Mama dan Bapa Pu Hasil Keringat Habis di Botol Vodca

Oleh: Kam

Sesuai judulnya, hal ini penulis sangat rasa prihatin untuk kita generasi muda Papua. Penulis juga bagian dari peserta judul di atas, hanya saja penulis ini peminum bukan pemabuk.

Di Papua Barat, ada salah satu kampung yang terletak di Kabupaten Tambrauw. Di situ ada keluarga sederhana yang menjalani kehidupannya dengan keterbatasan dan sesuai kebutuhan yang ada, keluarga itu ialah Karel, bapak dan mamanya. Keluarga Karel sangat harmonis dan bijaksana.

Karel adalah anak satu-satunya yang dalam keluarga; anak sulung. Kehidupan Karel banyak habiskan di kampung bersama alam sekitar: dia bawa anjing berburu babi, rusa; dia pasang jerat dan ketapel burung. Tidak hanya itu, Karel juga bantu bapak dan mama kerja kebun, ikat pagar dan lakukan pekerjaan lainnya. Pekerjaan ini tidak pernah luput dari Karel semenjak sekolah dasar (SD) sampai Ia lanjut di sekolah menengah atas (SMA) di Manokwari.

Pada suatu ketika Karel selesai tamat SMA, Ia pulang ke kampung sampaikan kepada bapak dan mamanya untuk lanjut kuliah, tapi tidak tahu kuliah di mana nantinya. Karena waktu masih sekolah banyak teman-temannya yang menceritakan fasilitas di kampus dan kondisi sosial yang di luar Tanah Papua sangat bagus, sehingga tanpa pikir panjang-lebar lagi, Karel memilih untuk kuliah di Bandung, Jawa barat.

“Bapa dan Mama, tong sudah dengar kelulusan, sa mau lanjut kuliah”, tutur Karel.

“Ko mau jalan pigi kuliah di mana, anak?”, tanya kedua orang tuanya.

“Bapa dan Mama, sa mau pigi kuliah di luar Papua; di Bandung, Jawa Barat. Sa kuliah di sana karena kampus dan tempat bagus, terus sa pu teman-teman banyak yang mau kuliah di sana juga”, terang Karel.

Karena penjelasan begitu dan itu bentuk keinginan dari seorang anak, maka orang tua menyetujui permintaan dari Karel. Dan beberapa hari kemudian, bapaknya antar Karel ke Manokwari untuk lanjut ke kota studi nantinya.

“Iyo.. sudah, ko siapkan barang-barang”, jawab orang tua dengan setuju.

Sebelum Karel berangkat, Ia dinasehati oleh orang tuanya mengenai manfaat dan pentingnya pendidikan untuk masa depan.

“Anak, ko jalan ke sana sekolah baik-baik. Ko jaga kesehatan baik, banyak belajar dan jangan lupa untuk berdoa ee.!,” Pesan orang tua Karel.

Pada hari Kamis, pukul 11:30 WIT, Karel dengan ayahnya tujuan Bandar Udara Rendani, Manokwari, Papua Barat. Sebelum Karel berangkat, Ia pamitan dengan bapaknya.

“Karel! Ko jangan lupa nasihat pesan Bapa dan Mama ee..!” pinta ayahnya.

“Iyo, Bapa. Bapa, bilang Mama jangan jalan ke kebun sendiri-sendiri nanti suanggi toki”, balas Karel dengan pesan.

Akhirnya, Karel pun berpisah dengan orang tuanya tujuan tanah rantau Untuk menuntut ilmu yang baik dan bermanfaat, agar pulang membahagiakan orang tua dan bangun negerinya. Harapan ayah dan ibu sangat besar untuk buah hatinya yang kelak menjadi orang sukses.

Sesampainya Karel di sana, Ia menyewa kos-kosan dan mendaftar di kampus yang nanti kuliah, dengan sedikit uang yang diberikan bapa dan mamanya. Pada awal sampai, Karel sangat bingung dan rasa asing terhadap kondisi sosial kota kembang api itu, tapi karena sudah ada teman dan lama-kelamaan Ia sudah terbiasa untuk beradaptasi terhadap lingkungan sekitar.

Tiga bulan awal semuanya berjalan lancar. Semua aktivitas proses untuk belajar mengalir seperti biasanya. Setiap Minggu Karel selalu teleponan dengan orang tuanya untuk saling tanya kabar.

