22.7 C
Special Region of Papua
Sunday, June 13, 2021

Nasib Mahasiswa Papua di Mataram Luput Dari Mata Pemerintah

diptapapua.com, MATARAM- Ikatan Mahasiwa Papua (IMAPA) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan sebuah ikatan yang tergabung dari dua provinsi, yaitu Papua dan Papua Barat. Hingga kini jumlah mahasiwa Papua dan Papua Barat di Mataram, berjumlah 60 orang. Namun, semenjak 2012 hingga detik ini, mereka tidak memiliki asrama atau tempat tinggal yang permanen. Hal itu disampaikan oleh ketua IMAPA Mataram, Dedy Solly Yesnath, saat dikonfirmasi redaksi diptapapua.com, minggu (3/5).

Bencana demi bencana atau musibah yang kini menimpa dunia, mahasiswa Papua dari dua provinsi (Papua dan Papua Barat) di Mataram, NTB mengaku tidak pernah mendapat bantuan atau perhatian dari pemerintah terutama Provinsi Papua dan Papua Barat. Apalagi di NTB merupakan Provinsi dengan urutan ke-7 penyebaran Virus Corona di Indonesia.

Hal itu dipertegas oleh ketua Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) Mataram, Dedy Solly Yesnath, dirinya mengaku bahwa dari berbagai bencana yang melanda mereka hingga kini Covid-19, tidak pernah mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah provinsi Papua dan Papua Barat.

“Dalam beberapa tahun belakangan ini, kami dilanda berbagai macam musibah di antaranya; gempa bumi di NTB tahun 2018, masalah rasissme di Surabaya tahun 2019 dan Covid-19 tahun 2020 yang kita alami bersama saat ini, dari semua musibah itu kami sama sekali tidak mendapatkan perhatian atau pendekatan kemanusiaan dari pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat,” tutur ketua IMAPA Mataram. (3/5)

Seperti yang diumumkan di akun instagram resmi Provinsi Papua (pemprovpapua) bahwa dana yang diberikan kapada 17 Asrama di luar pulau jawa sebanyak Rp.50 juta (30/4/2020). Sedangkan, Dedy selaku ketua IMAPA Mataram mengatakan bahwa hingga saat ini mereka (mahasiswa Papua di Mataram) belum mendapatkan apapun dari Pemerintah Provinsi Papua. Halnya Provinsi Papua Barat yang melakukan pertemuan dengan meminta daftar nama mahasiswa dari tiap kota study, terkait bantuan kepada mahasiswa dalam menghadapi Covid-19, namun hingga saat ini belum ada kepastian.

“Hanya sebatas wacana tanpa aksi nyata kepada kami,” tegas Dedy kepada media ini.

Ketua IMAPA Mataram ini mengatakan, sebagai mahasiwa yang merantau pasti memiliki banyak kekurangan dalam menghadapi berbagai bencana yang menimpa hingga kini Covid-19 yang menyebar di seluruh dunia. Kondisi itu membuat mereka kesusahan seperti biaya hidup, tempat tinggal dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.

“Sebagai Mahasiswa perantau kita semua mengalami  banyak sekali kendala dalam menghadapi musibah yang datang silih berganti seperti, biaya hidup, tempat tinggal, kebutuhan pokok serta dalam beraktivitas sehari-hari,” kata Dedy, mahasiswa asal Papua Barat ini.

Dengan melihat kondisi itu, terutama tidak adanya perhatian yang serius dari pemerintah provinsi (Pemprov) Papua dan Papua barat, mahasiswa Papua di Mataram meminta agar kedua provinsi (Papua dan Papua Barat) dapat mengindahkan tuntutan berikut ini.

  1. Meminta bantuan hidup dari Gubernur Papua dan Papua Barat berupa sembako dan alat pelindung diri (APD) dalam menghadapi pandemic ini.
  2. Meminta Gubernur Papua dan Papua Barat membangun asrama Papua di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dedy menegaskan lagi bahwa Pemprov Papua dan Papua Barat jangan menganggap mereka sebagai ‘anak tiri’. Ia mengatakan, selama ini bantuan hanya diberikan kepada mahasiswa di kota study yang memiliki asrama, oleh sebab itu ia meminta agar Pemprov Papua dan Papua Barat dapat memberikan asrama yang layak kepada mereka.

“Kami harap pemerintah Provinsi  Papua dan Papua Barat jangan menjadikan kami sebagai anak tiri, karena kami melihat realita yang  terjadi, bantuan hanya  dikhususkan kepada  kota study yang mempunyai asrama Papua,  maka kami mahasiswa papua di Nusa Tenggara Barat meminta perhatian khusus dari kedua provinsi agar dapat membangun asrama permanen di Mataram NTB,” beber Dedy Solly Yesnath saat diwawancarai via WhatsApp.

“Jika memang generasi Papua ada di tangan kami yahhh pemerintah harus perhatikan,” tutup Dedy.

Salam Papua  “Sa dan Ko Papua, Trada Ko Tra Rame”

(N/F : maxi)

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

Jubir TPNPB-OPM Perintah Warga Sipil Imigran Agar Segera Meninggalkan Daerah Konflik Bersenjata

DIPTAPAPUA - Obor Untuk Papua - Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (Jubir TPNPB-OPM), Sebby Sambom mengeluarkan peringatan keras...

Bupati Tambrauw Menandatangani SK Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat Marga Tafi Suku Miyah

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Bertepatan dengan hari lingkungan hidup pada 5 Juni 2021, Bupati Tambrauw, Gabriel Asem menandatangani surat keputusan (SK) Penetapan...

Kontak Senjata di Ilaga, Tiga Warga Ditembak Mati dan Tiga Lainnya Terluka

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Pasukan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan Aparat gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali melakukan kontak senjata...

AMP & Pembebasan Kupang: Bebaskan Victor Yeimo dan Tolak Otsus Jilid II Papua

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua -  Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Kupang dan Pembebasan Kolektif Kota Kupang mengeluarkan tujuh (7) tuntutan merespon situasi di Tanah...

Orang Papua Kota Malang Mengecam Keras Tindakan Kelompok yang Menyerang serta Merusak Sekretariat IPMAPA

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Orang Papua Kota Malang yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA), mengecam keras penyerangan dan pengrusakan...