah kita bisa mempertahankan panggilan kita masing-masing atau kita harus melepaskan atau menaggalkan panggilan kita lalu pergi mencari yang enak-enak saja? Atau kita harus membangun niat-niat yang tegas untuk melawan cobaan itu?.

Bermenung sejenak dari bagaimana mencari binatang liar. Kami melihat bahwa tidak mudah untuk mendapatkannya. Banyak tantangan dan rintangan yang kami hadapi. Tetapi apa boleh buat! Demi suatu tujuan bersama, demi suatu harapan bersama maka kami terus berjuang. Hal ini semirip dengan bagaimana seorang ibu atau ayah menafkahi hidup kita. Atau bagaimana seorang calon imam atau yang sudah menjadi imam mempertahankan panggilannya sebagai seorang selibat. Disana ada banyak tantangan yang mereka hadapi. Namun demi perut kita terisi, demi pewartaan Kristus bisa sampai pada orang lain maka mereka harus berjuang sampai titik darah penghabisan. Supaya orang-orang itu makan dan minum baik secara rohani maupun jasmani atau menerima pewartaan sabda. Walaupun malam, hujan, longsor dan tantangan yang lain mereka hadapi tetapi mereka tetap berisikeras untuk menerobosnya hingga mewartakannya kabar sukacita dan memberikan mereka makan dan munum baik secra rohani maupun secara jasmani.

Saya merefleksikan bahwa semangat itu yang ada pada diri kami masing-masing. Walaupun perjalanan yang jauh dan membosankan karena belum juga menemukan binatang. Tetapi kami tetap semngat untuk terus berjuang sampai harus mendapatkan hasil. begitu sudah jauh malam dan sedikit lagi waktu jam menuju pagi tetapi kami tetap berjuang hingga mendapatkannya.

Perjalanan kami yang sudah melelahkan, kini ada kabar gembiara yang datang pada saat situasi yang membosankan. Berita gembira itu datang dari adik Andreas Andi Wamor melihat seekor Kus-kus pohon yang sedang tidur terlelap di atas pohon. Ketika lampu senternya mengenai pada kus-kus tersebut maka adik memberikan tanda kepada kami dengan mengeluarkan suranya dan berkata “kamu kamu ada kus-kus”. Pada saat kata-kata itu keluar dari mulut, pada saat itu juga adik memompa senapan anginnya dan menembaknya. Tembakan pertama memberikan syarat kepada kami bahwa kus-kus itu pasti akan mati. Walaupun kelihatan masih bergerak mencari arah untuk melarikan diri. Tetapi kami cepat memompa senapan angin yang kali kedua dan menembaknya tetapi juga belum mati maka kami pompa yang ketiga dan tembak baru kus-kus tersebut mati dan jatuh ke tanah. Kami membawanya ke Bevak pada saat sampai di Bevak adik Philipus Ronix Wabia lanjut senter sementara kami tiga yang lain tetap tinggal di Bevak untuk memasak Kus-kus. Di saat kami bertigas memotong dan memasukannya pada bambu dan meletakannya di Api sambil menjaga. Di situ kami dengar di salah satu tempat dekat tempat tinggal kami bertiga terdengar bunyi senapan angin. Karena terus terdengar bunyinya senapan angin yang berisik di telinga kami bertiga maka saudara Matias mengatakan kepada kami dengan nada canda. “ooo… Pilip ada tembak Kelelawar mati tergantung di atas pohon makanya dia tembak terus menerus seperti itu”. Ketika kami berdua mendengar Matias katakana seperti itu kami juga mengangguk kepala dan mengatakan ia dengan menyetujui pernyataan Matias. Bahwa Ronix sudah menembak Kelelawar dan sekarang mati tergantung di atas pohon.

Sambil membalik sebelah menyebelah sampai 15 menit kemudian baru teman Ronix balik dari tempat berburu lalu kami bertigas bertanya kepada dia “sob senapan bunyi-bunyi terus tadi itu mana binatang yang sob bawa”. Sahut dia “adoh tidak ada yang tertembak karena semuanya berada di tempat yang tersembunyi. Yang tadi kamu dengar bunyi-bunyi itu dia tembak sembarangan saja”.

Setelah Ronix pulang berapa menit kemudian baru makanan yang kami masak itu matang. Karena sudah masak maka kami menariknya dan menaruh di pinggir selang berapa menit kemudian sambil menunggu makanan bambu dingin baru kami membukanya. Pada saat bambunya dingin kami mulai membukanya dan membagikannya dengan menyuruh masing-masing mengambilnya berdasarkan keinginannya. Kami mengambil dan memakannya juga berdasarkan selera kami masing-masing. Tanpa ada perasaan malu atau perasaan minder dan lainnya karena kami ini semua sama saja secitra dengan Allah. Jadi semuanya sama saja sehingga apapun yang ada kami syukurinya dan dinikmatinya dengan penuh rasa syukur.

Namun di saat kami makan tidak ada ubi, beras dan pisang yang kami bawa.  Yang kami bawa pada saat itu hanya roti bakar dengan biskuit HATARI “Hati yang Tahan Rindu”. Karena hanya jenis makanan itu saja yang kami bawa maka di saat kami makan daging sodanya itu adalah makan dengan roti dan biskuti Hati Tahan Rindu. Itu saja yang kami makan dengan Kus-kus selama sahari di hutan.

Selesai makan kami langsung ke salah satu kali kecil yang berdekatan di situ kami mencuci tangan, mencuci mulut dan minum lalu kembali ke Bevak dan tidur sampai pagi. Pada saat pagi saya bangun lebih awal dan membangunkan adik bertiga dan menyuruh mereka untuk meraut muka dan juga menyimpan barang-barang yang hendak dibawa pulang. Setelah kami menyimpan lalu kami kembali ke Kota tiba jam pukul 07:15 WIT atau jam tujuh lewat lima belas menit waktu Indonesia Timur. (**) 

[1] Gunung Abe adalah nama tempat di Kota Jayapura

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...