“Hallo! Bapa dan Mama kam pu kabar bagaimana? Terus sa punya anjing masih ada k su mati?”, tanya Karel.

“Hallo juga, tong dua pu kabar baik selalu. Ko Anjing juga masih ada ini. Ko sendiri pu kabar bagaimana dan ko pu sekolah bagaimana?” jawabnya dengan tanya balik.

“Sa pu kabar juga baik saja. Semuanya aman! Uang yang kemarin sa sudah bayar barang di kampus, dan lainnya masih simpan ini”, jelas Karel.

Semuanya berjalan baik untuk aktivitas Karel, dan orang tua juga sangat senang kalau dengan informasi demikian.Tapi sayangnya, satu kemudian Karel tidak lagi memegang teguh prinsip dan nasihat serta pesan dari orang tuanya. Semuanya berubah sungguh drastis, karena pengaruh dari teman-temannya yang sudah bersahabatan dengan mabok dan memakai obat terlarang lainnya, dan Karel sendiri tidak sanggup untuk menahan godaan ini. Di sinilah Karel mulai tahu minum mabuk, dan Ia melupakan tujuan utama yang Ia datang dari tempat jauh tinggalkan bapak dan mamanya di kampung.

Semenjak Karel kenal apa itu botol Vodca, semua harapan dari orang tuanya kini sirna. Semua uang yang dikirim dari kampung oleh orang tuanya, Karel beralasan untuk keperluan di kampus. Padahal, Ia selalu habiskan dengan miras dan bersenang-senang dengan teman-teman di diskotik. Karel sudah tidak ingat kalau orang tuanya adalah status keluarga sederhana; kurang berada. Ia tidak lagi sadar kalau uang ini adalah hasil keringat jerih payah orang tua dari hasil kebun dan berburu, bukan tiap bulan tunggu amplop masuk.

Faktor selalu konsumsi Miras pada akhirnya Karel jatuh sakit berat. Ia sakit paru-paru; sulit untuk bernafas dan jantung luka. Karel sudah tidak bisa tahan kesakitan itu dengan kondisi di kota besar yang semuanya serba uang begini, dan karena sakit yang sudah berat, pada akhirnya Ia dikirimkan untuk pulang ke Papua. Sesampainya Karel di Papua, Ia dijemput oleh orang tuanya dengan kondisi kesehatan Karel yang ada. Tidak lama kemudian Karel menghembuskan napas terakhir tanpa ada pesan dan kesan yang menarik untuk orang tua.

Sekian !

Catatan: Untuk masalah miras, di era dewasa ini kita orang Papua (pemuda/ pelajar) sudah jadikan sebagai tradisi yang tak dipisahkan. Dalam tulisan di atas, itu bentuk teguran untuk semua pelajar yang ada di dalam Papua maupun di luar, agar saling menjaga dan mengingatkan dampak dari minuman alkohol. Sayangilah orang tuamu, sayangilah dirimu sendiri dan cintailah masa depanmu, maka hindari miras. Karena jumlah kematian orang Papua ini meningkat, itu hampir sebagian besar karena konsumsi miras.

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

PUISI: Papua yang Hilang

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Namaku Papua! Aku yang mungkin lupa diucapkan oleh aksara dan rasa! Aku yang mungkin lupa ditulis oleh kamus-kamus penderita! Aku yang mungkin...

Berusia 44 Tahun, IPMAPA Malang Diharapkan Jadi Rumah Bersama

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Dalam perayaan usianya yang ke-44 Tahun, Organisasi Persatuan Orang Papua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di Kota Malang...

Pentas Seni Dalam Rangka HUT IPMAPA Malang, Beberapa Tradisi Papua Ditampilkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Kota Malang, dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang menampilkan...

Perayaan HUT IPMAPA Malang, Diawali dengan Seminar

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Perayaan Hari Ulang Tahun Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang yang ke-44 Tahun, dimulai dengan kegiatan Seminar yang...

Mahasiswa Mimika di Kota Malang Tuntut Pemda Mimika dan YPMAK Tanggung Jawab Masalah Pendidikan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Mahasiswa Mimika yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Kordinator Wilayah Kota Malang, menyikapi persoalan pendidikan...