22.6 C
Special Region of Papua
Friday, September 17, 2021

Nasib Mahasiswa Papua di Mataram Luput Dari Mata Pemerintah

diptapapua.com, MATARAM- Ikatan Mahasiwa Papua (IMAPA) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan sebuah ikatan yang tergabung dari dua provinsi, yaitu Papua dan Papua Barat. Hingga kini jumlah mahasiwa Papua dan Papua Barat di Mataram, berjumlah 60 orang. Namun, semenjak 2012 hingga detik ini, mereka tidak memiliki asrama atau tempat tinggal yang permanen. Hal itu disampaikan oleh ketua IMAPA Mataram, Dedy Solly Yesnath, saat dikonfirmasi redaksi diptapapua.com, minggu (3/5).

Bencana demi bencana atau musibah yang kini menimpa dunia, mahasiswa Papua dari dua provinsi (Papua dan Papua Barat) di Mataram, NTB mengaku tidak pernah mendapat bantuan atau perhatian dari pemerintah terutama Provinsi Papua dan Papua Barat. Apalagi di NTB merupakan Provinsi dengan urutan ke-7 penyebaran Virus Corona di Indonesia.

Hal itu dipertegas oleh ketua Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) Mataram, Dedy Solly Yesnath, dirinya mengaku bahwa dari berbagai bencana yang melanda mereka hingga kini Covid-19, tidak pernah mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah provinsi Papua dan Papua Barat.

“Dalam beberapa tahun belakangan ini, kami dilanda berbagai macam musibah di antaranya; gempa bumi di NTB tahun 2018, masalah rasissme di Surabaya tahun 2019 dan Covid-19 tahun 2020 yang kita alami bersama saat ini, dari semua musibah itu kami sama sekali tidak mendapatkan perhatian atau pendekatan kemanusiaan dari pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat,” tutur ketua IMAPA Mataram. (3/5)

Seperti yang diumumkan di akun instagram resmi Provinsi Papua (pemprovpapua) bahwa dana yang diberikan kapada 17 Asrama di luar pulau jawa sebanyak Rp.50 juta (30/4/2020). Sedangkan, Dedy selaku ketua IMAPA Mataram mengatakan bahwa hingga saat ini mereka (mahasiswa Papua di Mataram) belum mendapatkan apapun dari Pemerintah Provinsi Papua. Halnya Provinsi Papua Barat yang melakukan pertemuan dengan meminta daftar nama mahasiswa dari tiap kota study, terkait bantuan kepada mahasiswa dalam menghadapi Covid-19, namun hingga saat ini belum ada kepastian.

“Hanya sebatas wacana tanpa aksi nyata kepada kami,” tegas Dedy kepada media ini.

Ketua IMAPA Mataram ini mengatakan, sebagai mahasiwa yang merantau pasti memiliki banyak kekurangan dalam menghadapi berbagai bencana yang menimpa hingga kini Covid-19 yang menyebar di seluruh dunia. Kondisi itu membuat mereka kesusahan seperti biaya hidup, tempat tinggal dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.

“Sebagai Mahasiswa perantau kita semua mengalami  banyak sekali kendala dalam menghadapi musibah yang datang silih berganti seperti, biaya hidup, tempat tinggal, kebutuhan pokok serta dalam beraktivitas sehari-hari,” kata Dedy, mahasiswa asal Papua Barat ini.

Dengan melihat kondisi itu, terutama tidak adanya perhatian yang serius dari pemerintah provinsi (Pemprov) Papua dan Papua barat, mahasiswa Papua di Mataram meminta agar kedua provinsi (Papua dan Papua Barat) dapat mengindahkan tuntutan berikut ini.

  1. Meminta bantuan hidup dari Gubernur Papua dan Papua Barat berupa sembako dan alat pelindung diri (APD) dalam menghadapi pandemic ini.
  2. Meminta Gubernur Papua dan Papua Barat membangun asrama Papua di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dedy menegaskan lagi bahwa Pemprov Papua dan Papua Barat jangan menganggap mereka sebagai ‘anak tiri’. Ia mengatakan, selama ini bantuan hanya diberikan kepada mahasiswa di kota study yang memiliki asrama, oleh sebab itu ia meminta agar Pemprov Papua dan Papua Barat dapat memberikan asrama yang layak kepada mereka.

“Kami harap pemerintah Provinsi  Papua dan Papua Barat jangan menjadikan kami sebagai anak tiri, karena kami melihat realita yang  terjadi, bantuan hanya  dikhususkan kepada  kota study yang mempunyai asrama Papua,  maka kami mahasiswa papua di Nusa Tenggara Barat meminta perhatian khusus dari kedua provinsi agar dapat membangun asrama permanen di Mataram NTB,” beber Dedy Solly Yesnath saat diwawancarai via WhatsApp.

“Jika memang generasi Papua ada di tangan kami yahhh pemerintah harus perhatikan,” tutup Dedy.

Salam Papua  “Sa dan Ko Papua, Trada Ko Tra Rame”

(N/F : maxi)

"Obor Untuk Papua"

Related Articles

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

Seribu Cerita Terukir dan Perjalanan itu Akan Dilanjutkan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Oleh: Rudi Wonda)* Ap Nayigin... Yang terlahir dalam fase Kolonialisme Indonesia adalah, Mereka yang telah merasakan Penindasan dari dalam kandungan ibu...

Tamparan Keras Lagu “Bawa Dia” Terhadap Martabat Perempuan

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Oleh: Maksimus Syufi)* Awalnya, sa anggap sepenggal lirik di lagu “Bawa Dia” yang dinyanyikan oleh beberapa rapper Papua itu,...

Mahasiswa Papua: Segera Tarik dan Hentikan Operasi Militer di Wilayah Maybrat

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Sejak penyerangan pos koramil di Kisor, Aifat Selatan pada Kamis (2/9/2021) yang menyebabkan empat anggota TNI terbunuh itu,...

19 Kampung Mengungsi Pasca Pembunuhan 4 Anggota TNI di Maybrat

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Sedikitnya ada 19 Kampung dari 6 Distrik di Kabupaten Maybrat yang mengungsi akibat operasi militer pasca penyerangan Pos...

Presidium Germas PMKRI Jayapura Minta Pemerintah Serius Tangani Persoalan di Maybrat

DIPTAPAPUA.com - Obor Untuk Papua - Terkait dengan penyerangan Posramil Kisor, Aifat Selatan dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang menyebabkan 4 angoota...